Headline

Kasus kuota haji diperkirakan merugikan negara Rp622 miliar.

Konflik Timur Tengah Ancam Formula 1, GP Bahrain dan Arab Saudi Diperkirakan Dibatalkan

Khoerun Nadif Rahmat
13/3/2026 19:03
Konflik Timur Tengah Ancam Formula 1, GP Bahrain dan Arab Saudi Diperkirakan Dibatalkan
Formula One Grand Prix di Bahrain International Circuit, Sakhir(Giuseppe CACACE / AFP)

KONFLIK di Timur tengah mengancam agenda Formula 1 dan Grand Prix atau GP Bahrain dan Grand Prix Arab Saudi yang sebelumnya akan diumumkan pada akhir pekan ini. Informasi tersebut muncul dari sumber di paddock Formula 1 yang berada di Shanghai.

Dikutip dari Crash, nasib dua seri balapan itu menjadi tanda tanya sejak konflik di kawasan Teluk pecah pada 28 Februari lalu setelah serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel ke Iran.

Sejauh ini, FIA bersama manajemen Formula 1 terus memantau perkembangan situasi sambil berkoordinasi dengan promotor balapan di Bahrain dan Jeddah.

Jika pembatalan benar terjadi, tidak ada rencana untuk menambah seri pengganti. Kalender kejuaraan dunia Formula 1 musim 2026 akan tersisa 22 balapan dengan jeda sekitar empat pekan antara GP Jepang dan GP Miami.

Selain faktor keselamatan yang menjadi prioritas utama, pembatalan balapan juga melibatkan pertimbangan komersial yang kompleks. Promotor Arab Saudi disebut masih berupaya mempertahankan penyelenggaraan balapan di Jeddah jika situasi memungkinkan.

Namun dengan belum adanya tanda perbaikan kondisi keamanan di kawasan tersebut serta gangguan jalur penerbangan, keputusan harus segera diambil.

Langkah itu diperlukan agar tim dan pemangku kepentingan dapat menyesuaikan rencana logistik, termasuk pembatalan ribuan jadwal penerbangan dan pemesanan kamar hotel.

Tenggat penting berkaitan dengan jadwal pengiriman kargo dari Jepang setelah balapan di Suzuka yang semula akan dikirim ke Bahrain sebelum dilanjutkan ke Jeddah. Dalam skenario terbaru, logistik tersebut kemungkinan dialihkan langsung menuju Miami.

Dengan jeda empat minggu sebelum balapan di Amerika Serikat, muncul pula diskusi apakah kargo akan dikirim langsung ke Florida atau disimpan sementara di fasilitas penyimpanan dengan pengatur suhu.

Tim juga memiliki opsi menerbangkan sasis mobil mereka kembali ke Eropa untuk menjalani perawatan di pabrik sebelum dikirim ke Miami. Opsi tersebut masih berada dalam batas regulasi pengeluaran cost cap.

Di sisi lain, kargo untuk Formula 2 dan Formula 3 masih tertahan di Melbourne. Kedua kategori junior itu juga awalnya dijadwalkan berlomba di Bahrain dan di Jeddah.

Belum ada kepastian apakah seri junior yang hilang akan diganti. Namun kemungkinan penggantian tetap terbuka karena adanya kewajiban kontraktual dengan para pebalap yang telah membayar penuh untuk satu musim.

Masalah tambahan bagi tim F1 datang dari perlengkapan kargo laut yang masih tertinggal di Sakhir setelah tes pramusim Bahrain, dengan seluruh garasi masih terpasang.

Pemasok ban F1, Pirelli, serta pabrikan McLaren, dan Mercedes bahkan meninggalkan lebih banyak peralatan karena sempat bertahan di Bahrain untuk menjalani tes ban yang akhirnya dibatalkan saat konflik pecah.

Sebagian perlengkapan juga sudah berada di Jeddah, tetapi masih tersimpan dalam peti kemas sehingga relatif lebih mudah untuk dipindahkan ke lokasi lain.

Situasi itu membuat tim harus kembali ke markas masing-masing selama sekitar satu bulan untuk fokus pada riset dan pengembangan serta menganalisis data dari tiga balapan pertama musim ini. Para pebalap juga memiliki waktu tambahan untuk menjalani sesi simulator.

Tim juga harus menyesuaikan program pengembangan mobil. Komponen baru yang sebelumnya dipersiapkan untuk seri Bahrain dan Arab Saudi kini ditunda penggunaannya hingga balapan di Miami.

Selain itu, hilangnya dua seri tersebut membuat perubahan pada jadwal uji rasio kompresi mesin pada 1 Juni di Monako yang kini akan dilakukan setelah balapan kelima, bukan lagi setelah balapan ketujuh.

Para prinsipal tim Formula 1 sendiri enggan memberikan banyak komentar terkait situasi di Bahrain dan Jeddah. Mereka menyatakan kepercayaan penuh kepada FIA dan manajemen F1.

"Saya pikir kami mengikuti panduan dari FIA dan F1, seperti yang selalu kami lakukan," ujar prinsipal tim Audi, Jonathan Wheatley. (H-4)
 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Indriyani Astuti
Berita Lainnya