Headline

Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.

PM BEM UMK Ubah Bencana Menjadi Kekuatan Ekonomi di Kudus

Akhmad Safuan
14/12/2025 20:25
PM BEM UMK Ubah Bencana Menjadi Kekuatan Ekonomi di Kudus
PM BEM UMK usai memberikan stimulasi program mengubah bencana menjadi kekuatan ekonomi warga Desa Setrokalangan, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kudus.(MI/Akhmad Safuan)

PROGRAM Pengabdian Masyarakat Universitas Muria Kudus (PM UMK) memberikan prospek warga Desa Setrokalangan, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kudus, untuk mengubah bencana menjadi harapan. Hal itu dilakukan dengan memanfaatkan potensi desa 

Pemantauan Media Indonesia, Minggu (14/12) puluhan mahasiswa Universitas Muria Kudus (UMK) terlihat antusias dalam penyampaian program pengabdian masyarakat yang telah dilakukan kepada warga dan pemerintah Desa Setrokalangan, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah.

Melalui program tersebut, para mahasiswa UMK membuat program mitigasi bencana melalui teknologi dengan memberikan bantuan pemasangan alat pendeteksi banjir yang merupakan bencana langganan bagi Desa Setrokalangan berupa Early Warning System (EWS). Selain itu, mahasiswa juga memberikan penguatan ekonomi pascabencana.

"Memanfaatkan potensi di desa itu, warga dan pemerintah desa kita ajak untuk memberdayakan potensi menjadi sumber kekuatan ekonomi mereka," kata Pimpinan Program dan Ketua Pengusul PM BEM UMK Sugeng Slamet, Minggu (14/12) malam di Kudus.

Desa Setrokalangan, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kudus, menurut Sugeng Slamet, merupakan salah satu desa menjadi langganan bencana banjir, sehingga mengantisipasi bencana sebagai bentuk kesiapsiagaan diberikan akar deteksi dini berupa EWS, sehingga ketika volume air meningkat pada ketinggian tertentu warga akan mendapat pemberitahuan.

Bencana itu sendiri bukan datang begitu saja, ungkap Sugeng Slamet, melainkan ada sumber penyebab utama yakni untuk Desa Setrokalangan karena selain posisi berada pada cekungan dan bersebelahan dengan sungai besar, maka sungai tersebut menjadi sumber permasalahan, sehingga ini dijadikan kekuatan dimiliki desa ini.

Kekuatan potensi air di sungai yang berada di perbatasan dengan Kabupaten Demak ini, lanjut Sugeng Slamet, diangkat dalam program pengabdian masyarakat UMK, yakni dengan mengajak, melatih dan mendampingi warga dan pemerintah desa untuk membuat sumber perekonomian yang potensial, maka dikembangkan budi daya lele dendan memberikan keramba di sungai itu.

Tentu ada kesulitan warga bagaimana menghidupkan budi daya perikanan ini, demikian Sugeng Slamet, maka para mahasiswa UMK juga memberikan solusi dengan memanfaatkan eceng gondok yang juga selama ini menjadi sumber penyebab banjir yaitu diolah untuk dijadikan bahan pelet untuk pakan ikan.

"Kita berikan peralatan mesin alat  pembuatan pelet dan ilmu pengolahan eceng gondok menjadi pakan ikan bermutu, sehingga warga tidak lagi kesulitan pakan dan sekaligus secara mandiri membersihkan gulma mengganggu aliran sungai," tambahnya.

Tidak cukup itu saja, menurut Sugeng Slamet, untuk mengatasi kesulitan marketing hasil budi daya lele, warga juga diberikan pendampingan dengan pengolahan seperti abon lele, sambel lele, bakso lele, sehingga mempermudah pemasaran produk. Dengan demikian, pascabencana warga dapat lebih berdaya secara ekonomi untuk penopang masa depan mereka.

Hal yang masih menjadi pekerjaan rumah saat ini, tutur Sugeng Slamet, adalah dibutuhkan keikutsertaan para pengambil kebijakan dan terutama pemerintah daerah dapat bersama mengembangkan potensi yang ada, sehingga warga akan berdaya secara ekonomi dari program ini.

Sementara itu Penanggungjawab PM BEM UMK Abdullah In’am Maulana mengatakan bahwa program ini diharapkan akan menjadi tonggak agar tidak hanya upaya deteksi dini di daerah bencana, tetapi juga dapat lebih memberdayakan masyarakat Desa Setrokalangan untuk dapat bangkit secara ekonomi.

"Sukses pengabdian masyarakat BEM UMK di Setrokalangan ini, selanjutnyanjuga akan dikembangkan dengan pengabdian berikutnya di desa-desa rawan bencana lain di Kabupaten Kudus," ujar Abdullah In’am Maulana.

Kabupaten Kudus, ungkap Abdullah In’am Maulana, dalam hal bencana memiliki dua karakteristik, sehingga ketika terjadi cuaca ekstrem ini maka di kawasan pegunungan muncul ancaman bencana longsor dan di daerah bawah rawan bencana banjir. (AS/E-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri yuliani
Berita Lainnya