Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Walhi Sumbar Identifikasi 15 Titik Pembalakan Liar di Area Sumber Banjir Bandang di Padang

Yose Hendra
10/12/2025 20:49
Walhi Sumbar Identifikasi 15 Titik Pembalakan Liar di Area Sumber Banjir Bandang di Padang
Anggota Basarnas gabungan melakukan pencarian korban bencana tanah longsor dan banjir bandang di Kelurahan Sipange, Kecamatan Tukka,Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, Selasa (9/12/2025).(Antara)

RIBUAN kubik kayu yang hanyut bersamaan debris banjir bandang di dua Daerah Aliran Sungai (DAS) yakni Air Dingin dan Batang Kuranji menunjukkan bahwa keadaan di hulu tak baik-baik saja. Terlepas dari faktor duaca ekstrem atau siklon tropis senyar penyebab banjir bandang pada 27 November lalu, namun kerusakan ekologis juga sangat mencolok.

Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Sumatra Barat menegaskan bahwa gelondongan kayu yang terseret banjir bandang merupakan 'jejak visual' masifnya aktivitas penebangan liar di kawasan hulu. Di sisi lain, Pemerintah Provinsi Sumbar menyatakan bahwa hulu sungai yang memicu banjir bandang justru berada di kawasan hutan primer yang tidak tersentuh aktivitas korporasi.

WALHI Sumbar merilis temuan yang mengejutkan: dari analisis citra satelit, terdapat sedikitnya 15 titik aktivitas illegal logging di dalam kawasan hutan lindung dan kawasan konservasi Suaka Margasatwa Bukit Barisan.

“Gelondongan kayu yang dibawa galodo adalah bukti paling jelas. Citra satelit menunjukkan kerusakan serius di hulu DAS Air Dingin. Ini memperkuat indikasi banjir bandang bukan hanya bencana alam, tetapi efek langsung dari rusaknya tutupan hutan,” kata Kepala Divisi Penguatan Kelembagaan dan Penegakan Hukum Lingkungan WALHI Sumbar, Rabu (10/12).

Tommy mempertanyakan keseriusan pemerintah daerah. “Apa yang sudah dilakukan Pemprov Sumbar? Kita tunggu niat baiknya,” ujarnya.

Berbeda dengan temuan WALHI, Pemprov Sumbar melalui Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Sumatra Barat Ferdinal Asmin menyebut, hasil pemantauan drone dan inspeksi lapangan tidak menemukan aktivitas perusahaan kayu di hulu galodo Lubuk Minturun.

“Kawasan atas itu hutan primer. Yang terlihat adalah longsoran tebing bukit di ketinggian 1.300–1.500 mdpl. Material longsor itulah yang menutup alur sungai,” ujarnya.

Menurut pemerintah, pemicu utama bukanlah aktivitas ilegal, melainkan pergerakan tanah dari tebing curam di kawasan cagar alam.

Ia menambahkan, material yang tersapu galodo terdiri dari gelondongan kayu yang tercerabut akibat longsor, campuran sisa ladang masyarakat di tengah dan hilir DAS.

Menurutnya, pembukaan ladang oleh warga memang ditemukan, namun berada di APL (Area Penggunaan Lain) dekat permukiman, bukan di kawasan hutan negara.

“Kalau ada pelanggaran, tentu akan ditindak. Tapi perusahaan kayu tidak ada di sana. Perusahaan kayu hanya ada di Mentawai, Sijunjung, dan Dharmasraya,” katanya.

Gubernur Sumatra Barat Mahyeldi menegaskan bahwa bencana banjir bandang yang melanda sejumlah daerah merupakan dampak gabungan dari faktor hidrometeorologi, ekologi, serta adanya indikasi aktivitas penebangan kayu yang kini tengah ditelusuri lebih lanjut.

“Ini bencana kombinasi antara hidrometeorologi dan ekologi. Ada indikasi penebangan kayu, dan itu akan kita lihat serta pastikan lewat penyelidikan di lapangan,” kata Mahyeldi.

Kapolda Sumatra Barat Gatot Tri Suryanta memastikan pihaknya turun tangan untuk memeriksa asal-usul kayu yang ikut terseret galodo.

“Terkait dugaan pembalakan, kami sedang menyelidiki. Apakah kayu gelondongan itu hasil pembalakan atau bagian dari material longsor,” tegasnya.

Hingga saat ini, akibat banjir bandaNg atau galodo di sejumlah DAS di Kota Padang, 11 orang meninggal dunia. Sementara untuk keseluruhan Sumatra Barat sudah 238 orang meninggal.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri yuliani
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik