Headline

Gibran duga alih fungsi lahan picu tanah longsor di Cisarua.

Metropolutan

Adiyanto, wartawan Media Indonesia
29/7/2019 17:07
Metropolutan
adiyanto(dok.mi)

DALAM sepekan terakhir Jakarta berselimut kabut. Nàmun bukan halimum hasil pertemuan udara dingin dan panas yang menghasilkan pemandangan romantis seperti di pegunungan, melainkan asap polusi yang terperangkap di bawah atmosfir.

Berdasarkan situs pemantau udara www.airvisual.com, Jumat (26/7) akhir pekan kemarin, kota yang katanya metropolitan ini mendapat skor 184 atau yang terburuk di dunia dari segi kualitas udara. Selang beberapa hari kondisinya nggak jauh beda. Bahkan, pada Minggu (28/7) pagi, yang diisi kegiatan Car Free Day atau hari bebas kendaraan, udara Jakarta tetap jorok. Berdasarkan situs itu, tingkat pencemaran udara di Jakarta bahkan masuk dalam kategori sangat tidak sehat.

Berbagai polutan seperti sulfur, karbon monoksida, dan aerosol terperangkap dalam selubung rumah kaca dan membahayakan kesehatan. Partikel-partikel berbahaya itu merupakan hasil aktivitas manusia, baik dari cerobong pabrik, asap kendaraan, debu proyek konstruksi, hingga pàrfum pengharum tubuh maupun ruangan. Berapa pun prosentasenya, semua itu tentunya ikut berkontribusi pada polusi.

Itu artinya ada korelasi antara kebudayaan dan alam. Maksudnya, manusia secara tidak langsung (meski tidak selalu), ikut bertanggung jawab terhadap perubahan fisik alam, termasuk bencana yang ditimbulkannya. Banjir tentu tak sekonyong-konyong datang, begitupun kebakaran hutan maupun lahan.

Hal ini bukan tidak disadari. Naluri keserakahanlah yang barangkali membuat otak manusia tumpul membaca gejala ekologis ini, bahwa alam memiliki keterbatasan seperti halnya makhluk lainnya di planet ini. Itu makanya ada nasehat, hidup mesti selaras dengan alam. Yin Yang, kata filsafat Tiongkok.

Kembali soal polusi Jakarta, tentu tidak bijak jika kita menyalahkan dan menuntut tanggung jawab Pemprov DKI semata. Semua warga, baik sekadar numpang cari makan maupun menetap, entah itu Teteh, Aa, Encing, Encang, Enyak, maupun Babe, harus punya kesadaran merawat kota ini. Salah satu solusi sederhana yang barangkali bisa dilakukan adalah tidak membakar sampah sembarangan  serta beralih ke kendaraan umum, atau minimal mengurangi penggunaan kendaraan pribadi.

Kebijakan kendaraan listrik yang kini sedang digadang pemerintah, terutama untuk transportasi publik, barangkali juga bisa menjadi salah satu alternatif solusi untuk mengurangi dampak polusi. Begitu pun penggunaan sepeda  berikut sarana pendukungnya, sebagai wahana mobilitas.

Kesadaran atapun tindakan semacam ini tentu harus dimulai dari sekarang.  Jangan tunggu kota ini berubah menjadi Metropolutan. (X-12)

 

 

 

 

 

 

 

 

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya