Headline

Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.

Studi: Awan di Samudra Atlantik dan Pasifik Kini Makin Redup, Bumi Makin Panas

Thalatie K Yani
08/11/2025 11:05
Studi: Awan di Samudra Atlantik dan Pasifik Kini Makin Redup, Bumi Makin Panas
Penelitian terbaru menemukan awan di Samudra Atlantik dan Pasifik kini makin redup akibat udara yang lebih bersih.(NASA)

KEBERSIHAN udara ternyata punya efek tak terduga bagi iklim global. Sebuah studi terbaru menemukan bahwa reflektivitas awan laut, yang membantu memantulkan sinar matahari kembali ke angkasa, menurun sekitar 2,8% setiap dekade di wilayah Atlantik Utara dan Pasifik Timur Laut.

Kedua kawasan itu mencakup sekitar seper­tujuh luas permukaan Bumi, sehingga penurunan kecil dalam kecerahan awan dapat memberikan dampak besar terhadap pemanasan global.

Penelitian yang dipimpin Dr. Knut von Salzen dari University of Washington ini mengungkap bahwa udara yang semakin bersih, akibat penurunan partikel polusi, justru membuat awan menjadi lebih redup dan memungkinkan lebih banyak energi matahari mencapai permukaan laut.

Awan Redup, Lautan Makin Panas

Awan berperan penting dalam menjaga keseimbangan suhu Bumi lewat efek albedo, yakni kemampuan memantulkan cahaya matahari. Namun, data satelit NASA (CERES EBAF) menunjukkan bahwa efek refleksi awan di dua samudra besar tersebut terus menurun selama dua dekade terakhir.

Von Salzen menjelaskan penurunan partikel udara menyebabkan tetesan air dalam awan menjadi lebih besar, sehingga awan kehilangan sebagian kecerahannya dan lebih cepat menguap. 

“Kita mungkin selama ini meremehkan tren pemanasan global karena hubungan ini lebih kuat dari yang diperkirakan,” ujarnya.

Udara Bersih, Efek Samping Tak Terduga

Penurunan partikel aerosol, seperti sulfur dioksida dari pembangkit listrik dan industri, terjadi secara global akibat kebijakan pengendalian polusi. Hal ini membawa manfaat besar bagi kesehatan manusia, namun juga mengurangi jumlah nukleasi awan, yaitu partikel kecil tempat uap air membentuk tetesan.

Dengan berkurangnya partikel tersebut, awan laut menjadi kurang reflektif dan cenderung menipis, memungkinkan lebih banyak panas terserap oleh laut. “Kita tentu tidak ingin menghapus undang-undang udara bersih,” ujar Sarah Doherty, peneliti senior di University of Washington. “Tapi penting untuk memahami bagaimana udara yang lebih bersih memengaruhi keseimbangan energi Bumi.”

Tantangan Baru untuk Prediksi Iklim

Para peneliti memperingatkan bahwa berkurangnya reflektivitas awan ini dapat mempercepat pemanasan regional di permukaan laut. Kondisi ini juga menimbulkan efek umpan balik (feedback loop): ketika laut menghangat, awan rendah menipis, dan semakin banyak energi matahari yang diserap laut.

Beberapa ilmuwan kini meneliti konsep “marine cloud brightening”. Teknik yang mencoba mencerahkan awan dengan menyemprotkan partikel garam laut halus ke udara. Namun, efektivitas dan keamanannya masih menjadi perdebatan.

Penelitian ini menegaskan bahwa udara yang lebih bersih bukan berarti Bumi lebih sejuk. Sebaliknya, kebijakan pengurangan polusi perlu diimbangi dengan langkah agresif menekan emisi gas rumah kaca agar pemanasan global tidak makin cepat. (earth/Z-2)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya