Headline
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
Kumpulan Berita DPR RI
HARIMAU Sumatra liar berkeliaran di areal kebun sawit Kecamatan Pante Bidari, Kabupaten Aceh Timur, Provinsi Aceh, sekitar empat hari terakhir. Untuk menghindari konflik, warga sekitar diharapkan tidak memasuki lokasi yang dianggap berbahaya itu.
Sesuai informasi diperoleh Media Indonesia, Senin (24/11) menyebutkan, si raja hutan yang termasuk hewan langka dilindungi undang-undang itu sering keluar masuk hutan dan berkeliaran di areal kebun sawit. Itu diketahui setelah petani dan warga beberapa kali berpapasan dengan harimau tersebut di kawasan setempat.
"Harimau itu sudah kami pantau terisolir di dekat perkebunan," kata Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh Wisnu Ujang Barata.
Karena itu pihaknya mengimbau warga sekitar tidak mendekati atau jangan beraktivitas di lokasi itu. Dikhawatirkan nanti bisa mengundang konflik dengan hewan buas berkuku dan bergigi panjang tersebut.
Untuk mencegah konflik dan menghindari korban, tim BKSDA telah turun ke lokasi guna memasang sangkat atau kandang perangkap (box trapped). Setelah tertangkap nanti harimau akan dipindahkan ke kawasan hutan yang lebih aman dan jauh dari aktivitas manusia.
Catatan Media Indonesia, konflik antara harimau Sumatra liar dan manusia sering terjadi di Provinsi Aceh. Bahkan sampai terjadi korban jiwa.
Beberapa kawan yang terjadi konflik setelah harimau kepergok manusia itu diantaranya adalah di Kabupaten Aceh Timur, Aceh Utara, Bener Meriah, Aceh Selatan, Aceh Singkil dan Kabupaten Aceh Tenggara. Itu sebabnya sering menelan korban manusia.
Selain itu juga diraja hutan bertenaga kuat, berkumis panjang dan berkulit belang itu sering terjerat jaring perangkap liar. Itu dilakukan oleh kelompok liar pemburu hewan dilindungi.
Para pelaku tidak bertanggung jawab itu ada yang memburu harimau, gajah, trenggiling, beruang madu dan berung rangkong. Hasil beruang mereka dikomersilkan ke pasar gelap dalam negeri hingga luar negeri. (MR/E-4)
Tidak ada lagi seragam sekolah yang tersisa di Jamat. Siswa mengenakan pakaian warna-warni seadanya hasil pemberian donatur.
Merujuk dari terakhir pemerintah, bencana banjir dan longsor akhir November 2025 lalu menyebabkan 208.693 unit rumah di Aceh rusak.
Bencana banjir dan tanah longsor yang melanda sejumlah wilayah di Aceh pada akhir November lalu meninggalkan dampak serius bagi petani, pekebun, dan petambak.
Keterisolasian ini memaksa harga durian di tingkat petani terjun bebas. Durian ukuran sedang yang biasanya dihargai Rp8.000 per buah, kini hanya bernilai Rp2.500 per buah.
MENTERI Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu'ti, mengatakan masih ada siswa korban bencana banjir Aceh yang belajar di tenda pengungsian.
Menariknya di Kabupaten Pidie, Provinsi Aceh sekarang lahir ide baru dan patut diacungkan jempol. Ini bisa jadi inovasi untuk menyikapi dunia pendidikan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved