Selasa 29 Maret 2022, 05:00 WIB

Pawang Hujan dan Persitegangan Metodologi

Fathorrahman Ghufron Wakil Katib PWNU Yogyakarta, Wakil Dekan Kemahasiswaan dan Kerja Sama Fakultas Saintek UIN Sunan Kalijaga | Opini
Pawang Hujan dan Persitegangan Metodologi

MI/Seno
Ilustrasi MI

 

KEHADIRAN Rara Isti Wulandari sebagai pawang hujan dalam perhelatan Moto-GP di Mandalika memberikan warna pertunjukan yang berbeda. Di depan jutaan penonton, baik yang hadir secara langsung maupun yang menonton melalui layar televisi, aksi Rara menuai decak kagum dan caci maki.

Bahkan, ada seorang kreator konten yang berpandangan keberadaan Rara di Mandalika merupakan bagian dari gimik marketing yang bisa jadi disiapkan oleh penyelenggara untuk menaikkan citra Mandalika di kancah dunia.

Dalam kaitan ini, gimik marketing merupakan sebuah strategi yang selama ini banyak dilakukan oleh banyak pelaku usaha untuk menarik animo dan minat masyarakat terhadap produk yang ditawarkan.

Meski demikian, terlepas dari berbagai kesan dan penilaian yang disampaikan publik terhadap sosok Rara, sebenarnya ada aspek yang sangat urgen yang menstimulasi perbincangan di ruang publik, yakni respons banyak kalangan yang membahas kehadiran pawang hujan di Mandalika dengan tiga sudut pandang: sains, agama, dan kearifan lokal.

 

Persitegangan metodologi

Dalam kaitan ini, perbincangan pubik tentang kehadiran pawang hujan di Mandalika serupa ketika Indonesia dan belahan dunia lainnya dilanda pandemi covid-19. Ada beragam ekspresi yang dilakukan masyarakat dalam menyikapi covid. Pihak yang menggunakan sudut pandang sains beranggapan bahwa covid adalah virus yang menular melalui moda transmisi yang sangat cepat dan mudah menyebar melalui partikel air liur (droplet). Maka, untuk mengatasi bahaya covid dengan cara isolasi diri dan pengetatan jarak sosial.

Bagi pihak yang menggunakan agama, maka untuk mengatasi covid melalui doa maupun ritual lain yang dipanjatkan kepada Tuhan, karena setiap penyakit datang dari Tuhan dan Dia-lah yang paling berhak menyembuhkan. Adapun pihak yang menggunakan kearifan lokal menyikapinya dengan ramuan herbal yang dikonsumsi. Bahkan, ada beberapa masyarakat adat yang mempertahankan kearifan lokal melalui penyatuan diri dengan alam sebagai sugesti kultural dalam menghadapi covid.

Dalam konteks pawang hujan yang dipertunjukkan Rara di Mandalika, pihak yang menggunakan sudut pandang agama merespons dengan corak yang normatif. Sebab, dalam agama, ada tuntunan teologis yang bisa digunakan sebagai cara meminta atau menolak hujan. Bahkan, tak sedikit dari pihak ini yang menyampaikan label kemusyrikan bagi pelaku pawang hujan.

Demikian pula pihak yang menggunakan sains, yang menganggap pawang hujan sebagai cara yang out of date. Sebab, di zaman yang sarat dengan kemajuan sains dan teknologi, berbagai negara telah menerapkan ilmu pengetahuan yang bisa merekayasa curah hujan melalui teknologi weather modification.

Melalui mekanisme persaingan dan mekanisme proses lompatan yang menggunakan zat higroskopis, maka awan di suatu tempat tidak dapat berkembang dan menghentikan presipitas air hujan. Bahkan, melalui proses tersebut, dapat menimbulkan efisiensi tumbukan dalam awan yang bisa menyegerakan hujan sehingga saat hajat yang dilakukan di waktu yang diinginkan tidak terjadi hujan.

Pihak yang masih setia dengan kearifan lokal tentu mempunyai basis argumen yang sama, bagaimana menghentikan hujan. Melalui dimensi ultima yang menghubungkan antara dimensi personal—pihak yang melakukan—dan dimensi kultural—sebagai basis kepercayaan lokal, berupaya menarik kekuatan metafisika agar memenuhi permintaannya.

Dalam kaitan ini, keberadaan Rara yang menggunakan kearifan lokal untuk menghentikan hujan di Mandalika ingin menunjukkan cara kerja yang berbeda dalam menyikapi hujan. Tujuannya ialah untuk memberikan kenyamanan selama berlangsungnya perlombaan Moto-GP yang sudah menyedot perhatian warga dunia.

Lalu, ketika ketiga sudut pandang tersebut—meminjam pemikiran KRP Abdul Gaffar Karim, akademisi UGM—mempunyai basis pengetahuan maupun tujuan yang sama, tapi ada perbedaan cara dalam menerapkan pengetahuan tersebut, apakah ketiganya akan selalu dipertentangkan? Apakah setiap pegiat sudut pandang tersebut masih mau saling berseteru?

 

Spirit interkoneksi

Padahal, disadari atau tidak, potret pembingkaian monodisiplin yang hanya mengedepankan kebenaran tunggal pada tiap-tiap pengetahuan dan sudut pandang yang dimiliki sesungguhnya telah terjerembap dalam ketidaktahuan. Atau dalam istilah Max Muller, siapa pun yang hanya tahu satu persoalan, sesungguhnya dia tidak tahu apa-apa (he who knows one, knows none).

Pegiat agama maupun sains yang menghujat cara Rara menghentikan hujan di Mandalika seharusnya mengedepankan kedewasaan berilmu. Sebab, menyikapi fenomena alam yang terlalu luas untuk ukuran manusia tidak bisa hanya dibaca dan dianalisis dengan pendekatan normatif-positivistik maupun saintifik. Akan tetapi, diperlukan keterjalinan pendekatan untuk memahami setiap peristiwa yang akan terjadi maupun cara mengatasinya.

Dalam kaitan ini, meminjam pemikiran Prof Amien Abdullah, ada tiga aspek yang perlu dilakukan oleh tiap-tiap pihak. Pertama, kesediaan antarpihak untuk saling menjangkau atau menembus (semipermeable) berbagai sekat keilmuan yang dimiliki agar masing-masing bisa saling mengukur kadar kemampuan dalam menjangkau dimensi ketidaktahuannya.

Kedua, keterlibatan berbagai pihak yang bersedia saling menguji (intersubjektif-testability) agar setiap pihak bisa saling mengenali dan memahami karasteristik pengetahuan dan cara kerja yang digunakan oleh para pegiatnya. Ketiga, kesediaan setiap pihak menghargai kreativitas pegiat pengetahuan yang dilahirkan dari lingkup imajinasi yang beragam. Sebab, setiap inovasi yang dilahirkan dari setiap ilmu pengetahuan berangkat dari ijtihad yang berbeda-beda, tapi peruntukannya demi kemaslahatan bersama.

Melalui ketiga aspek tersebut, setidaknya perdebatan metodologi yang digunakan oleh tiap-tiap pegiat sudut pandang agama, sains, dan kearifan tidak hanya mengantarkan pada persitegangan identitas dan kebenaran tunggal. Akan tetapi, peristiwa Mandalika yang menyedot perhatian dunia dan melalui Mandalika eksistensi Indonesia semakin mengglobal. Maka, untuk mengakhiri persitegangan metodologi, marilah kita saling berinterkoneksi dan bersinergi dalam membangun peradaban ilmu.

Baca Juga

Dok pribadi

Energi Komunikasi di Bulan Fitri

👤Thoriq Ramadani, Ketua Umum Ikatan Pranata Humas Indonesia (Iprahumas), Pranata Humas Kementerian ESDM, dan inisiator ESDM Writers 🕔Senin 16 Mei 2022, 21:10 WIB
PEMERINTAH memprediksi masyarakat yang akan mudik pada Lebaran 2022 sekitar 85 juta...
MI/Ramdani

Koreksi Nama Dalang

👤Media Indonesia 🕔Senin 16 Mei 2022, 20:15 WIB
keberatan terhadap penyebutan nama seorang  dalang wayang...
MI/RM Zen

Ruhut Sitompul versus Meme Anies Baswedan

👤Soelistijono, Editor Media Indonesia 🕔Senin 16 Mei 2022, 10:39 WIB
Jika tidak ada maksud apapun membuat meme dan disebarkan ke media sosial, kenapa Ruhut hanya menampilkan sosok...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya