Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Rachmat Gobel Sebut Bibit Kemajuan Gorontalo Mulai Tampak

M Ilham Ramadhan Avisena
16/12/2025 12:32
Rachmat Gobel Sebut Bibit Kemajuan Gorontalo Mulai Tampak
ilustrasi(MI)

ANGGOTA DPR RI dari Daerah Pemilihan Gorontalo, Rachmat Gobel, menyatakan optimismenya terhadap masa depan Gorontalo dalam beberapa tahun ke depan. Ia menilai tanda-tanda kemajuan mulai terlihat, dengan catatan seluruh elemen dapat bersatu dan menanggalkan perbedaan politik.

“Sudah terlihat ada cahaya dan bibit-bibit kemajuan. Syaratnya bersatu dan simpan warna-warna partai,” ujar Gobel dalam keterangan tertulisnya, Selasa, 16 Desember 2025.

Pernyataan tersebut disampaikan Gobel saat membuka Seminar Nasional Akselerasi Pembangunan dan Kemakmuran Gorontalo yang digelar di Grand Palace Convention Center, Gorontalo. Seminar ini menghadirkan sejumlah narasumber, antara lain ekonom dari Jakarta Sunarsip, Guru Besar Ekonomi Universitas Negeri Gorontalo Muhammad Amier Arham, serta Kepala Bank Indonesia Gorontalo Bambang Satya Permana. Kegiatan tersebut dihadiri oleh pejabat daerah, akademisi, anggota DPRD, tokoh masyarakat, dan mahasiswa.

Seminar ini diselenggarakan dalam rangka refleksi akhir tahun 2025 sekaligus memperingati 25 tahun berdirinya Provinsi Gorontalo. Hingga saat ini, Gorontalo masih tercatat sebagai salah satu provinsi dengan persentase penduduk miskin tertinggi di Indonesia, serta memiliki peringkat Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang juga termasuk rendah secara nasional.

Gobel menyebut, munculnya harapan kemajuan Gorontalo ditandai oleh hadirnya tiga proyek strategis besar. Pertama, pembangunan Bendungan dan Waduk Bulango Ulu di Kabupaten Bone Bolango yang diharapkan mampu mengurangi risiko banjir, menyediakan irigasi bagi hampir 5.000 hektare lahan pertanian, menghasilkan energi listrik dari tenaga air dan surya, serta mendorong pengembangan pariwisata.

Kedua, pembangunan Pelabuhan Internasional Anggrek dan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Pangan di Kabupaten Gorontalo Utara yang dinilai akan melahirkan industri pengolahan pangan sekaligus membuka akses ekspor ke negara-negara Asia Timur. Ketiga, pembangunan industri pengolahan tambang emas di Kabupaten Pohuwato.

“Semuanya akan menyerap tenaga kerja yang besar, menggerakkan UMKM, dan memberikan efek berantai serta hadirnya investasi ekonomi,” kata Gobel.

Untuk mendukung percepatan pembangunan tersebut, Gobel meminta kepala daerah dan jajaran birokrasi mengembangkan pola pikir dan cara kerja yang ia sebut sebagai biropreneurship—gabungan dari birokrasi dan entrepreneurship. Menurutnya, birokrasi perlu memiliki semangat kewirausahaan, terutama dalam pengelolaan anggaran.

“Yaitu dari setiap pengeluaran anggaran harus mempertimbangkan output dan outcome. Sehingga anggaran bukan sekadar untuk dihabiskan, tapi lihat apa manfaatnya,” ujarnya.

Sementara itu, ekonom Sunarsip menilai bahwa setelah 25 tahun berdiri, struktur ekonomi Gorontalo belum mengalami perubahan signifikan. Ia menyoroti dua persoalan utama, yakni ketergantungan Gorontalo terhadap pasokan dari luar daerah serta struktur ekonomi yang masih bertumpu pada konsumsi rumah tangga dan belanja APBD. Karena itu, ia mendorong pemerintah daerah untuk meningkatkan investasi swasta dan mempercepat industrialisasi berbasis pertanian, perikanan, dan perkebunan. Menurutnya, Gorontalo harus bertransformasi dari ekonomi ekstraktif menuju ekonomi industri.

Pandangan serupa disampaikan Kepala BI Gorontalo Bambang Satya Permana.

“Investasi harus menjadi motor pertumbuhan ekonomi dan industri pengolahan harus didorong dengan kuat,” katanya.

Ia juga menekankan pentingnya pembangunan sumber daya manusia dan penguatan sektor pendidikan sebagai prioritas, serta mendorong penerapan strategi “3 Si”, yakni transformasi, inovasi, dan kolaborasi.

Guru Besar Ekonomi UNG Muhammad Amier Arham mengungkapkan bahwa meskipun APBD Gorontalo terus meningkat, penurunan angka kemiskinan berjalan sangat lambat. Di sisi lain, tingkat ketimpangan justru semakin melebar. Ia mencatat gini rasio Gorontalo meningkat dari 0,265 pada 2002 menjadi 0,392 pada 2025. Arham juga menyoroti meningkatnya kontribusi sektor pertanian dan menurunnya peran sektor industri, yang menurutnya menunjukkan gejala deindustrialisasi.

Karena itu, ia menekankan pentingnya transformasi ekonomi dan hilirisasi komoditas. Sebagai contoh, jagung yang merupakan komoditas unggulan Gorontalo selama ini lebih banyak memberikan keuntungan bagi pedagang dan eksportir. Dengan pengembangan industri pengolahan, manfaat ekonomi jagung diyakini dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat.

Anggota DPRD Provinsi Gorontalo Sun Biki menilai Gorontalo belum mampu keluar dari status provinsi termiskin karena elite daerah belum mampu menjadi rahmat bagi masyarakat dan masih terjebak pada konflik internal. Menanggapi hal tersebut, Arham menyebut elite Gorontalo cenderung rapuh dan saling menjatuhkan.

“Tidak pernah bersatu dan tidak pernah kompak,” katanya.

Ia juga menekankan perlunya kebijakan pemerintah yang bersifat teknokratis dan tidak semata-mata mengikuti common sense. Menurutnya, Gorontalo harus meninggalkan ekonomi ekstraktif dan menerapkan kebijakan afirmatif, terutama di sektor pendidikan. Arham menunjukkan bahwa tingkat kemiskinan di Gorontalo memiliki korelasi kuat dengan Angka Partisipasi Murni (APM) pendidikan, khususnya di jenjang SLTA dan pendidikan tinggi. Semakin rendah APM, semakin tinggi angka kemiskinan. Oleh karena itu, ia mendorong pemerintah daerah untuk menyediakan beasiswa pendidikan, sebagai pelengkap program bantuan dari pemerintah pusat. (Mir/P-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Cahya Mulyana
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik