Headline
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Kumpulan Berita DPR RI
SUATU hari, sehabis berolahraga pagi, saya melihat tiga ekor capung hendak hinggap di alang-alang pada tepi sebuah tanah lapang. Saya sempat tertegun (tepatnya mungkin merenung) melihat pemandangan itu. Bukan lantaran terpesona pada merah tubuh atau ekornya, yang berbeda dengan jenis capung pada umumnya yang berkelir hijau. Bukan itu. Namun, lebih tepat memantik pertanyaan apa manfaat makhluk-makhluk tersebut bagi manusia.
Pertanyaan kalkulatif itu mungkin ciri khas manusia di zaman antroposen ini, era yang menurut para ahli ilmu bumi, ditandai dengan dampak eksploitasi berlebihan manusia terhadap alam. Menurut mereka, kini segala aktivitas manusia telah berdampak pada ekosistem di planet ini. Untuk memenuhi selera busana, misalnya, entah sudah berapa puluh jenis flora dan fauna yang mati. Entah sudah berapa ratus hektare hutan yang dibabat untuk berbagai keperluan. Belum lagi berbagai jenis hewan dan tanaman yang dikonsumsi untuk memenuhi selera makan.
Memang Tuhan menciptakan beragam mahluk itu di antaranya untuk keberlangsungan hidup manusia. Namun, pernahkah kita juga memikirkan dampak laku hidup kita terhadap keberlangsungan hidup mereka? Capung secara ekonomi mungkin tidak bermanfaat untuk manusia (makanya tidak ada yang mau beternak serangga tersebut), tapi bukankah ia juga berguna untuk membantu penyerbukan tanaman sekaligus menjaga rantai makanan.
Jumat (11/3), saya membaca sebuah artikel di The Guardian tentang hasil sebuah penelitian mengenai jumlah spesies tumbuhan yang terancam punah. Para peneliti itu mengategorikan spesies tanaman mana yang paling terpengaruh oleh manusia sejak awal era antroposen. Mereka, para peneliti dari lembaga Smithsonian, mengategorikan lebih dari 80 ribu spesies tanaman di seluruh dunia dan menemukan bahwa sebagian besar dari tumbuhan itu akan punah karena manusia tidak lagi membutuhkan. Temuan ini menunjukkan secara gamblang tentang ancaman terhadap keanekaragaman hayati, yang pada gilirannya akan membuat ekosistem kian rentan dalam menghadapi cuaca ekstrem dan perubahan iklim.
Berbagai bencana yang terjadi makin sering akhir-akhir ini, entah banjir, tanah longsor, badai, entah kekeringan, atau kelaparan, mungkin seharusnya menjadi peringatan bagi kita untuk belajar lagi mengenai art of loving, seperti yang didengungkan Erich Fromm. Seni mencintai tidak hanya kepada sesama manusia, tetapi juga makhluk hidup lainnya di muka Bumi ini.
Dulu nenek moyang kita, makhluk pemburu-pengumpul, menciptakan perkakas sederhana sebagai keterampilan sebagai sarana beradaptasi dengan ganasnya alam. Namun, ironisnya, teknologi yang semakin canggih akhirnya malah membuat manusia berjarak dengan alam. Begitu menguasainya, mereka lantas jemawa dan berbuat seenaknya. Makhluk-makhluk lainnya dianggap tidak lagi sejajar dan punya hak hidup yang sama di planet ini. Padahal, mereka juga bagian dari ekosistem.
Teknologi tentu bukan barang haram. Ia lahir sebagai manifestasi puncak pengetahuan manusia guna mempermudah hidup mereka. Namun, pemanfaatannya bukan cuma sebatas nilai guna. Ia harus pula mempertimbangkan sisi etis. Penggunaan pestisida misalnya, tidak serta-merta semata demi keuntungan perusahaan pabrik kimia, tapi juga mesti memperhitungkan dampaknya terhadap kesuburan tanah. Begitu pun dengan pemanfaatan nuklir, batu bara, dan sebagainya. Selain asas manfaat, kita juga mesti mempertimbangkan sisi mudaratnya. Tanpa keseimbangan ini (Yin Yang, kata orang), kehidupan di dunia bakal tambah sengsara, alih-alih sejahtera.
Di tengah krisis iklim yang kian nyata, arah kebijakan negara disebut belum beranjak dari pendekatan lama yang justru memperparah kerusakan lingkungan.
Peneliti mengungkap hutan Arktik hancur hanya dalam 300 tahun pada masa pemanasan global purba. Temuan ini jadi peringatan bagi krisis iklim modern.
Studi cincin pohon pinus di Spanyol mengungkap anomali cuaca paling ekstrem sejak 1500-an. Ketidakstabilan curah hujan kini mencapai titik kritis.
Gelombang panas ekstrem melanda tenggara Australia. Enam kebakaran besar berkobar di Victoria, suhu tembus 48,9 derajat Celcius.
Ilmuwan temukan fenomena Marine Darkwaves, yakni kegelapan mendadak di dasar laut yang merusak ekosistem kelp dan terumbu karang.
Peneliti ungkap bagaimana kombinasi panas, garam, dan plastik merusak kesehatan tanah kota. Temukan mengapa satu faktor stres bisa mengubah segalanya.
Peneliti mengungkap hutan Arktik hancur hanya dalam 300 tahun pada masa pemanasan global purba. Temuan ini jadi peringatan bagi krisis iklim modern.
Studi cincin pohon pinus di Spanyol mengungkap anomali cuaca paling ekstrem sejak 1500-an. Ketidakstabilan curah hujan kini mencapai titik kritis.
Analisis mendalam Avatar: Fire and Ash sebagai metafora krisis iklim. Menghubungkan 'Bangsa Abu' dengan data kebakaran hutan global 2025-2026.
Cuaca 2026 semakin tak menentu. Simak panduan medis menjaga imunitas tubuh, mencegah penyakit pancaroba, dan tips menghadapi gelombang panas (heatwave).
Lautan dunia menyerap panas ekstrem tahun 2025, memecahkan rekor selama sembilan tahun berturut-turut. Simak dampak mengerikannya bagi iklim global.
Peneliti Oxford mengungkap bagaimana bentuk garis pantai dapat menjebak spesies laut saat suhu memanas. Garis pantai Timur-Barat tingkatkan risiko kepunahan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved