Headline
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Kumpulan Berita DPR RI
SIANG hari terik di aliran Sungai Nanggang yang menjulur dari Subarang Aia hingga Sawah Aia, Nagari Salareh Aia Timur dan Nagari Salareh Aia, Kecamatan Palembayan, Kabupaten Agam. Di kawasan itu, aroma lumpur tebal nan basah kadang bercampur anyir mengambang di udara. Setiap langkah meninggalkan sedalam mata kaki hingga tenggelam lebih jauh. Di beberapa titik, lumpur mencapai dada orang dewasa. Di sanalah, Erfian Hadinata, 35, dan kawan-kawan dari Regu A Basarnas Pencarian di Palembayan, merayap perlahan, menembus kubangan yang bisa menelan manusia dalam sekali hentak.
“Kami sering terjerembab. Kadang harus merayap di atas lumpur supaya beban tidak langsung tenggelam,” ujar Erfian.
Dari Bengkulu ia datang, memimpin sepuluh personel timnya yang sejatinya ditugaskan ke Malalak, salah satu wilayah diterjang galodo di Kabupaten Agam, Sumatra Barat. Mereka berangkat Kamis, tiba di Padang Jumat, lalu langsung bergeser justru ke Saalreh Aia, Agam.
“Perjalanan panjang. Tapi begitu sampai sini, kondisi jauh lebih berat dari yang kami bayangkan,” kata Erfian yang didaulat jadi Komandan Regu A Basarnas Pencarian di Palembayan.
Wilayah hulu Salareh Aia menjadi titik pertama pencarian. Hari pertama, Sabtu (29/11) pagi, mereka langsung menyusuri titik paling hulu dari Sungai Naggang di Salareh Aia Timur. Pagi itu, mereka mengevakuasi enam jenazah dengan lima di antaranya dari Subarang Aia, satu dari sawah Aia. Semuanya ditemukan dalam kondisi mengenaskan.
“Ada yang tersangkut di pohon, ada yang di atas batu, ada yang terkubur dalam reruntuhan rumah dan kayu besar,” kata Erfian.
“Pakaiannya tak lengkap, kulitnya terkelupas. Hari-hari awal, (jenazah) masih bisa dikenali. Langsung dimakamkan keluarga,” dia menambahkan.
Jenazah dimakamkan di depan Puskesmas Koto Alam, karena rumah-rumah warga yang biasanya menjadi tempat duka telah hilang bersama aliran galodo.
Medan pencarian bukan sekadar terjal. Ia hidup dan menelan apa pun yang menginjak permukaannya. Lumpur pekat setinggi dada membuat setiap gerak memerlukan tenaga ganda. Belum lagi sisa kayu, potongan batang raksasa, hingga bongkahan rumah yang menyumbat semua titik pencarian.
“Material besar ini tak bisa kami bongkar. Mau tak mau harus pakai alat berat,” ujar Erfian. “Tapi alatnya terbatas. Kalau kami minta bantuan di titik yang dicurigai, barulah mereka datang.”
Di lapangan, mereka bekerja mengandalkan tanda-tanda biologis: aroma yang muncul dari lumpur, arah hanyutan material, dan kehadiran lalat hijau. “Kadang muncul sedikit aroma dari bawah lumpur, itu tanda," bilangnya.
Terbaru, timnya menemukan jenazah anak berusia 4–5 tahun di persawahan Kampung Tengah Timur. Hanya bagian punggungnya yang terlihat. Di Subarang Aia, ia menemukan ibu dan anak yang masih dalam posisi berpelukan.
"Dan sebelum siang ini, kami menemukan lagi jasad seorang perempuan yang ditandai dari masih berpakaian legging," ujar Erfian, kala diwawancarai di Posko Basarnas di Salareh Aia, Palembayan, Kamis (4/12).
Erfian sudah 11 tahun di Basarnas. Ia pernah terjun di operasi Medan, Bengkulu, dan bencana banjir bandang lainnya. Namun baginya, bencana kali ini menjadi salah satu yang paling melelahkan secara mental.
“Kerja di Basarnas, kepuasan itu menolong orang. Pernah di Bengkulu, saya cari rekan sendiri yang hanyut," ungkapnya.
Ia belum tahu kapan bisa pulang. “Anak sering nanya, lama atau sebentar,” ujarnya, suaranya mulai melemah. “Kami rindu rumah, tapi tugas kami di sini.”
Total Basarnas yang bekerja dalam pencarian di Salareh Aia ada sekitar 60 personel, ditambah potensi SAR 100 orang.
Di sisi lain tim pencarian, para relawan PMI juga menghadapi tantangan serupa. Mereka berpacu dengan waktu, dengan kehati-hatian, karena kalau pun ditemukan jenazah sudah lebih sepekan ini, kondisinya sudah rapuh.
Sabar, relawan PMI Kabupaten Pasaman, mengaku sejak kemarin ia bekerja di jalur paling becek.
“Kalau mayat sudah lunak, salah tarik bisa hancur,” katanya. “Tadi ada yang ditarik tangannya, hampir terlepas. Makanya kami bungkus dulu dengan kantong jenazah baru diputar perlahan,” terangnya.
Di titik lain, Mujais, 30, anggota Emergency Response Team (ERT) PT Sumber Daya Arindo dari Ternate demi misi kemanusiaan. Ia mengatakan medan galodo di Agam jauh lebih menyulitkan dibanding pengalamannya di Ternate.
“Di sini tak ada alat berat yang cukup. Medannya lumpur lebih dari enam meter. Kalau tidak ada alat berat, kami hanya mengandalkan insting dan penciuman,” katanya. “Harus cari tanah yang agak kering, atau batang kayu untuk pijakan.”
Soal minimnya alat berat untuk percepatan penanganan banjir bandang atau galodo ini juga dirasakan Bupati Agam Benni Warlis. Dia menegaskan bahwa kebutuhan paling mendesak saat ini adalah penambahan alat berat untuk mempercepat proses pencarian korban, pembersihan material galodo, dan pembukaan akses jalan yang masih terputus di sejumlah titik terdampak.
“Kita kekurangan alat berat. Saya minta tambahan sekitar 10 unit lagi yang akan kita sebar seperti ke Malalak, buka akses jalan ke Matua. Dan di Salareh Aia daerah paling terdampak, mungkin 3–4 unit tambahan. Alat ini sangat menentukan percepatan penanganan,” ujar Bupati Benni.
Luri Mikel Saputra, 31, personel SAR Bengkulu, memiliki cerita berbeda. Ia pernah bekerja di pabrik di Korea Selatan dengan gaji Rp15 juta–Rp20 juta per bulan. Kini ia memilih Basarnas, meski statusnya P3K.
“Cari mayat itu panggilan jiwa,” katanya tanpa ragu. “Kalau ditawari balik ke Korea? Berat. Saya pilih Basarnas.”
Bagi Erfian dan ratusan personel SAR lainnya, medan pencarian di Agam jauh dari kata ideal. Keterbatasan alat berat, lumpur yang menelan kaki, kayu raksasa yang menutup aliran sungai, hingga akses yang terputus membuat setiap proses seperti memindahkan gunung.
Namun mereka tetap bergerak: merayap, menggali, menyibak lumpur, memindah serpihan kayu satu per satu. Semua demi satu tujuan: menemukan korban dan mengembalikan mereka kepada keluarga.
“Tergantung pimpinan, kami akan terus cari sampai masa tanggap darurat selesai,” ujar Erfian.
Di tengah bau lumpur, suara gergaji mesin, dan lalat hijau yang beterbangan, para petugas ini tetap mengulang satu keyakinan sederhana yang membuat mereka kuat bertahan di medan semenjak hari pertama yakni kepuasan mereka adalah menolong orang.
Hingga kemarin, Kamis (4/12) sore, Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi (Kapusdatinkom) Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari melansir, korban meninggal dalam bencana di Pulau Sumatra bertambah menjadi 836 jiwa.
Rinciannya, sebanyak 325 orang meninggal di Aceh dan dilaporkan 170 orang masih hilang. Lalu di Sumut menjadi 311 orang dan Sumbar meninggal sebanyak 200 orang.
Kepolisian Daerah Sumatera Barat mencatat sudah ada 200 orang tewas akibat bencana galodo (banjir bandang) di Kabupaten Agam, Sumatera Barat (Sumbar). Disaster Victim Identification (DVI) Polri telah mengidentifikasi 174 jenazah.
"Saat ini yang masih dalam proses identifikasi itu ada 26 orang," kata Kapolda Sumbar Irjen Gatot Tri Setyadi. (YH/E-4)
BANJIR lumpur dan galodo yang kembali melanda sejumlah kawasan di Kota Padang, Sumatra Barat, tidak mengalihkan perhatian warga pesisir dari ancaman bencana lain yang tak kalah berbahaya.
PEMERINTAH Kota Padang mulai menggerakkan pembangunan hunian tetap (huntap) bagi warga terdampak bencana.
PEMERINTAH pusat, Pemerintah Provinsi Sumatra Barat, dan Pemerintah Kota Padang Panjang terus memperkuat kolaborasi dalam mempercepat pemulihan pascabencana.
WAKIL Bupati Agam Muhammad Iqbal menegaskan pentingnya percepatan persiapan lahan agar pembangunan huntara dapat segera direalisasikan.
Kemenhut melalui UPT Koordinator Wilayah Aceh terus melakukan percepatan penanganan dampak bencana banjir berupa pembersihan tumpukan kayu dan material
BUPATI Agam Benni Warlis meninjau langsung lokasi jembatan putus akibat banjir di Tiku V Jorong, Kecamatan Tanjung Mutiara, Kamis (18/12).
BANJIR lumpur dan galodo yang kembali melanda sejumlah kawasan di Kota Padang, Sumatra Barat, tidak mengalihkan perhatian warga pesisir dari ancaman bencana lain yang tak kalah berbahaya.
Salah satu temuan menarik tim di lapangan adalah tingginya kesiapsiagaan masyarakat setempat
Di Kota Padang, debit air DAS Batang Kuranji dilaporkan meningkat tajam setelah hujan turun tanpa jeda sejak siang hari.
UPAYA pencarian korban hilang akibat galodo dan tanah longsor terus ditingkatkan.
Selain alat berat, sektor penerangan darurat juga menjadi perhatian serius. Menurut Bupati Agam, kebutuhan genset masih sangat mendesak.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved