Headline

Prabowo kembali gelar rapat terbatas bahas dampak perang di wilayah Timur Tengah.

8,2 Juta Orang Diprediksi Masuk DIY pada Libur Idulfitri 2026

Agus Utantoro
11/3/2026 18:04
8,2 Juta Orang Diprediksi Masuk DIY pada Libur Idulfitri 2026
Ilustrasi(Dok Istimewa)

KAPOLDA Daerah Istimewa Yogyakarta Brigjen Pol. Anggoro Sukartono  mengungkapkan, DIY sebagai salah satu tujuan utama mobilitas masyarakat pada periode arus mudik dan libur Idulfitri 1447 Hijriah akan kedatangan 8,2 juta orang selama masa lebaran 2026.

Lonjakan mobilitas tersebut menjadi perhatian utama dalam Rapat Koordinasi Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) terkait kesiapan pengamanan arus mudik pada libur Idulfitri pada, Selasa (10/03) di nDalem Ageng, Kompleks Kepatihan, Yogyakarta. Rapat dipimpin langsung oleh Wagub DIY, KGPAA Paku Alam X, dan didampingi oleh Kapolda DIY, Brigjen Pol. Anggoro Sukartono.

Anggoro menyampaikan, tingginya mobilitas masyarakat setiap musim mudik berpotensi memunculkan berbagai kerawanan. Selain kepadatan lalu lintas, peningkatan aktivitas masyarakat juga dapat memicu gangguan keamanan maupun risiko bencana akibat faktor cuaca.

“Mobilitas masyarakat yang sangat tinggi tentu akan memunculkan titik-titik kerawanan. Karena itu rapat koordinasi ini dilakukan untuk memastikan seluruh stakeholder siap menghadapi kondisi tersebut,” ujar Anggoro.

Beberapa simpul transportasi diperkirakan akan mengalami peningkatan aktivitas yang cukup signifikan selama periode mudik. Di antaranya Stasiun Tugu dan Stasiun Lempuyangan yang menjadi pintu masuk utama penumpang kereta api.

Hal lainnya, katanya pergerakan penumpang juga diprediksi meningkat di Bandara Adisutjipto dan Bandara Internasional Yogyakarta (YIA). Kedua bandara tersebut selama ini menjadi akses utama bagi masyarakat yang datang ke Yogyakarta melalui jalur udara.

"Lonjakan kunjungan juga diperkirakan terjadi di sejumlah kawasan wisata. Kondisi ini berpotensi menimbulkan kepadatan lalu lintas di berbagai ruas jalan menuju destinasi wisata maupun pusat keramaian kota," ujarnya. Karenanya kepolisian bersama instansi terkait akan menggelar Operasi Ketupat Progo 2026 yang dilaksanakan secara serentak mulai 13 hingga 25 Maret 2026.

Ia menyebutkan akan ada 25 pos pengamanan Polri yang tersebar di seluruh wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta, baik kota maupun kabupaten, dan pada titik-titik tertentu jumlah personelnya akan diperbanyak.

Hal ini ditambah dengan kesiapan instansi terkait, seperti Dinas Kesehatan dan Kementerian Agama, yang memberikan fasilitas rest area pada tempat-tempat ibadah yang ditunjuk. Dinas Kesehatan juga menyiapkan posko-posko 24 jam untuk kesiapsiagaan. “Walaupun terdapat libur panjang, dipastikan rumah sakit dan puskesmas tetap beroperasi 24 jam,” ujar Anggoro.

Pengawasan Jalur Diperketat

Lebih lanjut Kapolda DIY memastikan pengawasan akan diperketat di jalur-jalur yang memiliki kondisi tertentu guna mengantisipasi potensi kecelakaan lalu lintas. Kapolda DIY, Brigjen Pol. Anggoro Sukartono menyampaikan bahwa informasi mengenai kondisi jalan tersebut menjadi masukan penting bagi petugas yang akan terlibat dalam pengamanan arus mudik.

Pada jalur yang belum dapat diperbaiki dalam waktu dekat, pengamanan akan ditingkatkan dengan penempatan personel secara lebih intensif. Langkah ini dilakukan untuk mengantisipasi kemungkinan pengguna jalan yang belum mengetahui kondisi jalan di wilayah yang mereka lalui. “Pada jalur-jalur yang sudah ditandai memiliki kondisi tertentu, pengamanan akan kami tingkatkan. Personel akan ditempatkan lebih intensif dibandingkan jalur yang sekadar menjadi spot pengawasan biasa,” kata Anggoro.

Ia menambahkan, peningkatan pengamanan ini juga bertujuan mengantisipasi ketidaktahuan masyarakat terhadap kondisi jalan yang mereka lalui, terutama bagi pemudik dari luar daerah yang tidak terbiasa dengan karakteristik jalur di Yogyakarta. “Banyak masyarakat yang datang dari luar daerah belum mengetahui kondisi jalur yang mereka lalui. Dengan informasi yang disampaikan lebih awal, kita bisa mencegah potensi kecelakaan akibat ketidaktahuan tersebut,” tambahnya.

Selain peningkatan pengawasan di jalur tertentu, kepolisian juga akan memperkuat koordinasi dengan instansi terkait untuk menyebarkan informasi mengenai kondisi jalur mudik kepada masyarakat. Penyampaian informasi ini dinilai penting agar pemudik dapat mempersiapkan perjalanan dengan lebih baik, termasuk mengantisipasi kemungkinan perlambatan kendaraan di beberapa ruas jalan.

Rekayasa Lalu Lintas

Guna menjaga agar lalu lintas tidak mengalami stuck, lanjut Kapolda, Polri bersama Pemda DIY telah menyiapkan skema rekayasa lalu lintas untuk masa arus mudik maupun balik.

Kapoda DIY, Brigjen Pol. Anggoro Sukartono, usai Rapat Koordinasi Forkopimda menjelaskan rencana pengaktifan tol tersebut telah melalui proses survei yang dilakukan bersama Kementerian Perhubungan. 

Menurutnya, ruas tol tersebut nantinya direncanakan akan difungsikan sebagai jalur satu arah yang digunakan untuk membantu arus kendaraan keluar dari wilayah Yogyakarta setelah puncak kedatangan pemudik. “Kami sudah menerima informasi dari Kementerian Perhubungan bahwa Tol Purwomartani akan difungsikan satu arah untuk akses keluar dari DIY,” ujarnya.

Kebijakan tersebut disiapkan dengan mempertimbangkan tingginya jumlah mobilitas masyarakat yang diprediksi masuk ke wilayah Yogyakarta selama masa mudik. Berdasarkan hasil survei Kementerian Perhubungan, jumlah kedatangan diperkirakan mencapai sekitar 8,2 juta orang. 

Angka tersebut diperoleh dari berbagai indikator. Mulai dari estimasi penggunaan kendaraan pribadi, jumlah penumpang kereta api di Stasiun Tugu dan Lempuyangan, hingga pemantauan kendaraan yang memasuki jalur tol utama seperti Gerbang Tol Kalikangkung.

Sebagian besar pemudik diperkirakan berasal dari wilayah Jakarta dan sekitarnya. Dengan waktu tempuh perjalanan darat sekitar enam jam, kepadatan kendaraan diperkirakan mulai meningkat pada beberapa hari menjelang lebaran.

“Data inilah yang akan digunakan untuk memprediksi kemacetan. Mengingat penyumbang wisatawan terbesar adalah dari Jakarta, kita memprediksi jarak tempuh wajar mengemudi dari Jakarta ke Jogja. Dalam waktu sekitar 6 jam mereka sudah bisa masuk wilayah kita dengan biaya perjalanan yang relatif murah,” papar Anggoro.

Puncak arus kedatangan pemudik diperkirakan terjadi pada H-5 hingga H-3 Idulfitri. Pemerintah pusat sendiri telah mengantisipasi kondisi tersebut melalui kebijakan libur panjang serta penerapan skema Work From Anywhere (WFA) bagi sejumlah sektor pekerjaan.

Selain rekayasa lalu lintas, kepolisian juga menekankan pentingnya penyebaran informasi kepada masyarakat terkait kondisi lalu lintas di wilayah Yogyakarta. “Ada satu hal penting yang dilakukan oleh Pemda DIY, yaitu masifikasi informasi kepada masyarakat. Ini sangat krusial. Setiap orang yang datang harus tahu tentang kondisi lalu lintas Jogja. Upaya ini dilakukan untuk mencegah bertemunya ketidaktahuan wisatawan dengan kondisi titik-titik rawan di Jogja,” jelas Anggoro.

Koordinasi dengan berbagai platform navigasi digital seperti Google Maps dan Waze juga dilakukan. Hal ini untuk memastikan informasi rute perjalanan yang ditampilkan sesuai dengan pengaturan lalu lintas di lapangan. Langkah ini diharapkan dapat mencegah kendaraan dialihkan ke jalur-jalur kecil yang tidak memiliki pengawasan petugas dan berpotensi menimbulkan kemacetan baru.

“Dalam perkembangannya, situasi di lapangan bisa berubah setiap hari. Apabila ada jalur yang berpotensi menimbulkan kerawanan lalu tiba-tiba dialihkan oleh sistem Google Maps, hal ini yang harus kita cegah. Kita arahkan masyarakat agar tetap berada pada lajur dan jalur utama yang memang dijaga petugas,” terangnya.

Ia menekankan pentingnya masyarakat memperoleh informasi yang jelas mengenai estimasi antrean kemacetan di suatu jalur, baik sekitar satu jam, 15 menit, maupun 10 menit. Dengan demikian, para pengguna jalan dapat mengetahui kondisi lalu lintas yang sebenarnya saat melintas di jalur tersebut. (H-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Indrastuti
Berita Lainnya