Headline
Pemprov Jabar identifikasi warga yang betul-betul tak mampu.
Pemprov Jabar identifikasi warga yang betul-betul tak mampu.
Kumpulan Berita DPR RI
MENTERI Sosial (Mensos) Saifullah Yusuf atau Gus Ipul menyampaikan duka cita sekaligus keprihatinan mendalam atas meninggalnya seorang siswa sekolah dasar di Nusa Tenggara Timur (NTT) yang diduga bunuh diri karena persoalan ekonomi keluarga. Ia menilai peristiwa tragis tersebut harus menjadi perhatian serius seluruh pihak.
"Tentu kita prihatin dulu ya dan turut berduka. Yang kedua, ya tentu ini menjadi perhatian, menjadi atensi kita bersama,” kata Gus Ipul, Rabu (4/2).
Gus Ipul menegaskan pentingnya penguatan data sosial dan pendampingan terhadap keluarga rentan, khususnya agar tidak ada masyarakat yang terlewat dari jangkauan program perlindungan sosial pemerintah. Menurutnya, akurasi data menjadi kunci utama dalam memastikan bantuan tepat sasaran.
"Ya tentu bersama pemerintah daerah, kita harus memperkuat pendampingan, kita harus memperkuat data kita. Kita harapkan tidak ada yang tidak terdata," tegasnya.
Ia menambahkan, ketersediaan data yang komprehensif akan memungkinkan pemerintah menjangkau keluarga yang membutuhkan perlindungan, rehabilitasi, hingga pemberdayaan sosial.
"Ini hal yang sangat penting saya kira kembali kepada data. Bagaimana data ini kita sajikan sebaik mungkin, sehingga kita bisa menjangkau seluruh keluarga-keluarga yang memang memerlukan perlindungan, memerlukan rehabilitasi, dan memerlukan pemberdayaan. Ya jadi itu, sampai disitu dulu dan ini sungguh-sungguh menjadi keperhatian kita bersama," ujarnya.
Sebelumnya, seorang anak laki-laki berinisial YBR, 10, siswa kelas IV SD, ditemukan meninggal dunia dengan cara gantung diri di sebuah pohon di Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, NTT, pada Kamis (29/1). Saat proses evakuasi, aparat kepolisian menemukan sepucuk surat tulisan tangan milik korban.
Surat tersebut ditulis dalam bahasa daerah Bajawa dan ditujukan kepada ibu korban. Hingga kini, kepolisian masih mendalami penyebab pasti kejadian tersebut, termasuk dugaan kekecewaan YBR karena tidak dibelikan peralatan tulis akibat keterbatasan ekonomi keluarga. (Fik/I-1)
Sebelum peristiwa tragis tersebut terjadi, korban sering meminta ibunya untuk melakukan pencairan dana Program Indonesia Pintar (PIP) untuk memenuhi kebutuhan sekolah.
Mendikdasmen Abdul Mu’ti, menyampaikan rasa duka cita yang mendalam atas berpulangnya siswa tersebut.
Dunia pendidikan Indonesia berduka.
KEMENTERIAN Hak Asasi Manusia (HAM) mengerahkan tenaga pendamping menyusul insiden anak sekolah dasar (SD) bunuh diri di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT).
SOSIOLOG UGM Andreas Budi Widyanta, atau kerap disapa AB, menyoroti keputusan ulah pati (bunuh diri) pada anak SD di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, yang terjadi pada 29 Januari 2026 lalu.
Kasus bunuh diri tersebut pun menambah panjang daftar kasus ulah pati (istilah bunuh diri bagi masyarakat Bali dan sekitarnya) yang dilakukan anak di Indonesia.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved