Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Menjemput Kesembuhan di Tengah Bencana: Layanan Kesehatan Mobile untuk Penyintas Agam

Rahmatul Fajri
05/1/2026 16:04
Menjemput Kesembuhan di Tengah Bencana: Layanan Kesehatan Mobile untuk Penyintas Agam
Ilustrasi(Dok Unand)

BENCANA hidrometeorologi yang melanda Kabupaten Agam tidak hanya merusak rumah dan infrastruktur, tetapi juga memutus akses masyarakat terhadap layanan kesehatan. Di sejumlah nagari dan jorong, puskesmas menghadapi keterbatasan listrik, air bersih, serta meningkatnya jumlah warga yang membutuhkan perawatan medis maupun pendampingan psikologis. Dalam situasi tersebut, kehadiran layanan kesehatan yang cepat dan adaptif menjadi kebutuhan mendesak.

Menjawab tantangan itu, Universitas Andalas melalui Tim Pengabdian kepada Masyarakat Tanggap Darurat Bencana melaksanakan program Penguatan Layanan Kesehatan Tanggap Bencana Berbasis Inovasi dan Layanan Mobile di Kecamatan Matur dan Kecamatan Maninjau, Kabupaten Agam. Program ini merupakan bagian dari skema Program Pengabdian kepada Masyarakat Tanggap Darurat Bencana Wilayah Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat Prioritas II yang didanai oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) Tahun Anggaran 2025.

Selama kurang lebih tiga minggu, tim multidisiplin Universitas Andalas diterjunkan langsung ke lapangan dengan menjadikan Puskesmas Matur dan Puskesmas Maninjau sebagai pusat layanan kesehatan pascabencana. Tim ini terdiri dari dokter spesialis, dokter umum, perawat, tenaga farmasi, gizi, kesehatan masyarakat, psikolog, serta mahasiswa. Pendekatan yang digunakan adalah layanan kesehatan mobile, yakni pelayanan yang aktif mendatangi masyarakat, terutama di wilayah dengan akses terbatas akibat kerusakan infrastruktur.

Pada tahap awal, tim melakukan koordinasi dengan puskesmas dan pemerintah setempat untuk memetakan wilayah prioritas dan kelompok rentan. Jorong terisolasi, hunian sementara, serta pondok pesantren menjadi sasaran utama layanan. Penyiapan sistem layanan kesehatan keliling dilakukan agar pelayanan tetap berjalan meskipun di lokasi tanpa listrik dan air bersih yang memadai.

Memasuki pekan kedua, pelayanan kesehatan langsung diberikan kepada masyarakat. Layanan medis mencakup pemeriksaan penyakit umum, konsultasi penyakit dalam dan kulit, pemantauan penyakit tidak menular seperti hipertensi dan diabetes, serta perawatan luka dan dekubitus melalui kunjungan rumah. Tim juga menangani kejadian luar biasa campak yang sempat muncul di wilayah terdampak, serta memberikan layanan kesehatan bagi ibu hamil dan kelompok lanjut usia.

Ratusan warga tercatat menerima layanan selama kegiatan berlangsung. Sebagian besar pasien merupakan lansia dengan keluhan penyakit kronis yang memburuk akibat keterbatasan akses pengobatan selama masa bencana. Selain itu, kasus infeksi saluran pernapasan akut, gangguan pencernaan, dan penyakit kulit juga ditemukan, meski dalam jumlah lebih kecil.

Namun, bencana tidak hanya meninggalkan persoalan fisik. Trauma psikologis menjadi dampak yang kerap luput dari perhatian. Anak-anak yang kehilangan rasa aman dan orang dewasa yang menghadapi tekanan ekonomi serta ketidakpastian masa depan membutuhkan pendampingan khusus. Karena itu, layanan trauma healing menjadi bagian tak terpisahkan dari program ini.

Untuk anak-anak, pendampingan dilakukan melalui aktivitas bermain, menggambar, dan bercerita yang dirancang untuk membantu mereka mengekspresikan emosi secara aman. Sementara bagi orang dewasa, pendampingan psikososial difokuskan pada pemulihan mental, penguatan ketahanan diri, dan dukungan emosional berbasis komunitas. Kegiatan ini menjangkau puluhan anak dan keluarga di berbagai jorong di Kecamatan Matur dan Maninjau.

Selain pelayanan kesehatan dan pemulihan psikologis, tim pengabdian juga menyalurkan bantuan logistik kepada masyarakat terdampak. Bantuan yang diberikan meliputi family kit, hygiene kit, obat-obatan untuk penyakit kronis dan infeksi, serta peralatan medis sederhana seperti alat ukur tekanan darah dan glukosa. Bantuan tersebut disalurkan melalui puskesmas sebagai pos utama agar tepat sasaran dan mendukung keberlanjutan layanan.

Ketua Tim Pengabdian, dr. Wahyudi, SpPD KKV, menegaskan bahwa program ini tidak berhenti pada penanganan darurat semata. “Kami ingin memperkuat puskesmas sebagai garda terdepan layanan kesehatan pascabencana. Model layanan mobile dan pemanfaatan inovasi kesehatan ini diharapkan dapat menjadi bagian dari sistem pelayanan rutin puskesmas dan direplikasi di wilayah lain,” ujarnya.

Pada pekan terakhir kegiatan, tim bersama puskesmas dan pemangku kepentingan lokal melakukan evaluasi dan menyusun rekomendasi tindak lanjut. Pasien yang masih membutuhkan kontrol lanjutan atau rujukan didata dan diarahkan ke fasilitas kesehatan terkait. Selain itu, sistem pencatatan sederhana diserahkan kepada puskesmas untuk mendukung pemantauan kesehatan masyarakat pascabencana.

Melalui program ini, Puskesmas Matur dan Maninjau diperkuat sebagai simpul koordinasi layanan kesehatan di wilayah rawan bencana. Universitas Andalas juga menyusun modul layanan kesehatan tanggap bencana berbasis puskesmas dan memperkuat jejaring rujukan dengan fasilitas kesehatan lanjutan, dengan melibatkan pemerintah nagari dan pemangku kepentingan setempat.

Di tengah meningkatnya frekuensi bencana alam, program ini menunjukkan pentingnya kolaborasi antara perguruan tinggi, tenaga kesehatan, dan pemerintah daerah dalam memastikan hak masyarakat atas layanan kesehatan tetap terpenuhi. Menjemput kesembuhan di tengah bencana bukan hanya tentang pengobatan, tetapi juga tentang memulihkan harapan dan memperkuat ketahanan masyarakat. Bagi warga di Kecamatan Matur dan Maninjau, kehadiran layanan kesehatan mobile ini menjadi bukti bahwa di tengah krisis, negara dan dunia akademik tidak absen. (H-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Indrastuti
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik