Headline

Pelaku usaha menagih penyederhanaan regulasi dan kepastian kebijakan dari pemerintah.

Viral! Rumah Jokowi Diubah Jadi Tembok Ratapan Solo di Google Maps

 Gana Buana
17/2/2026 15:20
Viral! Rumah Jokowi Diubah Jadi Tembok Ratapan Solo di Google Maps
Rumah Jokowi Diubah Jadi Tembok Ratapan Solo di Google Maps.(Instagram)

DUNIA maya kembali dihebohkan dengan fenomena unik yang menyasar kediaman pribadi Presiden ke-7 RI, Joko Widodo, di Jalan Kutai Utara No. 1, Sumber, Solo. Fenomena ini bermula dari sebuah unggahan video pendek yang memperlihatkan seorang pemuda melakukan aksi simbolik di depan pagar rumah tersebut, yang kemudian berujung pada perubahan label lokasi di platform Google Maps menjadi "Tembok Ratapan Solo".

Kejadian ini menarik perhatian publik bukan hanya karena lokasinya, tetapi juga karena narasi satir yang dibangun di baliknya. Dalam video yang beredar luas, pemuda tersebut tampak melakukan gerakan khidmat di depan tembok rumah.

Narasi dalam video tersebut menyebutkan: "Inilah Tembok Ratapan Solo. Konon katanya barang siapa yang mencium dan menjilat tembok ini dengan penuh keyakinan, maka karier politiknya akan berjalan mulus dan penuh berkah."

Satir Politik dan Mitos Karier di Era Digital

Aksi "mencium tembok" yang viral ini merupakan bentuk satir politik yang tajam. Penggunaan istilah "Tembok Ratapan", yang aslinya merujuk pada situs suci di Yerusalem, diadaptasi menjadi simbol tempat mengadu atau mencari keberuntungan politik bagi sebagian orang. Narasi mengenai "karier politik mulus" seolah menyindir persepsi publik tentang pengaruh besar yang masih melekat pada sosok Jokowi meski sudah tidak menjabat sebagai presiden.

Fenomena ini menunjukkan bagaimana sebuah objek fisik, dalam hal ini pagar rumah, dapat diberikan makna baru secara kolektif melalui media sosial.

Namun, aksi ini tidak berhenti di dunia nyata. Efek domino dari video tersebut merambah ke dunia digital, di mana para netizen mulai mengubah informasi geografis di Google Maps.

Mengapa Label Google Maps Bisa Berubah Menjadi Tembok Ratapan?

Perubahan nama lokasi rumah Jokowi menjadi "Tembok Ratapan Solo" di Google Maps dimungkinkan oleh sistem User-Generated Content (UGC) milik Google. Melalui program Local Guides, Google memberikan kebebasan kepada pengguna untuk menyarankan perubahan informasi pada peta.

Sistem verifikasi Google bekerja berdasarkan konsensus. Jika banyak pengguna secara bersamaan menyarankan nama yang sama (misalnya karena terpengaruh video viral), algoritma Google sering kali menganggap informasi tersebut valid dan menerbitkannya secara otomatis. Fenomena ini sering disebut sebagai "Google Maps Vandalism", di mana platform informasi publik digunakan untuk menyampaikan pesan satir atau politik.

Risiko Hukum dan Etika Digital

Meski aksi dalam video tersebut terlihat seperti satir, terdapat batasan hukum yang perlu diperhatikan:

  • UU ITE Pasal 35: Manipulasi informasi elektronik agar seolah-olah otentik dapat diancam pidana penjara.
  • Pelanggaran Privasi: Mengubah label rumah pribadi dapat dianggap mengganggu privasi dan ketertiban pemilik lokasi.
  • Jejak Digital: Setiap perubahan di Google Maps tercatat pada akun penyunting dan dapat dilacak oleh pihak berwenang.

Fakta soal Tembok Ratapan Solo

Apa maksud dari video Tembok Ratapan Solo?

Video tersebut merupakan satir politik yang menggambarkan rumah Jokowi sebagai tempat simbolik di mana orang melakukan aksi tertentu demi harapan kelancaran karier politik.

Apakah benar mencium tembok tersebut berpengaruh pada karier?

Tidak. Narasi tersebut hanyalah bentuk kiasan atau satir yang digunakan pembuat konten untuk menyampaikan pesan sosial atau politik tertentu.

Bagaimana cara melaporkan label yang salah di Google Maps?

Pengguna dapat mengklik lokasi tersebut, pilih "Sarankan Edit", lalu pilih "Tutup atau Hapus" dengan alasan "Ofensif, berbahaya, atau tidak pantas".

Kesimpulan

Fenomena "Tembok Ratapan Solo" adalah bukti nyata bagaimana media sosial dapat mengubah persepsi ruang publik dalam sekejap. Dari sebuah video aksi simbolik dengan narasi mitos karier politik, dampaknya meluas hingga menjadi gangguan data digital di Google Maps.

Kejadian ini menjadi pengingat bagi masyarakat untuk lebih bijak dalam menggunakan fitur platform digital dan memahami bahwa setiap aksi satir di ruang siber tetap memiliki batasan etika dan hukum yang berlaku.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Gana Buana
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik