Headline

Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.

Hari 15 Pascabanjir di Aceh, BBM Masih Langka dan Listrik Hanya di Kantor Pemerintah

Amiruddin Abdullah Reubee
12/12/2025 21:33
Hari 15 Pascabanjir di Aceh, BBM Masih Langka dan Listrik Hanya di Kantor Pemerintah
Warga antrean BBM di SPBU Bambi, seputaran Kota Sigli, Ibukot Kabupaten Pidie, Aceh.(MI/ Amiruddin Abdullah Reubee)

HINGGA hari ke-15 setelah puncak banjir Sumatra, kelangkaan gas elpiji dan BBM masih terjadi di banyak wilayah di Aceh. Di Kabupaten Aceh Tamiang, listrik baru menyala pada kawasan perkantoran pemerintah di Kecamatan Karang Baru.

 

Kondisi tersebut membuat para pengungsi di Aceh Tamiang harus menjalani malam dengan gelap gulita di tenda-tenda pengungsian. Kondisi begitu memprihatinkan karena para pengungsi, termasuk balita dan bayi, harus menahan dingin dan serangan nyamuk tanpa selimut.

 

Sugeng Handayani, kepala SMA Sukma Bangsa Pidie yang mengunjungi orang tua serta keluarga besarnya di Desa Alur Tani 1, Kecamatan Tamiang Hulu, mengungkapkan listrik dan internet juga masih mati total. Ia sendiri sudah tidak bisa dihubungi sejak tiga hari lalu.

 

Sementara itu, di Kecamatan Pining, Kabupaten Gayo Lues, hingga Jumat (12/12) akses jalur darat dari dan ke Blang Kejeren, ibukota kabupaten setempat masih putus. Untuk menembus ke Kecamatan Pining harus berjalan kaki menyusuri badan jalan yang longsor sekitar 40 km

 

Bahan bakar minyak (BBM) juga masih langka di banyak daerah. "Di SPBU Raklunung saja yang masih seputar Blang Kejeren Ibukota Kabupaten Gayo Lues, warga antean panjang. Padahal mobil angkutan BBM belum tiba" tutur Masykur, Guru SMP di Kecamatan Pining.

 

Hal hampir sama juga terjadi di kawasan Kecamatan Matang Kuli, Paya Baking dan Pirak Timu, Kabupaten Aceh Utara. Warga sulit mendapati BBM dan elpiji 3 kg jenis melon. "Di pangkalan pengecer resmi ketersediaan elpiji 3 kg kosong. Kalau kedapatan pada penjual tidak resmi harganya mencapai Rp 50 ribu/tabung 3 kg" tutur Mukhtarizal, warga Alue Drien, Kecamatan Pirak Timu.

 

Kelangkaan elpiji dan BBM juga masih menyeluti warga Kabupaten Pidie. Untuk memperoleh BBM bersubsidi warga harus antrean panjang. Pada SPBU yang sebagian besar berapa di jalur Nasional Banda Aceh-Medan, Sumatera Utara, BBM pun jarang tersedia. "Kadang sudah kita anter cukup panjang, kecewanya setelah sampai dekat pompampa pengisian ternyata pertalite sudah habis" tutur Haikal, pemuda Kota Sigli, Pidie.

 

Kelangkaan elpiji 3 kg di Kabupaten Pidie sudah berlangsung hampir tiga pekan terakhir. "Mungkin kalau ada hanya sedikit, itupun di pinggiran Kota Sigli. Kalau di kampung kami sudah hampir dua pekan memasak menggunakan kayu bakar" tutur Farida, warga Kecamatan Indrajaya.

 

Budayawan Aceh yang juga akademisi Universitas Syiah Kuala (USK) Banda Aceh, M Adli Abdullah mengatakan bahwa kelangkaan elpiji, krisis BBM, listrik, dan lumpuhnya jaringan internet itu merupakan persoalan dasar. 

 

"Kalau itu saja tidak terselesaikan dengan segera, bagaimana melakukan recovery paskan banjir ke depan. Apakah itu kelalaian, ketidak seriusan, ketidak sengajaan atau seribu alasan lainnya. Yang dikhawatirkan itu menjadi pudar kepercayaan kepada pemerintah dan mengundang hal lebih serius yang tidak kita inginkan" tutur Dosen Senior Fakultas Hukum USK Banda Aceh. (M-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Bintang Krisanti
Berita Lainnya