Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Baku Hantam Warnai Pengungsian GOR Pandan, Sibolga

Januari Hutabarat
06/12/2025 15:10
Baku Hantam Warnai Pengungsian GOR Pandan, Sibolga
Pasangan suami istri, Yarman Mendrofa-Aliria Ndhara, dengan buah hati mereka yang baru berusia lima hari.(MI/Januari Hutabarat)

KETEGANGAN pecah di lokasi pengungsian korban banjir bandang dan longsor di Gedung Olahraga (GOR) Pandan, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatra Utara, Sabtu (6/12) sekitar pukul 12.10 WIB. Keributan antarpengungsi itu bahkan berujung baku hantam, dipicu insiden sepele yang nyaris mencederai seorang bayi berusia lima hari.

Peristiwa bermula ketika sisa nasi diduga dilempar dari lantai dua gedung pengungsian dan mengenai seorang bayi yang sedang digendong orangtuanya. Bayi tersebut merupakan anak pertama pasangan Yarman Mendrofa, 29, dan Aliria Ndhara, 31, warga Desa Sigiring-giring, Kecamatan Tukka.

Pasangan muda itu merupakan korban langsung bencana banjir bandang. Rumah mereka dilaporkan hanyut terseret derasnya arus sungai, memaksa keduanya mengungsi sejak akhir November lalu. “Saya tidak mengenal siapa yang melempar sisa nasi itu. Saat mengenai anak saya, saya hanya bertanya siapa pelakunya,” ujar Yarman kepada Media Indonesia, Sabtu (6/12).

Namun, kata Yarman, pertanyaan tersebut justru dibalas dengan nada tinggi dan ucapan emosional. Situasi pun memanas. Terbawa emosi, Yarman naik ke lantai dua untuk menemui orang yang diduga sebagai pelaku. Adu mulut tak terelakkan dan berujung perkelahian.

“Emosi saya sudah tak tertahan. Kata-kata kasar dilontarkan, hingga akhirnya baku hantam terjadi,” katanya.

Keributan baru mereda setelah sejumlah pengungsi lain turun tangan melerai kedua belah pihak.  Tidak ada laporan korban luka serius dalam insiden tersebut. Meski demikian, peristiwa itu menambah panjang daftar persoalan di tengah kondisi pengungsian yang penuh tekanan, kelelahan, dan trauma.

Yarman berharap aparat keamanan dan petugas pengungsian meningkatkan pengawasan untuk mencegah provokasi serta memastikan rasa aman bagi seluruh pengungsi, khususnya perempuan dan anak-anak.

“Kami semua sudah cukup lelah dan trauma. Pengungsian seharusnya menjadi tempat aman, bukan malah memunculkan masalah baru,” ujarnya.

Sementara itu, terduga pelaku disebut meninggalkan lokasi pengungsian sesaat setelah keributan dilerai. Hingga berita ini diturunkan, yang bersangkutan belum berhasil dimintai keterangan.

KISAH PILU DI PENGUNGSIAN
Di balik keributan tersebut, tersimpan kisah pilu sebuah keluarga kecil yang lahir dari situasi darurat. Bayi yang hampir terkena lemparan sisa nasi itu lahir di tengah pengungsian, tidak lama setelah bencana melanda.

“Tanggal 26 November kami masuk pengungsian dalam kondisi istri saya hamil tua. Pada 1 Desember, istri saya mulai merintih ingin melahirkan. Petugas kemudian membawa kami ke RSU Pandan,” tutur Yarman.

Sehari kemudian, tepat pada 2 Desember 2025, sang bayi laki-laki lahir dengan selamat dan dalam kondisi sehat. Namun kebahagiaan itu berlangsung singkat. Pada 5 Desember, keluarga kecil tersebut kembali dipindahkan ke lokasi pengungsian GOR Pandan. “Anak kami lahir di tengah bencana dan tekanan di pengungsian,” katanya lirih. (H-1)

 

 

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Denny parsaulian
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik