Headline

DPR minta agar dana tanggap darurat bencana tidak dihambat birokrasi berbelit.

Tradisi Ramadan di Solo Makin Membumi Lewat Pembagian Bubur Samin Khas Banjar

Widjajadi
19/2/2026 22:30
Tradisi Ramadan di Solo Makin Membumi Lewat Pembagian Bubur Samin Khas Banjar
Pembagian bubur samin di Masjid Darussalam, Solo.(MI/Widjajadi)

HUJAN  deras berbalut angin kencang pada Kamis (19/2) menjelang waktu salat Ashar, tidak menyurutkan ratusan warga yang ingin mendapatkan pembagian bubur samin, kuliner legendaris asal Banjar, Kalimantan Selatan di Masjid Darussalam, Jayengan Kidul, Solo.

Sejumlah pejabat dan tokoh Solo, mulai dari Wakil Wali Kota Solo Astrid Widayani, mantan Wali Kota Teguh Prakosa dan sesepuh Keraton Kasunanan Surakarta, KGPH Adipati Dipokusumo menyempatkan hadir dan ikut membagikan tradisi bubur samin yang diselenggarakan setiap Ramadan.

Kebiasaan paguyuban warga asal Banjar menyantap bubur samin sebagai takjil puasa di lingkungan Masjid Darussalam, Jayengan Kidul, sudah berlangsung sejak 1930-an. Namun menjadi tradisi bulan puasa Ramadan dan dibagikan ke masyarakat luas, sejak 1985 silam.

"Tradisi bubur samin sebagai takjil di masjid orang Banjar, yakni Masjid Darussalam Solo ini sudah dilakukan sejak 1930-an. Tetapi menjadi tradisi khas Ramadan yang dirasakan masyarakat luas, atau dibagikan sejak 1985," tutur Ketua Panpel Bubur Samin, Nurcholis di tengah pembagian bubur khas Banjar, Kalsel itu.

Bubur samin yang dibagikan masyarakat luas sebagai berkah Ramadan, semakin membumi di Kota Solo, seiring ditetapkannya kuliner tradisional itu sebagai Warisan Budaya Tak Benda dari Kementerian Kebudayaan sejak 2025 lalu. 

"Dari 14 kekayaan budaya di Kota Solo yang ditetapkan sebagai Warisan Kebudayaan Tak Benda pada 2025 lalu, bubur samin menjadi salah satu yang ditetapkan Kementerian Kebidayaan. Tentu ini tidak lepas dari branding pembirataan selama ini, dan menjadi penguat Kota Solo untuk melestarikan kekayaan budaya yang dimiliki," tukas Wawali Astrid.

Pemkot Solo pun tidak hanya ingin nunut tenar dari keberadaan kuliner tradisional yang menjadi warisan budaya tersebut. Untuk keberlanjutan dan keberlangsungan tradisi yang dilaksanakan paguyuban Banjar di Jayeng Kidul ini, Pemkot Solo ikut menyumbangkan 1,5 ton beras sebagai bahan pembuatan jenang samin.

Nurcholis mengatakan, bantuan beras 1.500 kg atau 1,5 ton dari Pemkot itu, memberikan kemudahan para takmir Masjid Darussalam dalam mengelola dan membuat bubur samin selama 30 hari bulan Ramadan. "Terimakasih sekali, dan kami akan menerima dengan senang hati uluran tangan dari dermawan lainnya," imbuh dia.

Untuk pembuatan sekitar 1.500 paket bubur samin setiap hari selama bulan puasa Ramadan, panitia membutuhkan sedikitnya 40 kg sampai 50 kg, daging sapi sebanyak 4 kg, dan wortel beberapa kilo dan bumbu remoah rempah yang menjadi khas dari kuliner legendaris itu.

"Jadi setiap hari, kami membagikan 1.200 paket untuk masyarakat umum, dan 300 paket lain dibagikan sebagai takjil puasa di Masjid Darussalam. Ini terselenggara selama 30 hari bulan puasa Ramadan, dan tahun ini dimulai Kamis hari ini (19/2)," sambung dia .

Kanjeng Gusti Dipokusumo yang turut hadir membagikan bubur samin kepada masyarakat yang datang, mengapreasi pemerintah, yang menjadikan bubur khas Banjar itu sebagai kekayaan budaya tradisi untuk Kota Solo.

"Bubur samin kini menjadi salah satu jenang pusaka, setelah Kementerian Kebudayaan menetapkannya sebagai Warisan Budaya Tak Benda. Ini sangat disambut positif dan menjadi keuntungan untuk Kota Solo, dalam merawat dan mengembangkan untuk kepariwisataan kuliner di Solo," tandas sesepuh Keraton Kasunanan Solo itu.

BERKAH PUASA
Masyarakat menyambut tradisi pembagian bubur samin itu sebagai berkah di bulan puasa. "Saya terlibat ikut antrean menerima bubur samin ini sejak masih muda. Waktu umur saya 30 tahun pada 40 tahun lalu, saya tidak pernah absen. Ikut menerima sebagai berkah, karena rasanya ngangeni dan sangat istimewa di lidah," tutur Eyang Purwanti, warga Sraten yang tidak jauh dari lokasi Masjid Darussalam.

Tidak semua masyarakat yang antre, selalu bisa mendapatkan bubur samin. Karena yang didistribusikan kepada masyarakat hanya 1.200 paket ataU rantang, maka yang tidak dapat harus rela antre lagi pada hari berikutnya.

"Ya hari ini saya datang terlambat antre. Ketika hampir jatuh giliran memberikan rantang untuk diisi bubur samin, ternyata sudah habis. Ya tidak apa apa, masih ada hari esok untuk ikut antre. Mudah mudahan besok tidak terlambat lagi," ucap Joko Prihadi, yang datang bersama cucunya.

Nurcholis menyatakan, bahwa pembagian bubur samin makin ganti tahun terus lebih tertib. Bagi yang tidak mendapatkaN kesempatan pembagian hari pertama, dipersilahkan datang hari berikutnya.

Karena itu panitia di masjid tua hasil pembangunan paguyuban warga asal Banjar ini berharap, semakin banyak orang dermawan membantu, sehiingga memungkinkan volume bisa ditambah, hingga tradisi pembagian bubur samin sebagai tradisi bulan Ramadan, semakin besar dan melegenda untuk Kota Solo. (E-2)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Heryadi
Berita Lainnya