Headline

Ekonomi RI tumbuh 5,39% pada triwulan IV 2025 dan tumbuh 5,11% secara kumulatif 2025.

Gunung Lewotolok Masih Level II, Masyarakat Diimbau Patuhi Radius Aman

Palce Amalo
06/1/2026 13:29
Gunung Lewotolok Masih Level II, Masyarakat Diimbau Patuhi Radius Aman
Gunung Lewotolok(Dok Magma Indonesia)

AKTIVITAS vulkanik Gunung Lewotolok di Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT), hingga akhir Desember 2025 masih berada pada Level II (Waspada). 

Hal tersebut berdasarkan hasil evaluasi Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) untuk periode pengamatan 16-31 Desember 2025.

“Berdasarkan hasil pengamatan visual dan instrumental secara menyeluruh, tingkat aktivitas Gunung Ili Lewotolok hingga akhir Desember 2025 masih berada pada Level II atau Waspada,” ujar Lana Saria dalam keterangan resminya, Senin (5/1).

Dalam laporan evaluasi tersebut, Lana Saria menyebutkan secara visual gunung api teramati jelas hingga tertutup kabut.
Asap kawah berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tipis sampai sedang terlihat setinggi 10-100 meter dari puncak. Pada periode tersebut juga terjadi erupsi dengan tinggi kolom berkisar 100-200 meter dari puncak.

Cuaca di sekitar gunung api bervariasi dari cerah hingga hujan dengan suhu udara antara 23-31 derajat Celsius. Angin bertiup lemah hingga sedang dengan arah dominan ke barat dan barat laut. Selain itu, teramati guguran material, meski jarak dan arah luncurannya tidak terpantau secara visual.

Berdasarkan pengamatan instrumental, aktivitas kegempaan masih didominasi oleh gempa hembusan dengan jumlah mencapai 1.340 kejadian. Selain itu, tercatat satu kali gempa erupsi, satu kali gempa guguran, dua kali gempa hybrid, lima kali gempa vulkanik dangkal, 27 kali gempa vulkanik dalam, 12 kali gempa tektonik lokal, serta 2.425 kali gempa tektonik jauh.

Energi seismik yang diestimasi melalui metode Real-time Seismic Amplitude Measurements (RSAM) menunjukkan nilai yang masih berfluktuasi namun relatif rendah. Meski demikian, pada pekan terakhir Desember 2025 terjadi peningkatan energi seismik seiring bertambahnya jumlah gempa hembusan dan gempa tektonik jauh.

Sementara itu, hasil pengamatan deformasi melalui pengukuran EDM dan GPS menunjukkan tidak adanya perubahan deformasi yang signifikan pada tubuh Gunung Ili Lewotolok, baik berupa inflasi maupun deflasi.

Badan Geologi mencatat bahwa aktivitas hembusan dan erupsi pada periode evaluasi mengalami penurunan. Lontaran material pijar yang sebelumnya sempat mencapai jarak hingga 1.500 meter ke arah utara dan timur–timur laut, pada periode ini tidak lagi teramati.

Berdasarkan hasil analisis menyeluruh, Badan Geologi merekomendasikan agar tingkat aktivitas Gunung Lewotolok tetap berada pada Level II (Waspada). Masyarakat dan pengunjung diimbau untuk tidak melakukan aktivitas dalam radius 2 kilometer dari pusat aktivitas gunung api.

Selain itu, masyarakat di Desa Lamatokan, Jontona, Todonara, dan Amakaka diminta untuk mewaspadai potensi bahaya guguran lava, awan panas, serta lahar, terutama pada sektor selatan, tenggara, dan barat hingga jarak 2,5 kilometer dari kawah puncak.

Masyarakat juga diimbau untuk tidak panik jika mendengar suara gemuruh atau dentuman dari kawah, karena hal tersebut merupakan bagian dari aktivitas erupsi gunung api. Untuk mengantisipasi dampak abu vulkanik, warga disarankan menggunakan masker dan pelindung diri lainnya.

Pemerintah daerah dan BPBD Kabupaten Lembata diminta untuk terus berkoordinasi dengan Pos Pengamatan Gunung Ili Lewotolok di Desa Laranwutun, Kecamatan Ile Ape, serta dengan PVMBG Badan Geologi. Masyarakat juga diingatkan untuk selalu mengikuti informasi resmi dan tidak mudah terpengaruh oleh isu atau informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan. (H-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Indrastuti
Berita Lainnya