Headline
Faktor penyebab anak mengakhiri hidup bukan tunggal.
Kumpulan Berita DPR RI
TERJADINYA bunuh diri seorang anak yang masih duduk di bangku SD di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur yang dipicu ketidakmampuan membayar uang sekolah dan membeli perlengkapan sekolah menjadi perhatian serius dari banyak kalangan.
Kasus bunuh diri tersebut pun menambah panjang daftar kasus ulah pati (istilah bunuh diri bagi masyarakat Bali dan sekitarnya) yang dilakukan anak di Indonesia.
Sosiolog UGM Andreas Budi Widyanta, atau kerap disapa A-B, menilai peristiwa tersebut tidak dapat dilihat sebagai persoalan individu semata, melainkan sebagai tanda kegagalan struktural negara dalam melindungi anak-anak.
Menurut AB, fenomena bunuh diri pada anak dan remaja menunjukkan adanya persoalan sosial yang kompleks dan berakar pada ketimpangan struktural. Ia menegaskan, kasus tersebut merupakan puncak akumulasi tekanan sosial akibat kegagalan negara dalam menyediakan layanan dasar yang merata.
“Fenomena ini harus dilihat sebagai problem sosial yang bersifat struktural. Ketimpangan ekonomi yang semakin lebar menyebabkan sebagian masyarakat hidup dalam kondisi ekstrem, bahkan tidak mampu memenuhi kebutuhan pendidikan paling mendasar," ujarnya, Kamis (5/2).
Ditemui di kampus Fisipol UGM, AB menjelaskan dalam kasus ini kekerasan struktural negara tampak dalam praktik pembangunan yang dinilai lebih menguntungkan kelompok elite, sementara masyarakat miskin mengalami keterbatasan akses terhadap pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan.
“Kondisi tersebut menciptakan keputusasaan yang meresap ke dalam dunia batin anak,” jelasnya. (AU/E-4)
KEMENTERIAN Hak Asasi Manusia (HAM) mengerahkan tenaga pendamping menyusul insiden anak sekolah dasar (SD) bunuh diri di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT).
SOSIOLOG UGM Andreas Budi Widyanta, atau kerap disapa AB, menyoroti keputusan ulah pati (bunuh diri) pada anak SD di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, yang terjadi pada 29 Januari 2026 lalu.
Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) sekaligus Juru Bicara Presiden, Prasetyo Hadi, menyampaikan keprihatinan mendalam atas peristiwa ini.
Deputi Bidang Pemenuhan Hak Anak Kementerian PPPA, Pribudiarta Nur Sitepu menegaskan bahwa tragedi siswa bunuh diri di NTT tersebut tidak seharusnya terjadi.
Kemendikdasmen memandang peristiwa siswa bunuh diri di NTT itu sebagai kejadian yang sangat serius, serta mengingatkan bahwa kesejahteraan psikososial anak merupakan isu yang kompleks.
SOSIOLOG UGM Andreas Budi Widyanta, atau kerap disapa AB, menyoroti keputusan ulah pati (bunuh diri) pada anak SD di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, yang terjadi pada 29 Januari 2026 lalu.
GUBERNUR Nusa Tenggara Timur (NTT) Emanuel Melkiades Laka Lena meluapkan kemarahan dan keprihatinan mendalam atas meninggalnya seorang anak yang diduga bunuh diri karena tekanan kemiskinan.
GUBERNUR Nusa Tenggara Timur (NTT) Emanuel Melkiades Laka Lena buka suara terkait siswa sekolah dasar yang bunuh diri di Kabupaten Ngada.
GUBERNUR Nusa Tenggara Timur (NTT) Emanuel Melkiades Laka Lena menegaskan pentingnya pembenahan serius sistem perlindungan sosial menyusul peristiwa siswa SD yang bunuh diri di Ngada.
MASALAH ekonomi sangat berpengaruh secara tidak langsung terhadap kesehatan mental anak.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved