Headline

Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.

Hasil CKG 2025, Gigi Berlubang Masalah Kesehatan Termasif

Atalya Puspa    
23/1/2026 18:19
Hasil CKG 2025, Gigi Berlubang Masalah Kesehatan Termasif
Ilustrasi.(Freepik)

PROGRAM Cek Kesehatan Gratis (CKG) 2025 mengungkap satu masalah kesehatan yang kerap dianggap sepele, tetapi ternyata paling masif dialami masyarakat lintas usia, yakni gigi berlubang atau karies gigi. Temuan ini muncul hampir di semua kelompok umur, dari balita hingga dewasa, dengan prevalensi yang terus meningkat seiring bertambahnya usia.

Direktur Jenderal Kesehatan Masyarakat Kementerian Kesehatan Maria Endang Sumiwi menyampaikan, pada kelompok balita dan anak prasekolah usia 1-6 tahun, karies gigi ditemukan pada 31 persen anak atau sekitar satu dari tiga anak.

"Masalah utama pada balita dan anak prasekolah itu gigi berlubang sekitar 31 persen. Jadi satu dari tiga anak," ujar Maria dalam konferensi pers secara daring, Jumat (23/1).

Menurut Maria, gigi berlubang bukan hanya persoalan estetika atau rasa nyeri, melainkan berdampak langsung pada kualitas tumbuh kembang anak. Infeksi gigi dapat memicu sakit tenggorokan berulang, mengganggu konsentrasi belajar, hingga menyebabkan anak sering absen sekolah.

"Kalau gigi berlubang, anak sering demam, sering infeksi tenggorokan, lalu tidak masuk sekolah. Kalau sering sakit, nanti perkembangan dan pertumbuhannya terganggu," katanya.

Masalah karies gigi bahkan lebih tinggi pada kelompok usia sekolah dan remaja. Data CKG mencatat 47 persen anak sekolah dan remaja mengalami gigi berlubang, hampir setengah dari populasi yang diperiksa.

"Pada usia sekolah dan remaja malah 47 persen yang mengalami gigi berlubang atau karies gigi," tutur Maria.

Tak berhenti di usia muda, persoalan kesehatan gigi berlanjut hingga kelompok dewasa. Dari sekitar 15 juta orang dewasa yang diperiksa giginya, sebanyak 9 juta orang ditemukan menderita gigi berlubang.

"Pada usia dewasa, dari 15 juta yang diperiksa, 9 juta di antaranya menderita gigi berlubang," ungkap Maria.

Kementerian Kesehatan menilai tingginya angka karies gigi berkaitan erat dengan perilaku hidup sehari-hari, terutama kebiasaan mengonsumsi makanan dan minuman tinggi gula, serta rendahnya disiplin dalam menjaga kebersihan gigi dan mulut.

Sebagai langkah pencegahan, Maria menegaskan pentingnya perilaku dasar yang konsisten dilakukan sejak usia dini. "Gosok gigi dua kali sehari dengan pasta gigi berfluoride, setelah sarapan dan sebelum tidur malam, serta periksa gigi setiap enam bulan sekali," katanya. 

Jika gigi sudah berlubang, ia menekankan pentingnya penanganan sedini mungkin agar tidak berujung pada pencabutan.

Temuan ini menjadi catatan penting bagi pemerintah daerah dan sektor pendidikan. Pemeriksaan kesehatan gigi melalui CKG di sekolah, menurut Kementerian Kesehatan, perlu diperkuat dengan edukasi berkelanjutan kepada anak, remaja, dan orangtua.

Masifnya masalah gigi berlubang juga mencerminkan tantangan kesehatan preventif di Indonesia. Tanpa perubahan perilaku dan penguatan layanan kesehatan gigi primer, karies gigi berpotensi terus menjadi penyakit yang menurunkan kualitas hidup masyarakat.

"Masalah gigi ini kelihatannya sederhana, tetapi dampaknya besar terhadap kualitas hidup dan kesehatan secara keseluruhan," pungkas Maria. (I-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya