Headline
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Kumpulan Berita DPR RI
Hampir satu bulan berlalu, duka akibat bencana banjir yang menerjang wilayah Aceh dan sebagian Sumatra belum juga surut. Di balik krisis kebutuhan dasar seperti pangan dan air bersih, tersimpan luka batin yang mendalam pada diri anak-anak penyintas. Raut kecemasan dan ketidakpastian masa depan tergambar jelas di wajah generasi penerus tersebut.
Merespons kondisi tersebut, Dompet Kemanusiaan Media Group (DKMG) berkolaborasi dengan Yayasan Sukma menyelenggarakan Program Dukungan Psikososial. Program ini merupakan bentuk pemulihan emosional dan psikologis bagi anak-anak terdampak untuk menyembuhkan trauma akibat bencana hebat yang mereka alami.
Program pendidikan singkat ini akan berlangsung selama delapan hari dengan metode yang inklusif dan menyenangkan. Anak-anak korban banjir akan diboyong dari lokasi pengungsian menuju lingkungan sekolah yang lebih kondusif, yakni di Sekolah Sukma Bangsa (SSB) terdekat.
Direktur Pendidikan Yayasan Sukma, Victor Yasadhana, menjelaskan bahwa program ini menyasar anak usia dini hingga sekolah dasar.
"Peserta terdiri dari anak usia 4 hingga 9 tahun yang dibagi dalam dua kelompok kategori usia. Seluruh rangkaian selama 8 hari ini akan dibagi menjadi dua gelombang, di mana masing-masing gelombang mendapatkan pendampingan intensif selama empat hari," ujar Victor kepada Media Indonesia, Jumat (19/12).
Tim pengajar yang dilibatkan merupakan dewan guru Sekolah Sukma Bangsa yang memiliki kompetensi khusus di bidang pendidikan karakter, psikologi anak, serta kemampuan pedagogik. Hal ini penting agar proses transfer energi positif dan pemulihan trauma dapat berjalan secara menyeluruh.
Menurut Victor atau yang akrab disapa Pak Tongki, antusiasme warga sangat tinggi. Meskipun baru akan dimulai secara serentak pada Senin (22/12) mendatang, simulasi sederhana di lokasi pengungsian telah memicu minat banyak orang tua untuk mengikutsertakan anak mereka.
"Fasilitas di Sekolah Sukma Bangsa tentu jauh lebih nyaman dan mendukung dibandingkan di pengungsian. Kami ingin memberikan ruang di mana mereka bisa merasa aman kembali. Program ini sepenuhnya berbasis sukarela dan atas izin orang tua," tambah lulusan Universitas Gadjah Mada (UGM) tersebut.
Melalui dukungan psikososial ini, DKMG dan Yayasan Sukma berharap luka batin anak-anak Aceh tidak permanen, sehingga mereka dapat kembali menata harapan dan melanjutkan masa kecil mereka dengan senyuman, meski di tengah sisa-sisa reruntuhan pascabencana. (MR/P-5)
Para mahasiswa ini akan melaksanakan berbagai program mulai 2-22 Februari 2026. Adapun pemberangkatan dilakukan dalam dua gelombang, pada 2 dan 11 Februari 2026.
Rapat konsolidasi membahas klaster infrastruktur, mencakup jalan, jembatan permanen, jembatan bailey, serta infrastruktur sungai seperti irigasi, daerah aliran sungai hingga sumur bor.
Barita mengatakan upaya hukum ini diharapkan dapat memberikan kejelasan terhadap penyebab bencana di Sumatra.
Pembangunan huntara dilakukan di tiga provinsi terdampak bencana di Sumatra. Rinciannya, sebanyak 16.282 unit huntara dibangun di Aceh, 947 unit di Sumatra Utara, dan 618 unit di Sumatra Barat.
Data sementara posko darurat Aceh mencatat 56.652 hektare sawah di 18 kabupaten dan kota rusak akibat banjir bandang dan longsor akhir November 2025.
Proyek percontohan pertama untuk memobilisasi sumber pembiayaan baru ke dalam sistem taman nasional, dilakukan di Taman Nasional Way Kambas, Provinsi Lampung, Sumatra
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved