Sabtu 23 Oktober 2021, 05:05 WIB

Songsong Matahari Terbit di Selatan Papua

Wilhelmina Welliken Dosen di Universitas Musamus, Merauke, Papua | Opini
Songsong Matahari Terbit di Selatan Papua

MI/Duta
Ilustrasi MI

 

PERHELATAN PON XX dan kehadiran Presiden Joko Widodo di Kabupaten Merauke untuk yang ketiga kalinya, awal Oktober lalu, memiliki makna yang penting bagi masyarakat di wilayah Papua Selatan. Kehadiran Jokowi sebagai bentuk dukungan Presiden untuk mendorong pembangunan di wilayah seluas 46.791.63 km persegi dengan jumlah penduduk 230.932 jiwa ini.

Penyelenggaraan event PON di Merauke tidak saja mendorong percepatan pembangunan berbagai infrastruktur, tidak juga membuka mata ribuan kontingen dari seluruh Indonesia yang menyaksikan langsung betapa majunya kabupaten itu jika dibandingkan dengan sebagian besar kabupaten di wilayah Republik Indonesia. Itu tidak lepas dari moto Izakod Bekai Izakod Kai, satu hati satu tujuan, sehingga mendorong tumbuhnya Merauke sebagai kota yang plural, yang populasinya didominasi perantau dari berbagai daerah; Jawa, Sulawesi, Maluku, Sumatra.

Bahkan, komunitas Tionghoa di sini sudah eksis terlebih dahulu, jauh sebelum bergabungnya Irian Barat dengan NKRI. Mereka bahkan telah melakukan perkawinan campuran dengan warga suku Marind, salah satu suku terbesar di Merauke, yang hingga kini telah melahirkan warga peranakan hingga generasi keempat dan kelima.

Merauke ialah penghasil tanaman padi terbesar di Provinsi Papua. Produksinya mencapai 150 ribu ton per tahun, sedangkan kebutuhan domestik hanya 25 ribu ton. Wilayah Distrik Kurik ialah salah satu penghasil padi terbesar di Merauke, selain Distrik Tanah Miring, dan Semangga. Kabupaten Merauke menjadi lokasi pengembangan industri tanaman pangan berskala raksasa atau food estate. Distrik Kurik memang sempat menjadi pusat logistik pangan di wilayah timur oleh Belanda di masa penjajahan untuk pasukan mereka yang berada di wilayah timur.

Kabupaten Merauke merupakan daerah yang berbatasan langsung dengan Papua Nugini dan merupakan kabupaten terluas, yang mencapai hampir 15% dari seluruh wilayah Papua. Selain itu, memiliki luas perairan 5.089,71 km persegi dengan garis pantai sepanjang 800 km. Selain sebagai penghasil padi terbesar di Papua, wilayah itu juga memiliki potensi di bidang hortikultura, perkebunan, dan peternakan serta perairan. Sebelum dimekarkan pada 2002, luas Kabupaten Merauke mencapai 1,3 kali luas Pulau Jawa. Namun, berdasarkan UU Nomor 26 Tahun 2002, wilayah itu mengalami pemekaran menjadi tiga kabupaten; Asmat, Mappi, dan Boven Digoel. Wilayah-wilayah itu merupakan potensi dari bagian selatan Papua yang patut diperhitungkan dalam kancah tata kelola pemerintahan yang lebih luas lagi.

 

 

Potensi lain

Nama Asmat yang sudah dikenal sejak 1904 ialah salah satu suku yang mendiami wilayah selatan Papua, diapit Kabupaten Merauke, Mimika, Mappi, Yahukimo, dan Nduga. Memiliki sumber daya hutan yang potensial bagi pembangunan perekonomian daerah. Hutannya mencapai luas 2.785.600 ha dan berfungsi sebagai hutan lindung, hutan wisata, hutan konservasi alam, dan hutan produksi. Potensi lainnya terdapat di Kabupaten Mappi yang beribu kota di Kepi, dengan luas wilayah mencapai 23.824 km2 berpenduduk 107.852 jiwa.

Sebagian besar wilayahnya merupakan dataran rendah yang memiliki ketinggian 0-100 m dari permukaan laut. Sebagai sarana tranportasi, ada sekitar 14 sungai yang menjadi penghubung antardistrik. Pembangunan infrastruktur jalan di wilayah itu memang agak lambat karena kesulitan batu dan pasir yang dikeraskan sehingga belum bisa diaspal secara merata. Fasiltas yang memadai baru ada di Distrik Bade yang merupakan kota pelabuhan. Mappi dikenal dengan potensi kayu gaharu yang berkualitas, juga ada kulit gambir dan kayu-kayu jenis uli, meranti, linggua, dan bus. Potensi lain yang terpendam ialah minyak bumi yang ada di Distrik Citak Mitak serta bauksit di Distrik Obaa dan sekitarnya.

Kabupaten Boven Digoel dengan ibu kota Tanah Merah memiliki jumlah penduduk sebanyak 64.524 ribu jiwa dengan luas wilayah 27.108 km persegi. Wilayah itu memiliki lahan sangat luas dan potensial untuk pengembangan perkebunan seluas 818.202 ha. Lebih kurang 30 ribu ha telah dimanfaatkan sebagai perkebunan kelapa sawit. Dari penelitian yang dilakukan, adanya mineralisasi yang ditemukan akibat proses alam hidrotermal. Proses itu merupakan pembentukan kandungan mineral akibat terjadinya reaksi panas yang berasal dari larutan hidrotermal dengan bebatuan yang ada di sepanjang daerah rekahan.

Di wilayah itu ada beberapa penambang liar yang beroperasi yang didanai pengusaha kuat dari luar Boven. Potensi kekayaan sumber daya di bagian selatan Papua itu, baik sumber daya manusia maupun alam, sejatinya dapat dikelola dengan lebih maksimal sejalan dengan pengembangan wilayah yang terfokus pada tata kelola pemerintahan yang lebih mandiri. Itu dilakukan agar konsentrasi pemerintah bisa lebih merata menjangkau keterbatasan wilayah yang masih jauh dari sentuhan pembangunan.

Mendagri Tito Karnavian dalam kunjungannya bersama Menko Polhukam beberapa waktu lalu ke Kabupaten Merauke menegaskan Undang-Undang Otsus Papua akan direvisi. Tito juga mengungkapkan di Papua harus ada percepatan pembangunan, Merauke sudah bisa dimekarkan menjadi Provinsi Papua Selatan walaupun hanya ada empat kabupaten karena kekhususan buat Papua (Antara, 12/9).

Dengan potensi sumber daya alam dan manusianya, Papua Selatan ini kelak akan menjadi pintu perdagangan internasional utama dengan negara tetangga Papua Nugini dan beberapa negara di kawasan Laut Arafura.

Di tanah Animha inilah pertama kali Kapten LB Moerdani bersama 215 penerjun dari pasukan RPKAD dan Batalyon 530/Brawijaya melakukan pendaratan dalam rangka Operasi Pembebasan Irian Barat 1962. Dari tanah Animha ini pula, tokoh-tokoh dari suku Marind, Muyu, Wambon/Mandobo, Auwyu, Yaghai, dan Asmat memberikan pendapat mereka dalam pemilihan umum, atau Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera/Act of Free Choice) 1969 memilih bergabung dengan Republik Indonesia. Tanah Animha ini pula yang pertama kali menyongsong matahari sebelum sinarnya menerangi seluruh kawasan Republik Indonesia.

Baca Juga

MI/Ebet

Bijak Kelola Geopark

👤Adiyanto Wartawan Media Indonesia 🕔Minggu 28 November 2021, 05:00 WIB
Jangan atas nama pariwisata, semuanya diterabas tanpa memperhatikan aspek lingkungan dan kehidupan masyarakat...
Dok. Pribadi

Siapkah Indonesia Bermain dalam Wacana Islam Global?

👤Maria Fauzi Penulis, traveler, Sekjen Fatayat PCINU Jerman, Litbang Fatayat DIY dan Founder Neswa.id. 🕔Sabtu 27 November 2021, 05:00 WIB
MASJID besar di Berlin yang saya kunjungi siang itu tidak begitu ramai. Bangunannya sangat...
Dok pribadi

Jadi Kebutuhan, Panduan Tes Covid-19 Mandiri Diperlukan

👤Luhung Budiailmiawan, Dokter Spesialis Patologi Klinik di RSUD Pelabuhanratu, Jawa Barat      🕔Jumat 26 November 2021, 19:10 WIB
Pemerintah Indonesia secara khusus telah menggalakkan penggunaan tes covid-19 untuk berbagai aktivitas publik, mulai dari kebijakan...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya