Headline
Bukan saat yang tepat menaikkan iuran JKN ketika kondisi ekonomi masyarakat masih hadapi tekanan.
Bukan saat yang tepat menaikkan iuran JKN ketika kondisi ekonomi masyarakat masih hadapi tekanan.
Kumpulan Berita DPR RI
TINGGINYA curah hujan, merosotnya daya dukung serta daya tampung lingkungan aliran sungai yang dipicu sedimentasi dan sampah menjadi penyebab bencana banjir di Kalimantan Selatan. Hingga kini banjir yang melanda sejumlah wilayah di Kalsel masih berlangsung.
"Hulu Sungai Utara menjadi daerah yang rawan banjir saat penghujan. Berdasarkan pengamatan kami, selain tingginya curah hujan kondisi pendangkalan dan banyak sampah kayu dan plastik di badan sungai menjadi penyebab banjir," kata Pj Bupati Hulu Sungai Utara Zakli Aswan, Minggu (2/2).
Menurut Zakli, Pemkab Hulu Sungai Utara beberapa waktu lalu telah melakukan pengerukan/normalisasi aliran sungai sepanjang tiga kilometer dan mendapati banyak sampah terutama kayu dan plastik serta lumpur yang menutup badan sungai.
"Karena itu langkah penting adalah melakukan pengerukan aliran-aliran sungai dari hulu ke hilir sehingga sungai tidak meluap saat hujan," ujarnya.
Kabupaten Hulu Sungai Utara yang wilayahnya di dominasi rawa juga merupakan daerah pertemuan tiga sungai besar yaitu Sungai Tabalong, Sungai Balangan dan Sungai Nagara. Pada akhir 2024 hingga awal Januari 2025 sebagian besar wilayah Hulu Sungai Utara terendam banjir akibat meluapnya sungai dan rawa.
Senada Kepala Balai Wilayah Sungai (BWS) Kalimantan III I Putu Eddy Purna Wijaya, mengatakan banjir atau genangan bisa terjadi karena berkurangnya kapasitas sungai, topografi lahan yang relatif datar dan pengaruh pasang surut air laut ke arah hulu sungai. Kondisi ini sering terjadi di dataran-dataran rendah, seperti daerah bantaran banjir sungai, rawa, dan sejenisnya.
Secara historis, menurutnya, dengan memperhatikan topografi, lahan, curah hujan dan banyaknya sungai di Kalsel, masalah banjir harus mendapat perhatian serius dari semua pihak. "Bukan hanya penanganannya tetapi juga upaya pencegahan, pengurangan risiko serta mitigasi. Pengendalian banjir, penanganannya tergantung penyebabnya, bisa melalui normalisasi, pembuatan tanggul, pintu air, pompa, pembuatan kolam retensi atau bendungan dan lainnya," kata Putu Eddy.
Gubernur Kalsel Muhidin, saat meninjau kondisi banjir bersama Dirjen Bina Marga, Kementerian PU Roy Rizalie Anwar, berharap dukungan pemerintah pusat terkait strategi dan penanganan bencana banjir baik jangka pendek maupun jangka panjang di Kalsel.
Pantauan Media, sejak beberapa hari terakhir hujan tidak turun di wilayah Kalsel. Beberapa daerah dilanda banjir berangsur surut. Meski demikian sejumlah lokasi banjir terparah masih terendam seperti Kecamatan Sungai Tabuk, Martapura Barat dan Martapura Timur di Kabupaten Banjar. Serta Kecamatan Bati-bati dan Kurau di Kabupaten Tanah Laut.
"Ada penurunan air 10 cm hingga 20 cm, di beberapa lokasi terparah rumah-rumah warga masih terendam. Dapur umum pun masih kita dirikan seperti di Kurau dan Martapura Timur," kata Kepala Bidang Penanganan Bencana Dinas Sosial Kalsel Ahmadi.(M-2)
Jika masalah sampah tidak segera dibenahi, sejumlah TPA diperkirakan mencapai batas maksimal pada 2028.
Persoalan sampah ini harus dilakukan melalui langkah nyata dan terukur. Ini harus kita kerjakan bersama-sama
SEBAGAI bagian dari perayaan Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) 2026 yang jatuh setiap tanggal 21 Februari, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) terus melakukan berbagai inisiatif.
Tempat sampah AI Srikandi yang dikembangkan Nusabin kini memasuki fase implementasi.
PT Aviasi Pariwisata Indonesia (Persero) atau InJourney kembali menegaskan komitmennya dalam mendorong pariwisata berkelanjutan melalui aksi Beach Clean Up di Pantai Kelan, Bali.
Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq bersama jajaran KLH melanjutkan rangkaian peringatan Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) 2026.
Pada dasarian III Februari 2026, BMKG memprakirakan memprakirakan peluang hujan dengan intensitas lebih dari 100 milimeter per dasarian dengan probabilitas 80 hingga lebih dari 90 persen
CUACA ekstrem akhir-akhir ini memicu curah hujan tinggi yang meningkatkan potensi gagal panen. Pemerintah setempat mulai ancang-ancang mengantisipasi potensi tersebut.
Sedikitnya 100 hektare lahan pembibitan dan tanaman padi di sejumlah desa di Kecamatan Plumpang, Kabupaten Tuban, Jawa Timur, puso setelah berhari-hari terendam banjir.
Melihat kondisi cuaca yang masih hujan hingga saat ini, ia juga meminta Pemerintah Provinsi Jawa Tengah untuk ikut serta melakukan modifikasi cuaca.
Sementara itu, cuaca ekstrem berupa angin kencang merusak rumah warga di Bekasi dan Sukabumi.
BMKG mengimbau masyarakat serta pemda untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana hidrometeorologi, terutama banjir dan tanah longsor akibat cuaca ekstrem.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved