Senin 28 Maret 2022, 21:00 WIB

Indonesia Berdukun

Budi Agustono, Guru Besar Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara | Opini
Indonesia Berdukun

Dok pribadi
Budi Agustono

 

SEORANG perempuan pawang hujan menghentikan hujan saat balapan MotoGP di Sirkuit Mandalika, Lombok, Nusa Tenggara Barat, Minggu (20/3) dengan cepat meroket menjadi berita besar di seantero Tanah Air. Bahkan beroleh pujian dari warga dunia jagad maya. Namun begitu namanya terangkat menasional dan mendunia, menyeruak kontroversial soal kedigdayaannya menghentikan hujan. Ada yang memercayai kemampuannya  menghentikan hujan dan ada berkomentar ia hanya memindahkan gumpalan awan sehingga hujan turun di tempat lain.  

Kemampuan pawang hujan perempuan ini juga beroleh respons Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). BRIN sebagai lembaga ilmiah untuk membantu kelancaran balapan melakukan rekayasa cuaca agar hujan tak mengguyur saat digelar Moto GP di Mandalika. Hari-hari ini pembicaraan tentang pawang hujan belum usai dan masih terus diperpanjang menjadi perdebatan hangat di alam realita keseharian dan jagad maya. Namun di balik hebohnya perbincangan soal pawang hujan, terkait dengan daya adiluwih seorang pawang, dalam jagad ilmu kanuragan pawang berhubung erat dengan perdukunan. Dukun dan pawang sama-sama menggunakan tenaga gaib untuk mengatasi persoalan kehidupan manusia.

Dukun dan pawang dalam jagad perdukunan telah dikenal ratusan tahun lalu dalam masyarakat nusantara. Seorang dukun lazimnya mempunyai kelebihan kekuatan seperti mampu membaca pikiran orang, memiliki tenaga dalam, berpengetahuan magis, meramal, mengobati bermacam penyakit, memiliki kesaktian dapat membantu siapa saja untuk mengubah nasib. Sang dukun dianggap mampu mengubah nasib seseorang menjadi kaya, menaikkan dan mempertahankan jabatan, melindungi diri, dan membuat tenang saat berhadapan dengan orang lain meskipun yang dihadapi itu musuh.

Malah jika lelaki atau perempuan ingin memiliki pasangan hidup dapat memakai jasa dukun. Atau jika ingin disenangi dan disukai orang lain guna menyedot perhatian siapa saja. Pun jika ingin memulai bisnis agar berjalan lancar dapat bersaing dengan lawan bisnis lainnya, jasa dukun bisa dipakai.

Di nusantara masa lampau sampai sekarang masyarakat sangat akrab dengan jagad perdukunan. Terutama lagi saat dunia agraris masih terbalut fenomena polimorpik yaitu orang berfungsi banyak peran seperti meminta pertolongan menentukan hari hajatan hidup, menanam padi, mengobat orang sakit, meminta berkah keselamatan, dan sebagainya. Atau saat masyarakat belum mengenal spesifikasi pekerjaan peran orang sakten (sakti) selalu tampil dalam menata kehidupan bermasyarakat. 

Bahkan ketika berlangsung perubahan sosial, modernisasi. Meminjam bahasa Ferdinand Tonnies, perubahan masyarakat paguyuban ke patembayan dari tradisional ke modern yang meleburkan fenomena polimorpik ke monomorpik terbukanya spesifikasi okupasi (orang sakit pergi ke dokter, berkonsultasi pertanian dengan ahlinya, melahirkan tidak lagi ke dukun bayi dan sebagainya), sampai zaman mendunianya media sosial (digitalisasi), peran dukun dalam membantu kehidupan manusia masih menguat. Bahkan dia diperlukan dalam mengatasi persoalan hidup. 

Banyak contoh dalam kehidupan keseharian masyarakat terdigitalisasi masih memerlukan jasa dukun dalam menyelesaikan problem kehidupan masyarakat. Baru-baru ini ada warga yang sepeda motornya dirampok pembegal di malam hari. Mendengar itu, orang tua si korban bukannya segera melapor ke kepolisian melainkan lebih dulu menelpon dan mendatangi orang pintar, nama lain dari dukun. 

Sesudah bertemu dengan orang pintar (dukun), orang tua korban perampokan diberi ciri-ciri fisik pembegal. Dengan adanya pengantar ciri-ciri fisik diterkalah sosok pembegal. Sesudah menerka sosok fisik tersebut, barulah korban dan orang tuanya melapor ke kepolisian. Hasilnya, sampai sekarang sepeda motor belum juga terlihat tanda-tanda ditemukan.

Jabatan

Di era 1970an ada warga di sebuah perkampungan akan melaksanakan pesta perkawinan. Agar prosesi pesta perkawinan dan pertunjukan wayang orang sebagai hiburan tamu di malam hari lancar, keluarga pengantin mendatangi dukun (pawang hujan) meminta bantuan agar saat prosesi pesta perkawinan tidak hujan. Beberapa jam sebelum digelar prosesi perkawinan, dukun (pawang hujan) menyiapkan sesaji. Ada berbagai macam kembang, kemenyan, dupa, sapu lidi, bawang merah, cabe dan sebagainya. 

Setelah membaca rapalan ke sapu lidi dan sesaji, sapu lidi pun didirikan terbalik. Ikatan lidi yang biasanya dipakai menyapu di balik ke atas, sedangkan tangkainya di tanam ke bumi. Di atas lidi yang menjulang ke angkasa dilekatkan bawang merah dan cabe merah sampai selesai acara prosesi pesta perkawinan. Ternyata hujan tidak datang. Tamu banyak hadir dan prosesi pesta perkawinan serta  pertunjukan wayang orang berjalan lancar. 

Sewaktu di sekolah menengah atas ada seorang kawan ingin menaksir perempuan kawan sekolahnya. Ia tidak percaya diri lalu mendatangi orang pintar (dukun) meminta sesuatu agar wajahnya terlihat menawan di mata kawan perempuan sekolahnya. Inilah ilmu pemanis dalam istilah perdukunan. Dukun meminta persyaratan agar menjadi lelaki menawan, dan persyaratan dipenuhi. Setiap kali sebelum berangkat sekolah diharuskan menghentakkan kaki kanan ke bumi sebanyak tiga kali dan mengupayakan melempar kertas yang telah dilengkapi rapalan oleh dukun ke tubuh perempuan yang dituju. Tidak ada kabar apakah dia berhasil atau gagal menggaet perempuan idamannya. Tetapi seperti itulah instruksi dukun yang dikerjakannya. 

Dukun selalu dihubungkan dengan kesaktian. Pada 1970an saat bangsa sedang menuju modernisasi, bagi sebagian orang menciptakan rasa tidak aman jika bepergian ke daerah lain. Apalagi merantau ke tempat lain mencari peruntungan hidup. Untuk menjaga keselamatan diri ada yang menuntut ilmu kebal (tidak luka dengan tusukan senjata tajam bila diarahkan ke bagian tubuh) dengan menjadi murid guru yang dianggap sakti. Tidak sembarang orang bisa menuntut ilmu kebal. Perlu latihan laku yang tidak wajar semisal hanya mengonsumsi tujuh kepal nasi putih dan air, mandi bunga, dan tengah malam bersemedi di kuburan selama beberapa waktu. Sesudah menjalankan ritual magis barulah tuntutan ilmu kebalnya terwujud. 

Di masa itu ilmu kebal sangat terkenal di perkampungan nusantara. Malah jauh sebelum itu di masa petani tereksploitasi melawan keganasan kapitalisme kolonial. Petani dalam melakukan perlawanan ada yang dilengkapi ilmu kebal atau jimat sehingga tubuhnya tidak terluka terkena sabetan benda tajam. Bahkan di masa revolusi saat pejuang rakyat kebanyakan mempertahankan Republik dari ancaman kekuasaan asing, sewaktu bertarung di medan pertempuran terdapat orang yang diisi ilmu kebal. Ilmu kebal atau jimat bukan sesuatu asing di masyarakat, malah sangat melekat dalam kehidupan mereka.

Dalam dunia digitalisasi seperti yang sedang berlangsung saat ini peran dukun masih menguat. Menguatnya peran dukun terlihat dari masih besarnya kaum terdidik dan beragama memercayai keampuhan dukun. Sampai sekarang dukun masih dipercaya banyak orang yang mengincar jabatan di posisi puncak. Peran dukun atau guru spiritual diperlukan dalam merebut jabatan tinggi tersebut.  

Berbagai persyaratan tetap dipenuhi dan dikerjakan jika diminta dukun demi posisi dan jabatan. Malah untuk selamat dari gangguan dan ancaman musuh kerap meminjam kemampuan dukun mengamankan diri. Dalam setiap kali pemilihan presiden, bupati, wali kota, jabatan publik di birokrasi pemerintahan atau kepala desa, para calon atau tim pemenangan selalu memakai jasa dukun untuk mengamankan posisi. Itulah sebabnya sering terdengar rumor ada pejabat tinggi punya hubungan dengan dukun dalam mencari posisi dan mempertahankan survivalitas kedudukan.
 
Tidak hanya para pemburu jabatan yang menyambangi dukun. Sering pula kalangan akademik (dosen, doktor, dan guru besar) tak malu-malu lagi menghubungi dukun untuk beroleh jabatan di birokrasi perguruan tinggi. Sudah jadi rahasia umum ada kalangan akademisi yang menjalin komunikasi dengan dunia perdukunan. Sejak lama dukun telah mengindonesia, apalagi di tengah kompetisi politik dan perebutan jabatan setelah kejatuhan Orde Baru. Bahkan kondisinya semakin ugal-gugalan, banal, saling jegal, dan tak jarang pula  memakai bumi hangus dalam menghabisi lawan. Untuk keluar selamat dari pertarungan banyak yang mencari perlindungan dukun untuk menjaga kekuasaannya.

Baca Juga

Dok. Pribadi

Internalisasi Nilai Damai

👤Dody Wibowo Direktur Advokasi dan Pemberdayaan Masyarakat Yayasan Sukma 🕔Senin 23 Mei 2022, 05:10 WIB
If we are to educate for peace, both teachers and students need to have some notion of the transformed world we are educating for. (Betty...
MI/Duta

Fisika dan Pendidikan Perdamaian

👤Riyan Setiawan Uki Guru Fisika Sekolah Sukma Bangsa Sigi 🕔Senin 23 Mei 2022, 05:05 WIB
Dalam pendidikan perdamaian diajarkan pengetahuan, seperti konsep perdamaian yang menyeluruh, penyebab konflik dan kekerasan, dan filsafat...
MI/Ebet

Hak Asasi Binatang

👤Adiyanto Wartawan Media Indonesia 🕔Minggu 22 Mei 2022, 06:00 WIB
Sepanjang sejarah peradaban manusia, hewan itu memiliki peran penting, baik secara sosial, ekonomi, maupun...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya