Selasa 12 Januari 2021, 11:10 WIB

Kolaborasi Menghadapi Duka Kemanusiaan

Lasarus Jehamat Dosen Sosiologi FISIP Undana Kupang | Opini
Kolaborasi Menghadapi Duka Kemanusiaan

Dok. Pribadi

INDONESIA berduka di awal 2021. Pesawat Sriwijaya Air jatuh di sekitaran Kepulauan Seribu. Dalam waktu sekejap, 62 nyawa manusia hilang. Kita berduka. Seperti Editorial Media Indonesia (11/1/2021), Indonesia menghadapi duka kemanusiaan. Benar. Sebab, Indonesia dan seluruh bangsa di dunia sesungguhnya tengah berduka karena pandemi covid-19. Banyak nyawa yang terpaksa hilang. Kematian karena pandemi belum usai, datang kabar duka dari maskapai Sriwijaya Air.

Apa pun sebab kedukaan, roh kemanusiaan kita sebagai bangsa tidak boleh pudar. Simpati dan empati kepada yang berduka wajib diberikan. Dukungan, dalam berbagai bentuk, mesti terus dipromosikan.

Di kasus Sriwijaya Air, jelas terlihat kerja kolaboratif berbagai pihak. Nelayan, pemerintah, BNPB, SAR, dan elemen masyarakat lain bahumembahu meringankan duka kemanusiaan ini. Ungkapan simpati dan solidaritas pun mengalir tanpa henti dari seluruh penjuru Tanah Air. Media sosial sesak. Semuanya bermuara meringankan beban duka keluraga yang ditinggalkan.

Hemat saya, dukungan moral, material, kebersamaan, persaudaraan, simpati, empati, atas mereka yang mengalami musibah merupakan isi dasar semangat kebangsaan. Bahwa ketika beban derita dipikul bersama seluruh bangsa maka semangat solider benar-benar mendapatkan kepenuhannya.

Realitas itu menunjukkan bahwa ujian utama solidaritas bangsa ialah praksis pelaksanaan nilai dan semangat solidaritas secara kontekstual. Watak kebersamaan sebuah bangsa beradab ditunjukkan di sana. Duka kemanusiaan Sriwijaya dijawab dengan dukungan moral seluruh bangsa.

Pertanyaan kritisnya ialah di mana letak ujian solidaritas kebangsaan? Ujian kebangsaan terletak pada kemampuan melepaskan ego sektoral dan individu untuk tidak hanya menghentikan kegaduhan hoaks, tetapi berkolaborasi demi menyelesaikan masalah. Sebab, di tengah musibah, masih ada yang terus-menerus meniup kabar bohong dan kerap mengganggu keamanan dan kenyamanan bangsa.

 

 

Masyarakat kolaboratif

Tesis lama yang menyebutkan bahwa manusia adalah manusia yang superkolaboratif harus disebutkan di sini. Sebab, kebersamaan sebuah bangsa tercapai dan menjadi nyata jika semua elemen bangsa ini secara bersama menghadapi berbagai masalah. Itulah masyarakat kolaboratif (Jemielniak, 2020).

Dengan demikian, menurut Jemielniak, masyarakat kolaboratif bergantung pada berbagai mode kerja sama, berbagi, kreasi bersama, produksi, distribusi, perdagangan, dan konsumsi barang dan jasa oleh orang, komunitas, dan organisasi. Masyarakat kolaboratif terutama dipromosi dalam menghadapi berbagai tantangan. Kolaborasi merupakan kekuatan bersama secara internal dan eksternal dalam upaya membangun kekuatan bangsa.

Meminjam analogi jaringan media sosial, Jemielniak menyebutkan bahwa semua pihak memiliki peran dalam membangun dan meruntuhkan kekuatan negara bangsa. Di sana, media sosial bisa dipakai secara fungsional, tetapi bisa juga digunakan secara disfungsional. Kekuatan masyarakat kolaboratif ialah memotong mata rantai penyalahgunaan media sosial.

Di sisi yang lain, dalam kerja kolaboratif, ego diri dan kelompok sedapat mungkin disingkirkan. Dalam Society and Culture, Turner dan Rojek (2001) mengatakan ujian utama solidaritas masyarakat modern ialah ego diri dan sektoral.

Turner dan Rojek mau agar semua pihak menempatkan bencana sebagai masalah bersama. Karena masalah bersama maka setiap aksi solidaritas sosial mesti bebas kepentingan di dalamnya. Sebab, jika ego dipelihara, sia-sialah beragam aksi solidaritas untuk menyingkirkan keputusasaan.

 

 

Praksis keindonesiaan

Sesungguhnya, membaca kerja kolaboratif berbagai pihak dalam menghadapi duka kemanusiaan di kasus Sriwijaya jelas menunjukkan bahwa bangsa ini masih memiliki keutamaan. Semua elemen secara bersama dengan berbagai cara membantu kerja pihak-pihak terkait dalam menemukan korban dan serpihan pesawat.

Tim SAR, Bakamla, KNKT, TNI, dan kepolisian didukung penuh oleh elemen masyarakat lain. Usaha para nelayan di Kepulauan Seribu yang dengan caranya melacak serta mencari korban dan serpihan puing telah menunjukkan bahwa bangsa ini masih kuat.

Kerja kolaboratif dalam penanganan musibah Sriwijaya bisa dijadikan tonggak dalam menyelesaikan persoalan bangsa. Dengan kata lain, jika bangsa ini bersatu, masalah apa pun yang datang akan segera diselesaikan.

Merujuk Jemielniak, Turner, dan Rojek, kunci keberhasilan menghadapi masalah ialah solidaritas dan kolaborasi minus kepentingan. Kalaupun kepentingan terpaksa hadir di sana, kepentingannya ialah berpihak pada korban. Dalam logika demikian, solidaritas yang muncul harus berpijak pada semangat meringankan beban para korban.

Di sisi lain, sekarang bukan saat yang tepat untuk bersilat lidah saling menuduh siapa yang salah. Kelatahan beberapa orang untuk terus mengumbar hoaks dan berita bohong terkait bencana sedapat mungkin ditekan. Tanpa menggugat kehendak Dia Yang Berkuasa, naif kiranya di tengah musibah ini muncul berita bahwa ada seorang bayi selamat dalam tragedi yang sangat mengenaskan itu.

Kembali ke soal solidaritas dan kerja kolaboratif, masyarakat bisa memberikan dukungan melalui media sosial dengan cermat menggunakan kata dan kalimat. Menulis pesan di media sosial dengan cara dam motif yang salah tentu tidak dianjurkan.

Para pihak yang turun langsung di lapangan akan mendapatkan dukungan berarti jika semua elemen bangsa ini, dengan cara masing-masing, menjaga mulut dan mengontrol jempol.

Bangsa dan negara kita memang selalu menjadi bangsa yang post-factum. Kita menjadi manusia yang terlambat sadar. Kita baru sadar setelah ada masalah. Meski demikian, fakta solidaritas dan kolaborasi kerja kemanusiaan yang ditunjukkan para pihak di kasus Sriwijaya Air kuat menunjukkan bahwa bangsa ini adalah bangsa yang besar.

Solidaritas dan kerja kolaboratif bangsa kiranya dapat diimplementasikan dalam menghadapi musibah Sriwijaya atau masalah lainnya. Autentisitas solidaritas mendapat ujian penuh saat bencana terjadi dalam konteks dan waktu tertentu. Setiap usaha yang dilakukan mesti berlandaskan motif kemanusiaan. Dengan demikian, ego diri dan kepentingan sesaat individu tidak boleh dibawa ke lokasi bencana.

Baca Juga

Dok. Pribadi

Pendidikan Karakter di Masa Pandemi

👤Alpha Amirrachman Sekretaris Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah PP Muhammadiyah, Alumnus PPRA LX Lemhannas 🕔Rabu 27 Januari 2021, 05:15 WIB
MENURUT laporan UNESCO (2020), sebagai akibat dari wabah covid-19, sebanyak 1.543.446.152 siswa atau 89% dari total siswa di 188 negara,...
Dok. unair.ac.id

Ekonomi Digital Pascavaksin Covid-19

👤Rahma Sugihartati Dosen Masyarakat Digital Program S-3 Ilmu Sosial FISIP Universitas Airlangga 🕔Rabu 27 Januari 2021, 05:10 WIB
KETIKA pemberian vaksin covid-19 mulai digulirkan, optimisme dan harapan baru pun kembali merekah. Sejak pertengahan Januari 2021, vaksin...
Dok. Pribadi

Mencermati Putusan PN Surabaya Terhadap ANTM

👤Ferdy Hasiman | Pengamat Pertambangan & Energi 🕔Selasa 26 Januari 2021, 11:25 WIB
Kerja keras ANTM selama satu tahun bisa habis hanya untuk membayar ganti rugi, karena tidak membayar harga diskon kepada...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya