Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Hari ke-25 Pascabanjir, Krisis Sanitasi dan Penyakit Hantui Warga Aceh Tamiang

Amirruddin Abdullah Reubee
20/12/2025 21:58
Hari ke-25 Pascabanjir, Krisis Sanitasi dan Penyakit Hantui Warga Aceh Tamiang
Krisis Sanitasi dan Penyakit Hantui Warga Aceh Tamiang(MI/AMIRUDDIN ABDULLAH REUBEE)

MEMASUKI hari ke-25 pascabanjir bandang yang melanda sejumlah wilayah di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat, kondisi warga terdampak masih memprihatinkan. Selain kelangkaan bahan makanan, air bersih, dan tempat tinggal, persoalan kesehatan dan sanitasi kini menjadi ancaman serius.

Hasil penelusuran Media Indonesia, Sabtu (20/12), menunjukkan kondisi paling mengkhawatirkan terjadi di Kabupaten Aceh Tamiang. Minimnya fasilitas sanitasi di lokasi pengungsian dan kawasan permukiman terdampak banjir menyebabkan meningkatnya risiko penyebaran penyakit.

Fasilitas jamban dan WC di rumah-rumah warga hancur akibat banjir yang terjadi pada 26-27 November lalu. Namun hingga air surut dan memasuki hari ke-25 pascabencana, belum terlihat pembangunan jamban darurat atau penyediaan WC portabel oleh pemerintah.

Di Kecamatan Karang Baru dan Kota Kuala Simpang, ibu kota Kabupaten Aceh Tamiang, hingga Sabtu (20/12) belum tersedia WC darurat berbahan fiberglass. Akibatnya, warga terpaksa buang air besar sembarangan di selokan, saluran air, atau di balik puing bangunan dan tumpukan sampah.

“Ketersediaan sanitasi dan jamban sangat buruk. WC portabel nyaris tidak ada. Peran pemerintah belum terlihat, yang ada hanya bantuan masyarakat. Warga terpaksa buang air besar sembarangan,” kata Ikhsan, anggota Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Pidie yang tergabung dalam Tim Emergensi Medis Dinas Kesehatan Provinsi Aceh di Aceh Tamiang.

Ia menyebutkan, saat ini banyak korban banjir mengalami infeksi saluran pernapasan, gangguan pencernaan, gatal-gatal, serta penyakit kulit. Kondisi tersebut diperparah oleh buruknya kebersihan lingkungan dan tumpukan sampah yang belum tertangani.

Kota Kuala Simpang dilaporkan dipenuhi sampah sisa banjir dan mengeluarkan bau tidak sedap. Selain itu, sejumlah fasilitas kesehatan juga mengalami kerusakan parah. Dari sekitar 15 puskesmas yang tersebar di 12 kecamatan, hanya dua hingga tiga unit yang kembali beroperasi secara terbatas.

Salah satunya adalah Puskesmas Banda Mulia yang baru membuka layanan unit gawat darurat (UGD). Sementara itu, Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Muda Sedia Aceh Tamiang sempat lumpuh akibat tertimbun lumpur setinggi 1,5 meter dan hingga kini hanya melayani pasien di Instalasi Gawat Darurat (IGD).

Menurut Ikhsan, tanpa keterlibatan penuh pemerintah pusat dan Pemerintah Provinsi Aceh, proses pemulihan pascabencana akan berlangsung lama. Ia mendorong pemerintah segera mengambil langkah konkret, terutama di wilayah dengan tingkat kerusakan terparah seperti Aceh Tamiang.

“Listrik harus segera dihidupkan, sumur bor diperbanyak, sampah dimusnahkan, rumah warga dibersihkan, hunian sementara dibangun, dan jamban darurat yang layak segera disediakan,” ujarnya. (Z-10)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Gana Buana
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik