Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
KOALISI Indonesia Maju (KIM) sejak awal telah berkomitmen untuk tetap bersatu dalam pilpres dan pilkada. Komitmen ini semakin kuat saat pilpres dan berhasil menjadikan Prabowo Subianto sebagai presiden terpilih.
Wakil Ketua Umum PAN Viva Yoga Mauladi saat dihubungi menerangkan tetap bersatunya partai-partai dalam KIM merupakan cita-cita awal namun hal tersebut tidak bisa dipaksakan dalam pilkada karena pilihan berbeda.
"Paska pilpres kami di KIM tetap inginkan agar bisa bersatu dan bergabung di koalisi pilkada. Itu kan cita-cita awalnya begitu. Tapi bagi PAN menyadari bahwa di daerah memiliki geopolitik, geo ekonomi, sosial yang khas maka konfigurasi politik nasional ada yan sama dan ada yang berbeda konfigurasi daerah," terangnya, Jumat (26/7).
Baca juga : PAN Tetap Ajukan Zita Anjani untuk Pilkada Jakarta
Perbedaan konfigurasi politik daerah dengan pusat disadari oleh semua partai politik tidak hanya partai politik yang berada di KIM. Sehingga butuh aksi dan formula untuk memperkuat.
"Ini dirasakan oleh semua parpol dan oleh karena konfigurasi nasional berbeda sama daerah maka kita perkuat. Tapi jika ada yang berbeda maka harus memahami, menghormati keputusan masing-masing," ungkapnya.
Viva yang merespon pernyataan politisi partai Golkar Idrus Marham yang menyebut ada gesekan di internal KIM, disebut tidak benar. Perbedaan pilihan yang akan disorong dalam pilkada adalah wajar.
Baca juga : Empat Parpol Dukung Petahana di Pilkada Temanggung
"Di Jawa Timur sama, Jawa Tengah relatif sama. Banten, Sumbar tidak sama. Jadi secara natural saja kalau ada perbedaan konfigurasi daerah yang tidak sama untuk saling memahami. Gesekan itu tidak ada karena kita ingin diskusikan secara objektif dan transparan dan akal sehat," cetusnya.
Peneliti Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Nicky Fahrizal mengemukakan pendapatnya terkait perbedaan konseptual partai politik di KIM.
"Prabowo punya program makan bergizi maka dia butuh kepala daerah yang senafas sama dia. Karena realitas di daerah berbeda," ucapnya.
Baca juga : Bawaslu belum Dapat Tindak Baliho Pilkada 2024
Menurutnya bersatunya parpol dalam koalisi di pilpres tidak sama dengan koalisi untuk pilkada. Sebab selain dinamika partai di daerah berbeda KIM sejak awal didesain untuk pilpres.
"KIM ini dibuat untuk menyokong pilpres, desainnya untuk pilpres. Kalau di pilkada berbeda dan belum tentu efektif untuk sokong pilkada. KIM juga riskan karena di dalamnya adalah partai pemain besar. Tidak mungkin kemudian Prabowo mengajarkan hal-hal dasar," paparnya.
Meski sebagai partai pemenang pilpres namun Gerindra tidak bisa menjadi penentu satu-satunya. Sebab partai lain seperti partai Golkar memiliki pengaruh besar salah satunya di Jawa Barat.
"Seperti golkar punya kekuatan di Jawa Barat maka tidak mungkin dia tidak memasang orang"
KIM seharusnya menemukan konsensus dalam koalisi untuk pilkada dengan komunikasi politik intens dan maraton.
"Memang itu tidak mudah dengan waktu mepet komunikasi politiknya harus maraton. Walau pemenang tetap harus memperhitungkan parpol lain salah satunya golkar," tukasnya.
Sebelumnya Ketua Dewan Pembina Badan Pemenangan Pemilu (Bappilu) Partai Golkar, Idrus Marham mengakui ada gesekan di internal Koalisi Indonesia Maju (KIM) soal siapa yang hendak diusung di pilkada. Sebab, masing-masing partai politik memiliki sosok yang ingin diusung. Namun gesekan itu, menurutnya, justru dikehendaki oleh presiden terpilih sekaligus Ketua Umum Partai Gerindra, Prabowo Subianto. (Sru/Z-7)
DOSEN Departemen Politik dan Pemerintahan Fisipol UGM, Dr. Mada Sukmajati menilai, argumen Pilkada melalui DPRD atau Pilkada tidak langsung masih perlu didukung data ilmiah.
WAKIL Ketua DPR RI, Sufmi Dasco Ahmad, menegaskan bahwa DPR RI bersama Pemerintah telah sepakat tidak melakukan revisi UU Pilkada, Pilkada tetap langsung tak melalui DPRD.
WAKIL Ketua DPR RI, Sufmi Dasco Ahmad mengatakan penerapan pemungutan suara elektronik atau e-voting dalam pelaksanaan pilkada dapat menghemat anggaran secara signifikan.
Perludem menilai rencana DPR membahas terpisah revisi Undang-Undang Pemilu dan Undang-Undang Pilkada kemunduran demokrasi.
PKS tidak terjebak dalam logika biner antara pilkada langsung atau tidak langsung, melainkan mendorong adanya evaluasi yang berbasis data.
PDI Perjuangan berupaya menekan biaya politik melalui semangat gotong royong dan aturan internal partai.
Ketua Komisi II DPR RI Rifqinizamy Karsayuda memastikan mekanisme pemilihan presiden dan wakil presiden (Pilpres) tetap dilakukan secara langsung oleh rakyat.
Keputusan Prabowo memberikan amnesti pada Hasto Kristiyanto dan abolisi pada Tom Lembong harus dibaca menggunakan asumsi yang tepat
Indonesia telah memiliki pemimpin nasional dari berbagai latar belakang, mulai dari militer (TNI) hingga sipil, tetapi belum ada yang berasal dari korps kepolisian.
Core memprediksi pertumbuhan ekonomi di kuartal I 2025 akan lebih rendah jika dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi pada kuartal I 2024.
Pemilu serentak nasional terdiri atas pemilihan presiden dan wakil presiden, DPR RI, dan DPD RI.
WAKIL Ketua Komisi II DPR RI Dede Yusuf Macan Effendi menyoroti kompleksitas Pemilu serentak atau yang berlangsung bersamaan, terutama dalam konteks pemilihan legislatif dan presiden
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved