Headline
Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.
Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.
Kumpulan Berita DPR RI
“SUKARNO, a diploma may someday crumble and wither away to ashes. It has no immortality. Remember that the only substance which is eternal is a man's character. The memory of it lasts long after he is gone.”
Profesor Ir G Klopper ME, Rector Magnificus di de Techniche Hoogeschool te Bandung—yang menjadi Institut Teknologi Bandung—berharap kepada Ingenieur Sukarno pada momen wisudanya, 25 Mei 1926, agar tumbuh sebagai a man of character. “I never forgot that,” kenang Bung Karno dalam Sukarno: An Autobiography as Told to Cindy Adams (1965)
Karakter menjadi fondasi utama untuk menggapai kemajuan suatu bangsa. Tidak ada bangsa maju di dunia tanpa fondasi karakter yang kokoh. Dua kekuatan dunia yang sedang bersaing kuat hari-hari ini—Amerika Serikat dan Tiongkok—tidak mencapai kejayaan dengan spontan, tetapi secara gradual dan berlangsung panjang di atas bangunan karakter bangsa yang kokoh.Kejayaan Amerika, kata Profesor Harvard Samuel P Huntington, dalam Who Are We? The Challenges to America's National Identity (2004), berakar kuat pada karakter dan identitas Anglo-Protestan. Kemajuan modern Tiongkok, kata Profesor Harvard Tu Weiming, dalam Humanity and Self-Cultivation: Essays in Confucian Thought (1999), ditopang dengan fondasi karakter dan tradisi Konfusianisme.
INDONESIA HARI INI
Indonesia hari ini tertinggal jauh dari kejayaan dua imperium dunia itu, justru karena meninggalkan warisan tradisi dan karakter bangsa yang telah diletakkan oleh para pendirinya. Padahal, sejarah mencatat, tinta emas bahwa Sukarno dengan karakter dan jati diri yang revolusioner berperan penting sebagai ‘tokoh perjuangan kemerdekaan yang dominan’; sebagai the voice of the nation yang ‘pidatonya di radio lebih berpengaruh berlipat ganda daripada pidato Ratu Wilhelmina’ di Belanda; sebagai Bapak Proklamator yang mengantarkan Indonesia sebagai ‘negara pertama yang mendeklarasikan kemerdekaan setelah Perang Dunia II’. Dan, sebagai simbol paling kuat dalam visi internasional Konferensi Asia-Afrika di Bandung (1955) yang menjadi ‘tonggak sejarah dunia (a milestone in world history)—momen ketika negara-negara non-Barat secara kolektif menggabungkan kekuatan untuk pertama kalinya tanpa Barat’.
Semua pengakuan atas karakter revolusioner Bung Karno dan peran sentralnya dalam mengantarkan Indonesia sebagai bangsa pelopor di dunia modern ditulis secara objektif dan ilmiah oleh Profesor David Van Reybrouck dalam Revolusi: Indonesia and the Birth of the Modern World (2024).
Ketika Indonesia hari-hari ini berada di persimpangan jalan dengan karakter bangsa yang rusak di semua lini, kita selayaknya mengapresiasi dan meneladani setiap ikhtiar Megawati yang berjuang di barisan terdepan nyaris tanpa kenal lelah, sekalipun di usia yang ke-79 pada hari ini, Jumat, 23 Januari 2026, dalam merawat karakter, pemikiran, dan api perjuangan Bung Karno yang revolusioner.
Dengan menjiwai pesan ayahnya, ‘bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati jasa para pahlawannya’, Megawati mengajak kita untuk menghormati dan meneladani api perjuangan para pahlawan bangsa, terutama perjuangan Bung Karno yang pernah menjadikan Indonesia sebagai teladan dunia, sesuai riset Profesor Reybrouck (2025). Semasa revolusi, kata Bung Karno (1948), “Bersatu untuk Merdeka!” dan setelah kemerdekaan, lanjutnya, “Merdeka untuk Sejahtera!”
Delapan puluh tahun kemudian setelah revolusi, merdeka ternyata bukan untuk melunasi janji kesejahteraan bersama, seperti amanah Bung Karno pada pidato Hari Lahir Pancasila, 1 Juni 1945. “Apakah kita mau Indonesia merdeka, yang kaum kapitalnya merajalela, ataukah semua rakyatnya sejahtera, yang semua orang cukup makan, cukup pakaian, hidup dalam kesejahteraan, merasa dipangku oleh Ibu Pertiwi yang cukup memberi sandang pangan kepadanya? Mana yang kita pilih, Saudara-Saudara?” Atas pertanyaan ini, Bung Karno menjawab: “Rakyat ingin sejahtera…. Kita harus mengadakan persamaan, artinya kesejahteraan bersama yang sebaik-baiknya.”
Alih-alih merdeka untuk kesejahteraan bersama, fakta ketimpangan yang naik membahayakan bagi keberlangsungan Indonesia. Indonesia hadir pada hari-hari ini dan ke depan bukan dengan wajahnya yang setara dan adil, seperti mimpi Bung Karno dan Megawati, melainkan dengan wajahnya yang timpang. Indonesia timpang pasti akan roboh, cepat atau lambat. Terinspirasi atas pidato Presiden Amerika Serikat Abraham Lincoln, “A house that divided against itself cannot stand,” (1858), Bung Karno mengingatkan kita bahwa bangsa yang terbelah pasti tidak akan mampu berdiri tegak—a nation that divided against itself cannot stand.
Indonesia yang timpang dan terbelah terjadi akibat eksploitasi sumber kekayaan alam yang tak pernah terdistribusikan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat. Lebih dari 194 juta rakyat—sesuai rilis Bank Dunia pada Juni 2025—justru tetap hidup miskin di tengah kekayaan alam yang melimpah ruah. “Dengan cara kita menjarah sumber daya bumi,” tegas Reybrouck dalam wawancara Tempo
pada Oktober 2025, “Kita sedang menjajah generasi mendatang. Kesehatan dan kehidupan mereka akan sangat ditentukan oleh kerakusan kita saat ini yang tak terkendali. Kita sedang memperbudak anak-anak dan cucu-cucu kita.”
“Yang paling merasakan kecemasan ini ialah generasi muda,” kata Megawati dalam pidato pembukaan di Rakernas PDI Perjuangan pada 10 Januari 2026, sambil menegaskan bahwa “Mereka hidup dalam ketidakpastian, memandang masa depan dengan kegelisahan. Banyak di antara mereka merasa bahwa generasi sebelumnya telah gagal merawat bumi, dan bahwa hari esok justru tampak lebih menakutkan daripada hari ini.”
Situasi kegagalan pada bangsa terlihat jelas pada apa yang Megawati konseptualisasikan sebagai ‘krisis peradaban ekologis’ yang terjadi sebagai akibat perilaku manusia yang menempatkan dirinya sebagai penguasa alam dengan segala keserakahannya yang eksploitatif, bukan sebagai bagian dari kesatuan kehidupan. Tragisnya, menurut Megawati, “Kerusakan akibat keserakahan manusia ini dilembagakan melalui kebijakan negara. Undang-undang dan regulasi yang memberi karpet merah pada konsesi besar telah membuka jalan bagi deforestasi, perampasan tanah, dan penghancuran ekosistem. Atas nama pembangunan, rakyat disingkirkan dan alam dikorbankan.”
TERBUKTI BENAR
Megawati teringat kembali pesan Bung Karno yang telah mengingatkan kita sejak awal berdirinya Republik. Tahun 1946, Bung Karno berkata dengan sederhana tapi mendalam: “Hidup minta makan, makan minta padi, padi minta hutan. Tidak ada hutan, tidak ada sumber. Tidak ada sumber, tidak ada air.” Hari ini, nubuat Bung Karno terbukti benar.
Megawati juga belajar dari Ibunya, Fatmawati, tentang pentingnya menanam pohon cemara udang di pantai. Ia selalu mendorong gerakan menanam hutan mangrove di banyak lokasi. Hal ini menunjukkan sikap politik Megawati yang konsisten dalam memprioritaskan kelestarian ekologis.
Dalam prolognya, Megawati Soekarnoputri: Merawat Pertiwi, Panggilan Hati (2026), Hasto Kristiyanto memberikan testimoni yang mengagumkan tentang kepemimpinan Megawati di partainya yang berorientasi pada politik ramah lingkungan, politik jalur rempah, bersih sungai, tanam pohon, gerakan penyelamatan mata air, kedaulatan pangan, dan keberpihakan kepada fakir miskin dan anak-anak telantar. Kesemuanya merupakan manifestasi dari politik ekologis dan kemanusiaan.
Tak hanya di partai, lanjut Hasto, tetapi juga dalam kapasitas Megawati sebagai presiden. Implementasi kepemimpinan politik yang ramah pada kelestarian ekologis tampak dari peran Megawati sebagai Ketua Yayasan Kebun Raya Indonesia; pelaku ekologis (perhatian terhadap kelestarian flora, fauna, dan lingkungan); bergumul dengan komunitas peduli lingkungan, di mana secara berkala dilakukan pertemuan dengan perwakilan penerima Kalpataru; Ketua Dewan Pembina Megawati Soekarnoputri Institute, anggota organisasi internasional bidang kemanusiaan seperti World Culture Forum dan Zayed Award for Human Fraternity.
Ketua DPP PDIP Said Abdullah mengatakan Megawati menyampaikan terima kasih kepada Prabowo dan Majelis MPR RI atas pemulihan nama baik Sukarno sebagai Presiden pertama.
Kepala BPIP Yudian Wahyudi sampai saat ini masih terdapat kekeliruan dalam pemahaman sejarah di kalangan masyarakat terkait yang didalilkan dalam TAP MPRS Nomor XXXIII/1967.
Keterkaitan antara Presiden Soekarno dan G30S/PKI menjadi perdebatan panjang dalam sejarah Indonesia. Tapi apakah kabar itu benar?
MEGAWATI Soekarnoputri menceritakan pengalamannya saat menjadi delegasi termuda dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Gerakan Non-Blok (GNB) I di Beograd.
Sosok pemimpin, menurut Encik, harus berani dan bisa mengabdi, di mana mengabdi merupakan cerminan dari melayani bangsa dan negara.
Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri menghadiri Rapat Kerja Nasional (Rakernas) yang dirangkaikan dengan peringatan Hari Ulang Tahun ke-53 PDI Perjuangan
Megawati saat ini berstatus tanpa klub setelah mengakhiri kontraknya dengan kesepakatan dua pihak bersama klub terakhirnya, Manisa BBSK
Megawati mengakui bahwa peta kekuatan bola voli di Asia Tenggara masih menempatkan tim tuan rumah, Thailand, sebagai kekuatan yang paling sulit untuk ditaklukkan.
Dari tujuh presiden Indonesia, lima di antaranya pernah berpidato di Sidang Umum PBB, yakni Soekarno, Soeharto, Megawati Soekarnoputri, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Joko Widodo.
PRESIDEN ke-7 RI Joko Widodo atau Jokowi membagikan momen bersama Presiden Prabowo Subianto, Presiden ke-6 RI Soesilo Bambang Yudhoyono (SBY), hingga Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved