Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
TSUNAMI adalah gelombang laut besar yang dapat menghancurkan wilayah pesisir dalam sekejap. Fenomena ini sering kali disalahpahami sebagai ombak biasa, padahal proses terjadinya tsunami jauh lebih kompleks dan mematikan.
Sebagian besar tsunami disebabkan pergeseran mendalam di dasar laut akibat aktivitas geologis seperti gempa bumi, letusan gunung berapi, atau longsor bawah laut. Peristiwa ini menyebabkan pergeseran besar pada lempeng tektonik, yang memindahkan volume air laut secara tiba-tiba. Perpindahan air yang mendalam ini menciptakan gelombang yang bergerak dengan kecepatan tinggi menuju pesisir.
Melansir dari laman Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) dan National Geographic,
Peristiwa geologis seperti gempa bumi atau letusan gunung berapi menyebabkan pergeseran mendalam di dasar laut, memindahkan volume air secara tiba-tiba.
Gelombang yang terbentuk bergerak dengan kecepatan tinggi di lautan dalam, dengan panjang gelombang yang sangat panjang dan ketinggian yang relatif rendah, sehingga sering tidak terdeteksi oleh kapal di laut.
Saat gelombang mendekati perairan dangkal, kecepatan gelombang menurun, namun ketinggiannya meningkat secara signifikan. Proses ini dikenal sebagai 'shoaling', di mana energi gelombang terkompresi, menyebabkan gelombang menjadi lebih tinggi.
Gelombang yang telah meningkat ketinggiannya dapat mencapai daratan dengan kekuatan yang menghancurkan, membawa serta puing-puing dan menyebabkan banjir yang meluas.
Tsunami dapat menyebabkan kerusakan yang sangat besar, termasuk hilangnya nyawa, kerusakan infrastruktur, dan perubahan lingkungan dan tempat tinggal. Gelombang yang datang dengan kecepatan tinggi dan energi besar dapat menghancurkan bangunan, merusak ekosistem pesisir, dan menyebabkan kerugian ekonomi yang besar.
Mengingat potensi kehancuran yang ditimbulkan, sistem peringatan dini tsunami menjadi sangat penting. Sistem ini dirancang untuk mendeteksi aktivitas seismik dan pergeseran dasar laut yang dapat memicu tsunami, sehingga memungkinkan evakuasi dini dan mitigasi risiko bagi masyarakat pesisir.
Memahami proses terjadinya tsunami dan dampaknya sangat penting untuk meningkatkan kesiapsiagaan dan mitigasi bencana di wilayah pesisir.
Edukasi masyarakat mengenai tanda-tanda peringatan dini dan langkah-langkah evakuasi dapat menyelamatkan banyak nyawa dan mengurangi kerusakan yang ditimbulkan. (Tsunami org/BMKG/National Geographic/Z-3)
Bencana dahsyat tsunami 26 Desember 2004 silam mengajarkan para penakluk Samudera itu untuk lebih kuat, sabar dan teguh seperti karang dihempas gelombang.
DI tengah selimut duka akibat banjir besar Rabu 26-27 November lalu, kini masyarakat Aceh khusyuk dan khidmat larut dalam doa memperingati 21 tahun bencana alam tsunami.
SBY menyebut penanganan bencana banjir dan longsor di Sumatra kompleks dan membutuhkan waktu, sumber daya, serta kebijakan yang matang.
WAKIL Presiden ke-10 dan ke-12 RI Jusuf Kalla (JK) menceritakan perbedaan penanganan tsunami Aceh pada 2004 silam dengan banjir yang melanda Sumatra pada tahun ini.
Perbandingan data bencana tsunami Aceh 2004 vs banjir bandang 2025: tsunami adalah pembunuh massal yang terpusat, sementara banjir bandang adalah perusak infrastruktur yang luas.
Dalam kondisi krisis, pemimpin harus turun. Selain itu, crisis mindset dan sikap mental sense of urgency harus bisa ditanamkan.
DI tengah selimut duka akibat banjir besar Rabu 26-27 November lalu, kini masyarakat Aceh khusyuk dan khidmat larut dalam doa memperingati 21 tahun bencana alam tsunami.
Tragedi Tsunami Aceh 2004 diabadikan melalui monumen, museum, dan karya seni, termasuk dua film inspiratif, Hafalan Shalat Delisa (2011) dan Aceh: Beyond the Tsunami (2017).
Ini tujuh tsunami terbesar di dunia yang menelan banyak korban jiwa dan menyebabkan kerusakan besar, mulai dari Tsunami Lisbon (1755) hingga Tsunami Tohoku Jepang (2011).
Dua dekade setelah tsunami dahsyat melanda Aceh pada 26 Desember 2004, daerah-daerah yang dulu hancur kini telah bangkit dengan semangat ketangguhan.
Pasca-tsunami 2004, Indonesia, khususnya Aceh, memperkuat sistem mitigasi bencana dengan memperkenalkan Ina-TEWS (Indonesia Tsunami Early Warning System).
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved