Headline
DPR minta agar dana tanggap darurat bencana tidak dihambat birokrasi berbelit.
DPR minta agar dana tanggap darurat bencana tidak dihambat birokrasi berbelit.
Kumpulan Berita DPR RI
DALAM suatu kecelakaan pesawat, Chuck Noland harus bertahan hidup di sebuah pulau tak berpenghuni. Ia satu-satunya penumpang yang selamat. Untuk menemani kesendiriannya di pulau itu, ia menciptakan tokoh khayalan berupa sebuah bola voli yang ia temukan dari puing-puing bagasi pesawat nahas tersebut.
Benda itu ia anggap layaknya manusia. Punya mata, hidung, serta mulut yang ia gambari dengan darahnya. Benda itu ia beri nama Wilson. Wilsonlah yang menjadi teman untuk menemaninya bicara, tertawa, dan menangis selama masa pengasingannya itu. Bahkan, dalam satu kesempatan upayanya menyelamatkan diri, Noland nekat mengabaikan keselamatan dirinya dengan melompat dari rakit buatannya hanya untuk menyelamatkan ‘kawan setianya’-nya itu yang tersapu badai.
Kisah Noland merupakan cerita nyata yang diangkat ke layar lebar dengan judul Cast Away pada 2000. Film yang dibintangi Tom Hanks itu merupakan drama survival yang menggambarkan bagaimana seorang manusia harus berjuang sendirian hampir empat tahun lamanya di sebuah pulau tak berpenghuni. Jika meminjam istilah sekarang, kita mungkin menyebut Noland halu (mengalami halusinasi) karena berbicara dengan benda mati. Namun, justru itulah satu-satunya cara agar dia selamat dari keterasingan dan tidak gila.
Lantas, bagaimana kita membaca fenomena mereka yang memelihara boneka arwah dan memperlakukan layaknya manusia seperti yang marak diberitakan belakangan ini? Apakah mereka juga sudah tidak waras atau kesepian sehingga perlu berteman dengan benda mati kendati hidup di tengah hiruk pikuk peradaban modern? Eits… jangan buru-buru menghakimi. Bukankah sebagian dari kita pun melakukan hal yang sama dalam memperlakukan perangkat teknologi. Lewat unggahan di status Whatsapp, Facebook, Twitter, atau Insta Story, kita tak jarang meluapkan keresahan atau apa pun yang melintas di benak kita, bahkan sering kali tanpa dipikir dulu. Gawai jadi teman curhat dari bangun tidur hingga menjelang mimpi. Seolah-olah dunia harus ikut tahu dan merasakan keresahan dan kegelisahan yang kita alami. Sementara karena saking asyiknya, kadang justru malah mengabaikan orang-orang terdekat di sekitar kita.
Mending bicara dengan bola voli atau boneka daripada status atau unggahan Anda jadi bahan tertawaan atau bahkan malah menyakiti orang lain. Perkara orang membeli boneka (yang konon katanya bisa diisi arwah) hingga jutaan rupiah, menurut saya, itu sih hal yang lumrah. Kata Jean Baudrillard, pemikir Prancis, dalam masyarakat konsumsi apa pun bisa jadi objek yang diperjualbelikan, termasuk kesenangan. Orang yang rela menjual tanah hanya untuk membeli ikan koi seharga Rp1 miliar, ada kok. Begitu juga dengan batu akik, keris, merpati, mainan action figure, dan sebagainya. Bahkan, November tahun lalu, Wilson, bola voli yang pernah dipakai syuting di film Cast Away ada yang beli hingga Rp4 miliar dalam sebuah acara lelang.
Selama kepuasan jiwa-raga sang empunya terpenuhi, ya, biarkan saja. Yang tidak boleh ialah menyembah dan menuhankan benda-benda tersebut. Menurut agama, itu perbuatan syirik namanya.
Posisi di tengah membuat seorang anak merasa perlu melakukan upaya ekstra untuk mendapatkan perhatian orangtua yang sering kali terbagi.
Remaja lebih mudah tergoda melakukan hal-hal yang menyenangkan atau sedang tren karena sistem limbik mereka lebih dominan
Ada mekanisme psikologis dan neurologis yang sangat kompleks yang membuat manusia modern begitu terobsesi dengan urusan privasi orang lain, seperti netizen yang terobsesi dengan artis.
PEMAHAMAN mendalam mengenai tahapan perkembangan psikologi anak bukan sekadar wawasan tambahan, melainkan fondasi utama dalam pola asuh modern di tahun 2026.
Psikologi menyebut orang yang memasak sambil membersihkan dapur memiliki 8 kepribadian kuat, mulai dari disiplin, mindfulness, hingga manajemen waktu yang baik.
Studi terbaru mengungkap teknik "meta-cognitive doubt". Meragukan pikiran negatif ternyata lebih efektif untuk kembali berkomitmen pada tujuan jangka panjang.
Transformasi itu bahkan mendorong efisiensi tinggi, mengubah budaya kerja, dan meningkatkan nilai bagi pelanggan.
Tech Data, anak perusahaan TD SYNNEX, resmi menjalin kerja sama strategis dengan Sangfor Technologies untuk menghadirkan solusi infrastruktur teknologi informasi (TI) terintegrasi.
Klinik gigi Smileworks di Kelapa Gading mengutamakan pemeriksaan komprehensif, edukasi pasien, dan teknologi kedokteran gigi berstandar internasional.
Masa depan akademik mahasiswa bergantung pada sejauh mana mereka mampu beradaptasi dengan teknologi tanpa kehilangan jati diri sebagai pembelajar yang kritis dan fokus.
Teknologi digital kian memainkan peran strategis dalam memperkuat daya saing usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) serta ritel mikro di Indonesia.
Pemerintah Kabupaten Jepara memperkuat program UMKM Naik Kelas untuk mendorong pertumbuhan ekonomi berbasis rakyat.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved