Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
DINAS Pendidikan (Dindik) Jawa Timur mencetuskan program School Food Care (SFC) di jenjang SMA Negeri, sebagai upaya mendukung program ketahanan pangan yang menjadi salah satu prioritas Prabowo Subianto.
“Dindik Jatim menunjuk sebanyak 29 SMA Negeri di Jatim sebagai pilot project program unggulan tersebut. Puluhan SMA itu, tersebar di 24 Kabupaten Kota di Jatim,” kata Dinas Pendidikan Jawa Timur Aries Agung Paewai di Surabaya, Rabu (14/5).
Menurutnya, dalam program ini, setiap sekolah di berbagai wilayah harus mengelola hasil perkebunan sekolah untuk mendorong ketahanan pangan di lingkungan sekolah. Hasilnya, akan dijual belikan untuk pengembangan perkebunan selanjutnya.
“Program ini kami gagas untuk memberikan pengalaman nyata bagi murid. Selain untuk mendukung ketahanan pangan di lingkungan sekolah, SFC juga memberikan ruang belajar bagi murid dalam memahami berbagai komoditas bahan pangan, mulai dari proses budidaya hingga pengelolaan hasilnya,” katanya.
Program tersebut, kata dia, merupakan langkah inovatif dalam menanamkan kesadaran akan pentingnya ketahanan pangan sejak dini kepada siswa. Apalagi, sekolah juga memiliki laboratorium yang luas untuk belajar dan melakukan penelitian langsung.
Dalam hal ini, pihaknya mengunjungi SMAN 2 Ngawi untuk peresmian SFC. Ia menyebut, sudah ada berbagai jenis komoditas yang ditanam, seperti kacang tanah, kacang hijau, ketela rambat, cabai, terong ungu, tomat, bayam, bunga kol, daun kenikir, nanas merah, hingga belimbing.
Selain itu, dalam tinjauannya, ia juga menyatakan bahwa sarana dan prasarana (sarpras) sekolah tertata dengan rapi, bersih dan nyaman untuk kegiatan belajar mengajar (KBM).
“Misalnya saja ruang kelas yang tertata apik, fasilitas pendukung yang lengkap, serta lingkungan sekolah yang asri menjadi poin-poin yang mendapatkan apresiasi,” katanya.
Pihaknya juga mengapresiasi ekstrakurikuler yang di ada di sekolah tersebut. Diantaranya Karya Tulis Ilmiah dengan produk Eco Enzim dan ekskul Robotika dengan produk Filtrasi menggunakan limbah organik dan mobil kontrol.
“Ditambah lagi dengan program unggulan seperti SFC, ini menunjukkan komitmen yang kuat untuk menciptakan pendidikan yang berkualitas,” ucapnya.
Ia berharap, sekolah-sekolah lain di Jatim dapat mengembangkan program inovatif yang mendukung ketahanan pangan sekolah, serta terus berupaya menciptakan lingkungan belajar yang nyaman dan berkualitas bagi para murid.
“Keberhasilan dalam mengimplementasikan program SFC dan menata sarpras sekolah menjadi contoh praktik baik yang patut untuk direplikasi oleh sekolah lain,” ujarnya. (H-3)
Petrokimia Gresik Bangun Tangki Asam Sulfat 40 Ribu Ton untuk Perkuat Produksi Pupuk NPK
Peneliti ciptakan alat 'Stomata In-Sight' untuk mengamati pori-pori daun saat bernapas. Teknologi ini diharapkan mampu menciptakan tanaman yang lebih hemat air.
PEMERINTAH Kabupaten Pati secara resmi menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) hibah tanah seluas 5,2 hektare kepada Perum Bulog.
Keberhasilan program MBG sangat ditentukan sinergi lintas sektor, mulai dari pemerintah, dunia usaha, legislatif, hingga akademisi.
Pemkab Sumedang membantu penyediaan alat dan mesin pertanian (alsintan), benih dan perbaikan irigasi.
Studi terbaru mengungkap fenomena sinkronisasi krisis air global akibat siklus El Niño-La Niña. Bagaimana dampaknya terhadap ketersediaan pangan dunia?
Saat ini masih terdapat sejumlah wilayah kecamatan, khususnya pinggiran yang masih minim akan akses, serta sarana pendidikan di tingkat SMA negeri.
Karawang, Kabupaten yang terletak di Provinsi Jawa Barat, memiliki banyak pilihan SMA Negeri dengan kualitas pendidikan terbaik.
KASUS manipulasi nilai rapor yang dilakukan aparatur sipil negara atau ASN Kota Depok berlanjut ke kasus tindak pidana. Kepala Seksi Intelijen Kejaksaan Negeri Kota Depok
PULUHAN ribu siswa lulusan SMP di Kota Depok, Jawa Barat (Jabar) gagal masuk SMA-SMK Negeri tahun ajaran 2024-2025.
Mereka menanyakan kepastian nasib siswa dari keluarga ekonomi tidak mampu (KETM) yang tesingkir di seleksi penerimaan peserta didik baru (PPDB) tahun ajaran 2024-2025.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved