Headline
Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.
Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.
Kumpulan Berita DPR RI
FORMULA 1 dan federasi otomotif internasional (FIA), Rabu (22/1), mempertegas komitmen mereka untuk menjadi olahraga dengan jejak karbon nol pada 2030 dengan menandatangani kerangka kerja iklim dari PBB.
Di dalam Sport for Climate Action Framework tersebut, F1 harus memenuhi lima kriteria mulai dari meningkatkan tanggung jawab terhadap lingkungan lewat upaya sistematis, mengurangi dampak terhadap iklim, hingga melakukan edukasi.
"Tahun lalu, Formula 1 meluncurkan untuk pertama kalinya strategi berkelanjutan yang mengakui pentingnya peran yang harus kami lakukan untuk mencegah perubahan iklim," kata CEO Formula 1 Chase Carey seperti dikutip laman resmi F1.
"Aksi yang akan kami lakukan di tahun-tahun ke depan akan mengurangi jejak karbon kami dan memastikan kami memiliki jejak karbon nol pada 2030."
Baca juga: Bikin Macet, Trek Grand Prix Miami akan Didesain Ulang
"Kami senang bisa bergabung dengan upaya PBB dalam hal ini dan akan bekerja sama dengan FIA, tim dan mitra untuk memastikan kami mencapai rencana kami dan menerapkan perubahan yang berarti," imbuhnya.
FIA adalah induk olahraga otomotif dunia yang terdiri atas 244 anggota yang tersebar di 140 negara.
Presiden FIA Jean Todt pun menyatakan komitmennya dan menyebut penandatanganan kerangka kerja PBB itu memperkuat momentum yang telah
tumbuh di federasi selama bertahun-tahun.
"Mulai dari pengenalan power unit hybrid di F1 hingga pembentukan Komisi Keberlanjutan dan Lingkungan, seluruh komunitas FIA telah menginvestasikan waktu, energi dan sumber finansial kepada inovasi yang memperhatikan lingkungan. Kami bertujuan menumbuhkan perhatian yang lebih besar dan praktik terbaik dalam standar motor sport yang berkelanjutan," pungkas Todt. (OL-1)
Studi terbaru USC mengungkap polusi panas tak hanya mengancam nyawa, tapi merusak sel. Lansia di area panas menua lebih cepat secara biologis.
Lautan dunia menyerap panas ekstrem tahun 2025, memecahkan rekor selama sembilan tahun berturut-turut. Simak dampak mengerikannya bagi iklim global.
Peneliti Oxford mengungkap bagaimana bentuk garis pantai dapat menjebak spesies laut saat suhu memanas. Garis pantai Timur-Barat tingkatkan risiko kepunahan.
PERINGATAN mengenai ancaman perubahan kiamat iklim kembali menguat seiring dengan ditemukannya fenomena geologi yang tidak biasa di Greenland.
Kawasan mangrove, yang berperan penting sebagai pelindung pantai, penyerap karbon, serta habitat keanekaragaman hayati, menjadi salah satu fokus rehabilitasi.
Sebagai hewan ektotermik, suhu lingkungan jadi penentu utama siklus hidup nyamuk. Karena itu perubahan iklim berdampak besar pada penyakit akibat gigitan nyamuk.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved