Headline

Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.

BPJS Kesehatan Catat Biaya Penyakit Kronis Rp50,2 Triliun

Atalya Puspa    
23/1/2026 18:31
BPJS Kesehatan Catat Biaya Penyakit Kronis Rp50,2 Triliun
Petugas BPJS Kesehatan memberikan informasi program jaminan kesehatan kepada warga saat layanan BPJS Kesehatan Keliling dengan Mobile Customer Service (MCS) pada Hari Bebas Kendaraan Bermotor (HBKB) di Ternate, Maluku Utara, beberapa wkatu lalu.(Antara/Andri Saputra)

BEBAN pembiayaan penyakit kronis masih menjadi tantangan besar dalam sistem jaminan kesehatan nasional. Sepanjang 2025, BPJS Kesehatan mencatat pengeluaran Rp50,2 triliun hanya untuk menangani penyakit kronis dari total Rp190,3 triliun biaya pelayanan kesehatan yang dibayarkan.

Kepala Humas BPJS Kesehatan Rizzky Anugerah mengatakan, dana tersebut digunakan untuk membiayai 59,9 juta kasus penyakit kronis seperti jantung, gagal ginjal, kanker, stroke, sirosis hati, thalassemia, hingga hemofilia.

"Dari tahun ke tahun, biaya yang dibayarkan untuk penyakit kronis makin meningkat. Padahal penyakit-penyakit tersebut sebenarnya bisa dicegah sejak dini jika kita konsisten menerapkan pola hidup sehat," ujar Rizzky, Jumat (23/1).

Data BPJS Kesehatan menunjukkan, penyakit jantung menjadi penyumbang beban terbesar dengan 29,7 juta kasus dan biaya mencapai Rp17,3 triliun. Gagal ginjal menyusul dengan 12,6 juta kasus dan biaya Rp13,3 triliun. Kanker tercatat sebanyak 7,2 juta kasus dengan pembiayaan Rp10,3 triliun.

Rizzky menegaskan, sebagian besar penyakit tersebut berkaitan erat dengan gaya hidup. Karena itu, BPJS Kesehatan mendorong penguatan upaya promotif dan preventif di masyarakat, salah satunya melalui Gerak 335 berupa aktivitas fisik sederhana berupa kombinasi jalan santai dan jalan cepat selama total 30 menit yang bisa dilakukan kapan saja tanpa alat khusus.

Selain aktivitas fisik, BPJS Kesehatan juga mengajak masyarakat memanfaatkan layanan Skrining Riwayat Kesehatan yang tersedia melalui Aplikasi Mobile JKN, layanan WhatsApp PANDAWA, situs resmi BPJS Kesehatan, maupun di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP).

"Proses pengisiannya hanya 5–10 menit, tetapi manfaatnya besar. Masyarakat bisa mengetahui lebih awal apakah memiliki risiko penyakit kronis atau tidak," kata Rizzky.

Pentingnya pencegahan juga disoroti Guru Besar Ilmu Gizi Poltekkes Kemenkes Jakarta II, Prof. Trina Astuti. Menurutnya, penyakit kronis memerlukan pengobatan jangka panjang dan berbiaya tinggi, sehingga perubahan pola hidup sehat menjadi kunci utama.

Menjelang Hari Gizi Nasional ke-66 pada 25 Januari, Trina mengingatkan pentingnya penerapan empat Pilar Gizi Seimbang, yakni konsumsi makanan beragam, perilaku hidup bersih dan sehat, aktivitas fisik, serta menjaga berat badan ideal.

Ia juga menekankan panduan Isi Piringku sebagai cara sederhana memenuhi kebutuhan gizi harian. "Setengah piring berisi sayur dan buah, seperempat karbohidrat, dan seperempat protein hewani atau nabati," jelasnya.

Selain itu, konsumsi gula, garam, dan lemak perlu dibatasi, masing-masing maksimal empat sendok makan gula, satu sendok teh garam, dan lima sendok makan lemak per hari. Membaca label gizi pada kemasan makanan juga dinilai penting agar masyarakat lebih sadar terhadap asupan yang dikonsumsi.

"Sehat itu dimulai dari isi piring diikuti kebiasaan bergerak dan memantau berat badan secara rutin. Tiga hal ini paling realistis dan efektif untuk mencegah penyakit kronis," pungkas Trina. (I-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya