Sabtu 30 April 2022, 15:15 WIB

Menimbang Bahasa Resmi ASEAN

Fikri Hadi, Dosen FH Universitas Wijaya Putra Surabaya, Sekjen Persatuan Al-Ihsan | Opini
Menimbang Bahasa Resmi ASEAN

Dok pribadi
Fikri Hadi

 

HUBUNGAN antara Indonesia dengan Malaysia kembali diramaikan dengan isu terkait wacana Perdana Menteri (PM) Malaysia Ismail Sabri Yaakob menjadikan bahasa Melayu sebagai bahasa internasional. Salah satunya menjadikan bahasa Melayu sebagai bahasa kedua di ASEAN. Salah satu yang menjadi landasan ialah berdasarkan klaim Ismail, bahasa Melayu mempunyai banyak penutur seperti di Brunei, Thailand Selatan, Singapura termasuk Indonesia.
    
Pascawacana tersebut digulirkan jagad dunia maya pun menjadi ramai, khususnya antara warganet Indonesia dan Malaysia. Banyak warganet khususnya di Indonesia menolak klaim tersebut. Hal ini disebabkan adanya sejumlah perbedaan antara bahasa Indonesia dan bahasa Melayu, sehingga warganet Indonesia merasa bahwa bahasa Indonesia tidak sama dengan bahasa Melayu, walaupun sejumlah kata memang diserap dari bahasa Melayu. 

Klaim ratusan juta penutur bahasa Melayu yang disampaikan Ismail pun ditolak warganet. Bahkan mereka juga mempertanyakan penggunaan bahasa Melayu di Indonesia, mengingat wargenet Malaysia lebih sering menggunakan bahasa Inggris.

Namun bak gayung bersambut, ketika PM Malaysia bertemu Presiden Joko Widodo (2/4) di Istana Kepresidenan, Jakarta, Ismail menyebutkan bahwa Presiden Jokowi setuju memperkuat bahasa Melayu menjadi bahasa resmi kedua ASEAN. Publik pun bertanya-tanya, bagaimana bisa Presiden Joko Widodo setuju dengan wacana tersebut di tengah program pemerintah memperjuangkan bahasa Indonesia sebagai bahasa internasional.

Yang terbaru Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek) Nadiem Makarim menolak usulan tersebut. Ia menyebutkan bahwa bahasa Indonesia lebih layak untuk dikedepankan dengan mempertimbangkan keunggulan historis, hukum, dan linguistik. Bahkan ia mengimbau kepada seluruh masyarakat untuk bahu membahu dengan pemerintah untuk berdayakan dan bela bahasa Indonesia.

Bahasa Indonesia di Malaysia

Pada saat perdebatan di dunia maya terkait isu bahasa Melayu tersebut, fakta menarik pun terungkap. Bahasa Indonesia sudah tersebar secara masif di Malaysia di kalangan generasi muda Malaysia. Hal ini disampaikan salah satu warganet Malaysia menyampaikan kekhawatirannya di media sosial bahwa jangan heran bila 10 tahun lagi, anak-anak di Malaysia sekarang akan menggunakan bahasa Indonesia. 

Postingan tersebut ramai dikomentari oleh orang tua di Malaysia yang mengeluhkan anak-anaknya lebih sering menggunakan kosa kata dalam bahasa Indonesia daripada bahasa Melayu. Sebagai contoh kata 'toko' dibandingkan 'kedai', 'ngomong' ketimbang 'bercakap', 'mobil' untuk mengganti 'kereta' dan sebagainya. Bahkan istilah bahasa daerah di Indonesia juga populer di Malaysia seperti kata 'gue' yang lazim digunakan di Jakarta.

Hal ini disebabkan oleh anak-anak di Malaysia sering melihat konten YouTube, TikTok dari Indonesia. Konten Salam dari Binjai ataupun lagu DJ TikTok Indonesia tidak asing di Malaysia.

Hal ini juga dapat dipahami bila merunut pada awal 2000an, ketika itu sejumlah lagu pop Indonesia menjadi lagu terpopuler di Malaysia. Selain gempuran lagu Indonesia di Malaysia, ditambah juga dengan gempuran sinetron-sinetron dan film Indonesia di Malaysia.

Bahkan, orang Malaysia saat ini lebih suka membaca buku dan novel berbahasa Indonesia karena dinilai lebih bagus secara tata bahasa dan puitis. Padahal di pelajaran bahasa Indonesia, kita justru sering diajarkan mengenai sastra lama berbahasa Melayu. Apakah bahasa Melayu di sastra lama tersebut sudah berbeda dengan bahasa Melayu saat ini?

Di samping bahasa Indonesia, penggunaan bahasa Melayu di Malaysia sudah mulai tergerus oleh bahasa Inggris. Bahkan generasi muda Malaysia sendiri justru lebih fasih berbahasa asing tersebut. Ditambah dengan adanya isu 'pribumi' yang sering mengemuka di Malaysia, sehingga etnis non Melayu di Malaysia lebih sering berbahasa Inggris bahkan terkadang enggan berbahasa Melayu karena adanya isu tersebut tersebut.

Hal yang lucu, pada kolom komentar Facebook, penulis postingan menulis komentar yang disematkan yakni 'Tolong info anak-anak kamu ya guys. Perdana Menteri Malaysia masih Ismail Sabri. Bukan Joko Widodo'. Hal ini mungkin semacam sindiran terhadap anak-anak Malaysia yang lebih sering menggunakan kosa kata bahasa Indonesia daripada bahasa Melayu.

Mempertimbangkan 

Bila kita mengkaji alasan penolakan dari Mendikbudristek, kita akan paham mengapa seharusnya bahasa Indonesia lebih cocok sebagai bahasa ASEAN.

Pertama, dari sudut pandang penutur, bahasa Indonesia menjadi bahasa ke-9 yang paling banyak digunakan. Bahkan bahasa Indonesia banyak diajarkan di sejumlah mata pelajaran tingkat sekolah di negara lain seperti Vietnam dan Australia. Bahasa Indonesia yang cenderung fleksibel, mudah sehingga banyak orang yang tertarik berbahasa Indonesia, bahkan cepat memahami.

Kedua, dari sudut pandang tata bahasa dan kosa kata. Terdapat banyak perbedaan antara bahasa Indonesia dan bahasa Melayu saat ini. Jangankan itu, penyebutan huruf a, b, c, d di Indonesia dan Malaysia saja sudah berbeda.
    
Ketiga dari sudut pandang hukum. Secara konstitusional tegas disebutkan pada Pasal 36 UUD NRI 1945 yang menyatakan bahwa bahasa negara adalah bahasa Indonesia. Pasal tersebut merupakan pengakuan sekaligus penegasan secara resmi oleh negara tentang penggunaan simbol salah satunya yaitu bahasa sebagai jati diri bangsa dan identitas NKRI. 

Terlebih lagi di era Presiden Jokowi, diterbitkan Perpres Nomor 63 Tahun 2019 tentang Penggunaan Bahasa Indonesia yang mewajibkan instansi dan pejabat menggunakan bahasa Indonesia di forum internasional. Presiden Jokowi pada beberapa kesempatan di forum internasional berpidato dalam bahasa Indonesia. Lantas, apabila Presiden Jokowi setuju wacana bahasa Melayu sebagai bahasa kedua di ASEAN sebagaimana klaim PM Malaysia, apakah Presiden dapat dikatakan tidak patuh terhadap amanat konstitusi atau bahkan mengkhianati atas perpres yang pernah ia tanda tangani?

Keempat, dari sudut pandang sejarah. Memang benar bahwa bahasa Indonesia salah satunya berakar dari bahasa Melayu. Namun perlu diingat pada 28 Oktober 1928 ketika Indonesia masih menggunakan nama Hindia Belanda, para pemuda yang hadir pada Kongres Pemuda tersebut telah berikrar yakni 'Kami putra dan putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia'. Hal ini menjadi penegasan bahwa kita mempunyai bahasa tersendiri yakni bahasa Indonesia yang terpisah dari bahasa Melayu.

Bahkan ketika zaman Orde Baru, penggunaan bahasa Indonesia diwajibkan pada nama bangunan, perumahan dan sebagainya. Bahkan ketika awal 90an, yang mana kala itu musik slow rock Malaysia sangat populer di Indonesia seperti Isabella, Suci Dalam Debu, Gerimis Mengundang, dan lain-lain, pernah terdapat kebijakan bahwa lagu tersebut ketika diperdengarkan di wilayah Indonesia harus diterjemahkan atau disesuaikan dengan kaidah bahasa Indonesia. 

Oleh sebab itu seperti lagu Mencari Alasan mempunyai dua versi, untuk pasar Indonesia dan Alasanmu untuk pasar Malaysia. Padahal dari segi bahasa tidak terlalu banyak perbedaan. Namun karena semangat memperjuangkan bahasa Indonesia itulah yang membuat kebijakan tersebut diterapkan.
    
Dengan alasan tersebut, dapat dipahami mengapa Mendikbudristek menolak usulan PM Malaysia tersebut. Dan dengan alasan tersebut dapat dipahami pula mengapa bahasa Indonesia lebih cocok menjadi bahasa kedua ASEAN.

Salah satu juga yang menjadi kesalahan masyarakat Indonesia ialah ketika memperkenalkan bahasa Indonesia ke luar negeri, kita sering menyebutnya sebagai 'bahasa' saja daripada menyebutnya sebagai 'bahasa Indonesia' atau Indonesian dalam bahasa Inggris. Padahal bahasa, bila diterjemahkan ke bahasa Inggris ialah language. Seharusnya kita menyebutkan lengkapnya, yakni 'bahasa Indonesia' atau Indonesian– sebagaimana kata English – French – Dutch dan lain-lain.
    
Dari hal-hal tersebut di atas, mari kita perjuangkan bahasa Indonesia di kancah internasional sebagai wujud bela negara kita terhadap Indonesia.

Baca Juga

MI/Duta

Asas Legalitas dalam Sistem Hukum di Indonesia, Relevankah?

👤Romli Atmasasmita Guru Besar (Em) Universitas Padjadjaran 🕔Kamis 19 Mei 2022, 05:10 WIB
Ketentuan itu cocok dengan karakteristik masyarakat Indonesia yang bersifat heterogen; berbeda-beda kultur daerah adat satu dan...
Dok. Pribadi

Waisak, Momentum Introspeksi Diri

👤Maha Pandita Utama Suhadi Sendjaja Ketua Umum Parisadha Buddha Dhrama Niciren Syosyu Indonesia (NSI) 🕔Kamis 19 Mei 2022, 05:05 WIB
HARI raya Waisak merupakan sebuah momentum untuk semakin mendalami makna perjuangan Buddha Sakyamuni dalam menghayati darma dan...
MI/Duta

Pemimpin ASEAN: Saatnya Belajar pada Angsa Hitam Ukraina

👤Hary Prabowo Analis Internasional dan Geopolitik Asia-Pasifi k 🕔Kamis 19 Mei 2022, 05:00 WIB
UKRAINA kini telah menjadi bara api paling membara. Pelan, tapi pasti. Sumbu api merembet ke negeri-negeri Balkan, Eropa Timur, hingga...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya