Headline
YLKI mengultimatum pemerintah agar melakukan tindakan korektif yang nyata.
YLKI mengultimatum pemerintah agar melakukan tindakan korektif yang nyata.
Kumpulan Berita DPR RI
PULUHAN siswa Sekolah Dasar Inpres (SDI) di Pilau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), harus menempuh proses belajar di gedung yang rusak parah. Mereka belajar di kelas yang lantainya pecah, dinding retak, dan atap bocor ketika hujan. Kondisi ini menimbulkan pertanyaan tentang prioritas pembangunan fasilitas pendidikan di Pulau Flores.
Kondisi ini dialami oleh ratusan siswa SDI Kotakeo, Desa Kotakeo, Kabupaten Nagekeo. Pantauan di lokasi menunjukkan tiga ruang kelas mengalami kerusakan berat, mulai dari lantai pecah, dinding retak, plafon jebol, hingga atap seng bocor ketika hujan turun.
Dari 115 siswa, sekitar 70 harus belajar di ruang kelas yang kondisinya paling parah.
“Air masuk saat hujan, anak-anak jadi kesulitan mengikuti pelajaran. Beberapa terpaksa belajar bergabung di kelas lain yang lebih aman, meski berdesakan,” ujar Kepala SDI Kotakeo, Florida Azi.
Kerusakan gedung ini sudah terjadi sejak 2020. Meski sekolah telah beberapa kali mengajukan perbaikan, hingga kini belum mendapat perhatian serius dari dinas terkait maupun pemerintah.
Florida menekankan, tanpa penanganan segera, kondisi ini bisa membahayakan keselamatan siswa. Situasi ini mencerminkan ketimpangan fasilitas pendidikan di wilayah Indonesia Timur.
Hal serupa juga ditemukan di Kabupaten Manggarai. Dari 169 SDN/SDI, 84 Sekolah Dasar Katolik (SDK), dan 9 Madrasah Ibtidaiyah (MI/MIS), hampir semua masih membutuhkan peningkatan sarana dan prasarana.
“Kalau bicara soal bangunan dan fasilitas, hampir semua sekolah masih memerlukan perbaikan. Ada gedung yang rusak, ada juga yang kekurangan ruang kelas dan fasilitas penunjang sesuai standar,” jelas Sekretaris Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga Kabupaten Manggarai, Yohanes E. A. Ndahur, Rabu (20/1).
Pihak sekolah berharap pemerintah segera turun tangan untuk memperbaiki kondisi gedung agar anak-anak bisa belajar dengan aman dan nyaman, serta memiliki kesempatan meraih masa depan yang lebih baik. (MM/E-4)
IA sampai pada ujung hidupnya. Tapi narasi kepergiannya tak berujung. Ia pergi dalam sunyi. Pamit dalam diam. Diam dan sunyi itu menjadi saksi terakhir ziarah hidupnya.
KOMISI Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) meminta lembaga terkait memberikan pendampingan psikososial untuk saudara dan keluarga anak korban bunuh diri di Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Sebelum peristiwa tragis tersebut terjadi, korban sering meminta ibunya untuk melakukan pencairan dana Program Indonesia Pintar (PIP) untuk memenuhi kebutuhan sekolah.
Mendikdasmen Abdul Mu’ti, menyampaikan rasa duka cita yang mendalam atas berpulangnya siswa tersebut.
Kehadiran tim psikologi Polda NTT merupakan respons cepat dan terukur untuk memastikan keluarga korban mendapatkan penguatan mental yang memadai.
Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) sekaligus Juru Bicara Presiden, Prasetyo Hadi, menyampaikan keprihatinan mendalam atas peristiwa ini.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved