Headline

Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.

Isu Gempa Megathrust Mentawai, Warga Padang Berbondong-bondong ke Batam

Hendri Kremer
08/11/2025 13:05
Isu Gempa Megathrust Mentawai, Warga Padang Berbondong-bondong ke Batam
Peta Mentawai dan Padang.(Dok. Antara)

ISU mengenai potensi gempa megathrust yang dapat mengguncang wilayah Sumatra Barat, khususnya Kota Padang, kembali memunculkan kecemasan besar di kalangan warganya. Peringatan dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengenai potensi gempa besar yang terjadi akibat pergerakan lempeng Indo-Australia di zona megathrust Mentawai membuat sejumlah warga Padang berbondong-bondong meninggalkan kota dan menuju Batam, yang dianggap lebih aman.

Peringatan ini semakin dikuatkan setelah BMKG melaporkan adanya tsunami kecil setinggi 11 cm yang teramati akibat gempa magnitudo 7,3 yang terjadi pada Selasa dini hari, 7 November 2025. Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Daryono, menyebutkan bahwa tsunami ini teramati di Stasiun Tanah Bala Nias Selatan.

“Tsunami teramati setinggi 11 cm, berdasarkan data dari tide gauge Stasiun Tanah Bala Nias Selatan,” ujar Daryono. Meski tsunami ini relatif kecil, BMKG tetap mengeluarkan peringatan dini tsunami untuk beberapa wilayah di Sumatera Utara, khususnya Pulau Tanabala, Kabupaten Nias Selatan.

Selain itu, gempa yang terjadi memiliki kekuatan magnitudo 6,9 setelah pembaruan kekuatan gempa. Gempa ini digolongkan sebagai megathrust event, dan dirasakan di berbagai wilayah, termasuk Siberut, Mentawai, Padang, Bukittinggi, serta daerah lainnya di Sumatera Barat dan Sumatera Utara. BMKG mengingatkan bahwa meskipun tsunami pertama yang teramati tidak besar, gelombang berikutnya bisa saja lebih tinggi dan lebih berbahaya.

Episentrum gempa terletak di 0.93 Lintang Selatan, 98.39 Bujur Timur, sekitar 177 km barat laut Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat, dengan kedalaman 84 km.

Akibat ketegangan yang terus meningkat setelah peringatan tsunami ini, banyak warga Padang memilih untuk meninggalkan kota dan menuju Batam, yang dianggap lebih aman dari potensi dampak gempa dan tsunami. Beberapa keluarga memilih menggunakan jalur transportasi udara dan laut menuju Batam, yang lebih jauh dari pusat gempa dan zona risiko tsunami.

"Kami merasa lebih aman di Batam sementara waktu. Tidak ada salahnya mengambil langkah preventif," ujar Rina, 34, salah seorang warga Padang yang ditemui di Pelabuhan Sekupang, Batam, Sabtu (8/11).

Meskipun pemerintah Kota Padang melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) terus mengimbau warga untuk tetap tenang dan mengikuti prosedur evakuasi yang ada, banyak yang memilih untuk pergi sementara waktu, mengingat ketidakpastian ancaman yang bisa datang kapan saja.

Selain Rina, beberapa warga Padang lainnya juga memberikan komentar terkait keputusan mereka untuk pergi.

"Meskipun saya tahu kita sudah disiapkan dengan jalur evakuasi, rasa cemas dan takut tetap ada. Kami memilih Batam karena lebih jauh dari pusat gempa. Saya merasa lebih tenang di sana," kata Andi, 37, seorang warga lainnya yang juga memilih untuk meninggalkan Padang.

"Tsunami dan gempa memang bisa datang tanpa peringatan, dan melihat kejadian-kejadian sebelumnya, saya rasa ini adalah keputusan yang tepat. Sekarang kami berada di Batam bersama keluarga," ungkap Siti, 44, ibu rumah tangga yang ikut berangkat ke Batam bersama dua anaknya. (H-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri Rosmalia
Berita Lainnya