Headline
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Kumpulan Berita DPR RI
DERITA warga korban terdampak banjir bandang yang melanda kawasan Provinsi Aceh, Sumatra Utara dan Sumatra Barat, seperti tidak berujung. Padahal bencana yang diklaim pemerintah sanggup mengatasi sendiri itu sudah memasuki hari ke-14.
Jeritan para keluarga korban yang masih bertahan di lokasi kampung banjir itu saban hari terdengar dalam kondisi masih sangat sulit. Pernyataan pejabat negara yang menyebut penanganan sudah membaik seperti buaian belaka.
Setelah kemarin terdengar keluhan warga kawasan banjir di Kabupaten Aceh Tamiang langka air bersih. Kini kembali suara jeritan korban banjir Kabupaten Aceh Utara juga mengeluh ketiadaan air mencuci dan sanitasi itu.
Korban banjir di Kecamatan Langkahan misalnya, sedikitnya sudah dua pekan mereka harus mengkonsumsi air genangan sisa banjir yang keruh atau menanti hujan turun. Hal itu sangat berbahaya untuk kesehatan tubuh dan berpotensi mengundang penyakit.
Apalagi air itu disuguhkan untuk bayi serta balita yang masih menyusui. Kondisi paling mengkhawatirkan dialami para pengungsi yang umumnya hanya tersisa baju di badan, tentu tidak memilki dapur atau elpiji untuk memasak air.
"Tidak ada air bersih memasak atau membersihkan sesuatu. Untuk air minum juga harus mengambil air banjir atau menadah hujan turun. Tidak ada sumber lain, kecuali dibawa dari tempat lain," kata Nur, perempuan Gampong (Desa) Geudumbak, Kecamatan Langkahan, kawasan pedalaman di Aceh Utara, Rabu (10/12).
Selain krisis air bersih, korban banjir nun jauh di kawasan terpencil Aceh Utara itu juga sangat mengharapkan susu dan perlengkapan bayi. Termasuk juga popok si kecil dan juga makanan pendamping ASI bagi bayi lainnya.
"Bagaimana menyusui kalau ibunya saja krisis bahan makanan dan dehidrasi karena kekurangan minum air," tutur warga lainnya.
Persoalan krisis air bersih dan air minum juga masih melanda lokasi banjir di Kabupaten Aceh Tamiang, sebuah kawasan paling parah dihantam air bah pada 25-27 November bulan lalu. Semua jaringan atau instalasi air PDAM di Kota Kuala Simpang, Ibu Kota Kabupaten Aceh Tamiang, dan sekitarnya rumah diterjang bencana.
Bahkan di komplek perkantoran pemerintah kawasan Kecamatan Karang Baru juga hancur fasilitas air konsumsi. Tidak ada jalan lain dalam masa darurat ini, kecuali harus dipasok dari luar atau kawasan tetangga mereka.
"Sudah dua hari mengandalkan pasokan dari Provinsi Sumatra Utara, tapi belum seberapa. Masih cukup luar kawasan pedalaman Tamiang dari hulu sungai hingga tepian Selat Malaka membutuhkan air bersih," tutur Ramadana, warga Kecamatan Seadam.
Sesuai penelusuran Media Indonesia, kekhawatiran serupa masih menyelimuti lokasi banjir lainnya. Terutama di kawasan pedalaman yang terisolir dan sulit terjangkau karena kerusakan jalur darat.
Seperti di kawasan Kecamatan Pining Kabupaten Gayo Lues, Tamiang Hulu Kabupaten Aceh Tamiang. Hingga Peunaron dan Lokop, Kabupaten Aceh Timur. (MR/E-4)
Pasalnya sudah hampir tiga bulan usai bencana banjir dan tanah longsor terjadi di Sumatra, sekolah-sekolah di lokasi itu masih harus belajar berlantai terpal plastik di tenda darurat.
Adapun temanya adalah Integrasi Pendekatan One Health dalam Pemulihan Sosial, Pangan, dan Kesehatan Masyarakat Rentan Pascabencana Banjir di Aceh.
Selain pembersihan bangunan, personel juga melakukan normalisasi pada 42 hektare lahan terdampak agar dapat digunakan kembali oleh masyarakat.
KONDISI ekonomi korban banjir besar di Aceh benar-benar mengkhawatirkan.
Keputusan ini diambil lantaran delapan desa di Aceh Tengah masih terisolasi total akibat kerusakan infrastruktur yang parah pascabencana banjir dan tanah longsor.
Rapat konsolidasi membahas klaster infrastruktur, mencakup jalan, jembatan permanen, jembatan bailey, serta infrastruktur sungai seperti irigasi, daerah aliran sungai hingga sumur bor.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved