Headline
RI tetap komitmen perjuangkan kemerdekaan Palestina.
RI tetap komitmen perjuangkan kemerdekaan Palestina.
Kumpulan Berita DPR RI
SEMANGAT gotong – royong, dan saling membantu warga Indonesia selama pandemik corvid-19 ini telah teruji nyata, implementasi dari Sila ke-lima Pancasila. Dimulai dari membuat dan membagi-bagikan masker, hand sanitizer, disinfektan, sabun cuci tangan, sampai memberikan bantuan pangan kepada mereka yang tidak teruntungkan sebagai dampak dari pembatasan gerak.
Para penyumbangnya bisa siapa saja, orang kebanyakan yang hanya mampu menyumbang uang tunai Rp 10 ribu, sampai pengusaha besar yang mampu menyumbang beras sampai 1 ton per hari, atau jutaan masker. Mereka yang tidak mampu menyumbang uang tunai, ikhlas menyumbangkan tenaganya untuk menjadi relawan dapur umum atau pengantar bantuan pangan ke rumah-rumah.
Namun, pada saat yang sama ada saja warga yang bersikap tidak peduli, berpikiran sempit, dan mementingkan diri sendiri. Sikap ini tidak berhubungan dengan keyakinan, wilayah, latar belakang sosial, kekayaan, usia, ataupun tinggi rendahnya jenjang pendidikan.
Berbagai macam tingkah polahnya, ada yang beramai-ramai mengusir petugas medis dari tempat kost-nya karena takut tertular covid-19, atau mereka yang masih diduga terinfeksi Covid-19, kadang bekerja sama dengan pemilik kost-nya. Ada yang tidak mengaku sebagai PDP (Pasien Dalam Pengawasan) ke dokter ketika ia sakit. Sehingga menularkan ke dokter yang merawatnya.
Tercatat beberapa dokter - yang tidak menangani pasien covid-19, meninggal karena tertular pasiennya. Ada pasien yang sudah melalui test terbukti terinfeksi covid-19, ngotot meminta pulang sampai menyandera perawat yang mencegahnya ke luar ruang isolasi. Ada ketua RT yang menolak penguburan warganya di wilayahnya yang meninggal karena terinfeksi covid-19. Ada warga yang menolak protokol penguburan pasien covid-19. Sehingga, mereka mencuri jasad keluarganya dari rumah sakit, dan menguburkannya dengan cara biasa: dimandikan, disalatkan bersama, tanpa pelindung diri.
Bahkan ada yang rela bergerombol dalam masa psbb (Pembatasan Sosial Berkala Besar) untuk sekadar merayakan penutupan restoran cepat saji yang sudah puluhan tahun beroperasi. Ini di luar kerumunan warga yang mengantar panutannya yang terinfeksi covid-19 dijemput petugas kesehatan yang lengkap dengan APD-nya. Bukan hanya berkerumun, bahkan ada yang mencium tangan dan memeluk, ketimbang mendoakan dari kejauhan.
Belum lagi yang tidak meyakini covid-19 itu ada. Menurut mereka, covid-19 hanyalah konspirasi para pedagang APD/ Alat Pelindung Diri, produsen mesin kesehatan dan penjual vaksin, atau mereka yang meyakini bahwa hidup-mati itu di tangan Tuhan. Sehingga, hidup dan bersikap seperti biasa sebelum pandemi covid-19 terjadi.Termasuk, mereka yang menimbun masker, dan hand sanitizer sementara kedua barang ini sangat dibutuhkan masyarakat.
Sikap ini yang disebut Covidiots. Covidiots terinspirasi dari covid-19 yang memunculkan tabiat buruk sebagian orang yang panik menghadapi wabah ini. Tentu saja covidiots belum masuk kamus resmi manapun.
Cerita di atas menyebar di hampir seantero negeri ini. Kini setelah tiga bulan berlalu, setelah angka orang yang terinfeksi mencapai 38 ribu, dan, jumlah orang yang terinfeksi setiap harinya secara nasional terus naik, serta, setelah jumlah orang meninggal karena covid-19 lebih dari 2000 orang.
Kisah covidiot juga terus berlanjut. Testimoni, foto orang berkerumun, berdesak-desak, tamasya bersama, perayaan ulang tahun, temu kangen, nongkrong, atau sekadar ngopi cantik bersebaran di media massa dan sosial media.
Entah mengapa ini bisa terjadi. Jikapun ada yang memiliki kesadaran, secara sukarela menjalankan protokol kesehatan. Isolasi diri, menghindari kerumunan, memakai masker jika keluar, tidak bersentuhan dengan orang lain, jika kembali ke rumah mencuci baju, mandi dan mengelap barang-barang yang dari luar. Ternyata tidak semua orang mampu menjalankannya. Ada yang tidak mampu menjalankannya, karena memang tidak punya rumah, ada yang tidak mampu menjalankannya. Karena, sekadar tidak mau tinggal di rumah.
Kisah pilu beberapa anggota keluarga meninggal dalam kurun waktu seminggu sesudah merayakan ulang tahun sesepuhnya. Atau, pesta perpisahan perusahaan, atau sekeluarga yang terinfeksi dan meninggal setelah mengunjungi mertuanya. Akhirnya sekadar menjadi catatan, tidak mampu mengurai derasnya kelakuan nyeleneh para covidiots itu.
Di luar kelompok covidiots dan kaum rebahan (sebutan mereka yang persisten tinggal di rumah), ada kelompok masyarakat lain yang paham dan sadar akan bahaya covid-19 serta kiat pencegahannya. Namun, tidak mampu menahan bendungan tekanan sosial.
Mungkin rasa tidak enak dengan keluarga sendiri maupun teman akrabnya. Menjaga jarak, tidak bersalaman ataupun memeluk dapat dianggap sebagai perilaku sombong dan tidak menunjukkan rasa hormat. Atau ibu yang memiliki bayi, yang tidak bisa menolak ketika orang di sekelilingnya gemas ingin mencubit, mencium, ataupun menggendong bayinya, tidak mampu mengatakan tidak, karena merasa tidak enak.
Covidiots dan mereka yang masih ragu dan merasa tidak enak, berpotensi besar menghalangi usaha pemutusan mata rantai penularan covid-19.
Terhadap mereka ada dua tindakan yang perlu dilakukan. Pertama, penegakan hukum, terutama ditujukan kepada aksi warga yang membahayakan, seperti menyerang petugas medis, dan mengambil paksa jenazah. Kedua, tindakan persuasif dan memberikan informasi terus-menerus untuk mengingatkan dan meyakinkan mereka akan bahaya covid-19. Mari bersama-sama kita jaga kesehatan kita untuk kepentingan bersama. (OL-12)
Teknologi artificial intelligence yang semula sekadar alat yang bersifat pasif --semacam kalkulator yang menunggu instruksi-- menjadi AI yang bertindak sebagai kolaborator sejati.
Tidak ada makan siang gratis di dalam politik. Bantuan elite dan oligarki tentu menuntut balasan.
Pahit getir pembentukan negara tidak bisa dilepaskan pula dari derita luka dan sengsaranya rakyat. Nyawa rakyat lebih banyak musnah dibandingkan nyawa elite selama berjuang.
Empat langkah krusial tetap dibutuhkan agar kebijakan tidak berhenti sebagai respons sesaat.
Fenomena penghujat di masyarakat bukan hal baru. Dalam psikologi sosial ini disebut negativity bias: kecenderungan manusia lebih cepat melihat kesalahan ketimbang kebaikan.
Pertanyaan yang menyentak bukanlah apakah mungkin membubarkan lembaga DPR di alam demokrasi, melainkan mengapa anggota DPR minta tunjangan rumah Rp50 juta per bulan.
GURU Besar Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya, Dominicus Husada, menilai penularan virus Nipah tidak sebesar kasus covid-19 yang menjadi pandemi.
Secara sederhana, zoonosis adalah penyakit infeksi yang ditularkan dari hewan vertebrata ke manusia.
Ia menjelaskan, salah satu langkah pencegahan yang dilakukan adalah melakukan vaksinasi untuk kepada masyarakat.
Bencana banjir di Sumatra memicu kritik terhadap respons pemerintah. Sosok almarhum Achmad Yurianto kembali dikenang atas perannya sebagai juru bicara pemerintah saat pandemi Covid-19.
Termometer perlu disterilisasi untuk membunuh kuman dan bakteri jika digunakan pada banyak orang.
DALAM beberapa minggu terakhir, rumah sakit dan klinik di wilayah Jabodetabek mencatat peningkatan signifikan pasien dengan gejala flu yang mirip covid-19.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved