Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Pasar Murah Jawa Tengah Tembus 2.436 Kali dengan Omzet Rp45,7 Miliar di 2025

Akhmad Safuan
20/12/2025 09:22
Pasar Murah Jawa Tengah Tembus 2.436 Kali dengan Omzet Rp45,7 Miliar di 2025
Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen saat membagikan kebutuhan pokok kepada komunitas ojek online di Semarang.(MI/Akhmad Safuan)

Pemerintah Provinsi Jawa Tengah terus memperkuat ketahanan pangan masyarakat menjelang perayaan Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru). Melalui Gerakan Pangan Murah (GPM) yang masif, pemerintah daerah berupaya menjaga stabilitas harga sekaligus mengamankan daya beli warga di tengah potensi lonjakan permintaan akhir tahun.

Berdasarkan pantauan Media Indonesia pada Sabtu (20/12), GPM kembali digelar di berbagai titik strategis. Program ini tidak hanya menjadi instrumen pengendali inflasi, tetapi juga jaring pengaman sosial bagi keluarga kurang mampu.

Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen, mengungkapkan bahwa sejak Januari hingga menjelang periode Nataru 2025, Pemprov Jateng telah menghelat ribuan aksi pasar murah dengan nilai transaksi yang signifikan.

"Kami telah menggelar GPM di seluruh daerah di Jawa Tengah sebanyak 2.436 kali dengan total omzet mencapai Rp45,7 miliar," ujar Taj Yasin usai meninjau penjualan pangan murah bagi komunitas ojek online di Gudang Perum Bulog, Pedurungan, Kota Semarang.

GPM menyediakan berbagai kebutuhan pokok seperti beras, jagung, minyak goreng, daging, dan komoditas lainnya dengan harga di bawah pasar. "Langkah ini memfasilitasi masyarakat untuk mendapatkan bahan pokok yang terjangkau saat harga di pasar cenderung melonjak," tambahnya.

Strategi yang ditempuh Pemprov Jateng melibatkan sinergi antara Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) dan petani lokal. BUMD membeli hasil panen petani dengan harga yang layak, kemudian menyalurkannya kepada masyarakat melalui skema subsidi.

Intervensi ini terbukti efektif dalam menekan spekulasi harga di tingkat pedagang. Melalui program GPM, pemerintah menyiapkan skema matang untuk mengendalikan inflasi agar masyarakat dapat menyambut Nataru dengan penuh sukacita tanpa kekhawatiran terkait ketersediaan pangan.

"Kita bisa melihat kondisi di Gudang Perum Bulog kita, stok masih aman terkendali. Insya Allah, ketersediaan pangan sangat mencukupi untuk kebutuhan Nataru," tegas Taj Yasin.

Sejauh ini, Jawa Tengah tetap mempertahankan posisinya sebagai lumbung pangan nasional dengan status produksi yang surplus. Keberhasilan ini menempatkan Jawa Tengah sebagai penyumbang ketahanan pangan terbesar nomor dua di Indonesia.

"Produksi pangan kita tetap surplus. Kami berkomitmen untuk terus menggenjot produktivitas di tahun-tahun mendatang agar kontribusi Jawa Tengah terhadap kedaulatan pangan nasional semakin meningkat," pungkasnya. (AS/P-5)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Aries
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik