Selasa 27 Oktober 2020, 04:04 WIB

Siaga La Nina dan Multibencana Hidrometeorologi

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati | Opini
Siaga La Nina dan Multibencana Hidrometeorologi

Medcom.id
Kepala BMKG Dwikorita Karnawati

LA Nina merupakan fenomena iklim global hasil interaksi laut dan atmosfer yang terjadi akibat adanya anomali suhu muka air laut di Samudra Pasifik bagian tengah ekuator. Pada akhir September yang lalu, suhu muka laut di Samudra Pasifik Tengah sekitar 25.3 derajat Celsius, atau anomalinya sudah mencapai minus 0,9 derajat Celsius dari normalnya. Anomali tersebut telah berlangsung selama 6 dasarian atau 60 hari (berada pada level ‘lemah’ karena batas dikategorikan La Nina adalah minus 0,5 derajat Celsius).

Saat ini, anomali suhu muka laut sudah mencapai minus 1,1 derajat Celsius, atau sudah pada level ‘moderat’. Kondisi suhu muka laut yang terus mendingin di Pasifik ini menyebabkan perbedaan tekanan udara yang tajam antara wilayah Samudra Pasifik tengah ekuator dan wilayah perairan Indonesia yang memang cenderung hangat, yang saat ini mencapai 29,2 derajat Celsius. Dengan begitu, terjadilah aliran massa udara basah yang lebih kuat dari Samudra Pasifik ke wilayah kepulauan Indonesia.

Berdasarkan data historis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), La Nina ini diprediksi dapat berdampak pada peningkatan akumulasi curah hujan musiman dan bulanan yang bervariasi baik tempat dan waktunya hingga mencapai 20%-40% lebih tinggi dari normalnya. Selain itu, berpotensi memicu bencana hidrometeorologi seperti banjir, banjir bandang, tanah longsor, angin kencang, atau angin puting beliung.

Di Oktober dan November ini diprakirakan hampir seluruh wilayah kepulauan Indonesia, kecuali Pulau Sumatra, akan terdampak La Nina. Namun, kewaspadaan tetap harus ditingkatkan di wilayah Pulau Sumatra meskipun tidak terdampak La Nina. Kondisi topografi yang tinggi pada perbukitan Barisan mengakibatkan curah hujan bulanan yang tinggi hingga mencapai 400 mm di wilayah sepanjang pantai barat Sumatra.

Di samping itu, pada Oktober beberapa wilayah di Sumatra sudah masuk musim hujan dan sebagiannya sedang mengalami peralihan menuju musim hujan yang umumnya ditandai dengan perubahan cuaca mendadak dan dinamis, yang juga dapat disertai kejadian cuaca ekstrem seperti badai guntur dan angin ribut.

Puncak La Nina

Kemudian, pada Desember 2020 hingga Februari 2021, dampak La Nina diprediksi terjadi di wilayah Indonesia bagian tengah, utara, dan timur. Adapun puncak La Nina dan puncak musim hujan diprediksi terjadi di Desember 2020 serta Januari dan Februari 2021. Selanjutnya, La Nina diprediksi mulai melemah pada Maret-April 2021 sampai akhirnya berakhir sekitar Mei 2021.

Berdasarkan analisis data suhu muka laut di ketahui bahwa siklus terjadinya La Nina bervariasi 2-8 tahun. La Ni na kuat pada 2010/2011 yang menyebabkan curah hujan tinggi di Indonesia hampir sepanjang tahun dan menyebabkan banjir yang merusak lahan persawahan, dengan total angka kerusakan mencapai 8,1% dari rata-rata luas tanam nasional (13.500.000 ha/tahun). Pada tahun tersebut banyak wilayah di Indonesia yang mengalami ‘tahun tanpa musim kemarau’.

Belajar dari pengalaman di 2010 tersebut, sedini mungkin kita harus bersiap mengantisipasi dampak La Nina. Untuk daerah-daerah yang sering terjadi perulangan banjir, banjir bandang, dan tanah longsor, diharapkan dapat mengambil langkah mitigasi lebih awal. Misalnya, dengan membuat papan pengumuman atau peringatan di zona rawan, agar masyarakat lebih berhati-hati.

Kemudian bagi semua pihak terkait atau pemangku kepentingan, perlu segera melakukan optimalisasi tata kelola air terintegrasi dari hulu dan hilir agar air bisa lebih terkendali dan terkontrol, serta perlu penyiapan kapasitas sungai dan kanal untuk antisipasi debit air berlebih.

Masyarakat juga terus diimbau untuk memonitor prakiraan, perkembangan cuaca, dan peringatan dini cuaca ekstrem di aplikasi mobilephone INFO BMKG, yang dapat diinstal dari Play Store atau Apple Store.

Di fitur cuaca dalam aplikasi tersebut sudah tersedia informasi prakiraan cuaca selama 7 hari ke depan, dengan update setiap 3 jam sampai 6 jam setiap hari untuk seluruh wilayah kecamatan di Indonesia.

Selain La Nina, dapat pula terjadi fenomena iklim dalam siklus yang lebih pendek, yaitu 30-60 hari, yang dikenal dengan fenomena Madden-Julian Oscilation (MJO), gelombang atmosfer tropis yang bergerak dari Samudra Hindia ke Samudra Pasifik melintasi Indonesia.

MJO ini dapat meningkatkan intensitas hujan harian. Pengaruh MJO di suatu wilayah biasanya berlangsung 2-5 hari.

Fenomena ini juga baru saja terjadi di Indonesia mulai 18 Oktober hingga 24 Oktober yang lalu sehingga waktu itu sesuai prediksi BMKG telah terjadi peningkatan curah hujan yang signifikan, meskipun baru memasuki awal musim hujan dan fase awal La Nina.

Yang dikhawatirkan MJO ini akan terulang siklusnya satu hingga dua bulan ke depan pada saat La Nina ‘moderat’ ini mencapai puncaknya di bulan Desember nanti.

Selain MJO, pada saat monsun aktif wilayah kepulauan Indonesia berpotensi pula mengalami fenomena cuaca regional, berupa masuknya seruak udara dingin dari Asia di dataran tinggi Tibet menuju ke Laut China Selatan dan dapat berlanjut masuk ke Bangka-Belitung, sebagian Banten dan Jabodetabek, seperti yang terjadi akhir tahun lalu yang mengakibatkan banjir di Jabode tabek di awal tahun ini.

Terjadi bersamaan

Ketiga fenomena di atas, baik La Nina, MJO, mupun seruak udara dingin dimungkinkan dapat terjadi bersamaan, misal di akhir tahun ini. Oleh karena itu, BMKG terus memonitor dengan ketat serta menganalisis perkembangan dinamika atmosfer dan interaksinya dengan laut dan samudra, dan akan segera menyampaikan peringatan secara dini ke masyarakat dan pihak-pihak terkait untuk upaya antisipasi lanjut.

Untuk mengantisipasi skenario terburuk kejadian tiga fenomena iklim tersebut secara bersamaan, pada 7 Oktober 2020 BMKG telah menyelenggarakan Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) yang dikoordinasikan oleh Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi untuk mewujudkan efektivitas sinergi antarkementerian/lembaga dan pemerintah daerah dalam mencegah korban jiwa (zero victims) dan kerugian akibat dari bahaya hidrometeorologi di masa pandemi covid-19.

Dalam rakornas tersebut telah dirumuskan bersama alternatif solusi dari permasalahan- permasalahan yang teridentifikasi, berupa rencana aksi bersama untuk mewujudsskan zero victims dalam menghadapi multibencana tersebut.

Baca Juga

MI/Duta

Tantangan Guru Masa Kini

👤Anggi Afriansyah Peneliti LIPI, Dewan Pakar Perhimpunan untuk Pendidikan Guru (P2G) 🕔Senin 30 November 2020, 03:25 WIB
PAULO Freire (2000) dalam Pedagogy of Freedom: Ethics, Democracy and Civic Courage menyebut ada tiga hal penting tentang...
Dok. Pribadi

Literasi Digital Guru

👤Khoiruddin Bashori Direktur Advokasi dan Pemberdayaan Masyakarat Yayasan Sukma Jakarta 🕔Senin 30 November 2020, 03:00 WIB
HARI Guru Nasional kali ini terasa sangat spesial karena diperingati di tengah...
Dok. Pribadi

Urgensi Reformasi Tata Kelola Sumber Daya Perikanan Laut

👤Didik S Setyadi Kandidat Doktor Ilmu Pemerintahan IPDN Jatinangor, Pengamat Kebijakan Publik dan Chairman of Airlangga Law and Governance Institute 🕔Minggu 29 November 2020, 18:13 WIB
Padahal, UUD Negara Republik Indonesia telah mengamanahkan bahwa sumber kekayaan alam harus dikelola oleh Negara untuk sebesar-besar...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya