Headline
Semua hasil kejahatan yang rugikan negara harus dirampas.
Semua hasil kejahatan yang rugikan negara harus dirampas.
Kumpulan Berita DPR RI
TANAMAN kakao yang dikenal dengan biji coklatnya memiliki potensi ekonomi yang bisa dimanfaatkan. Melalui kegiatan pelatihan dan pengembangan bibit tanaman kakao, warga Desa Sesait, Kecamatan Kayangan, Lombok Utara, NTB mendapatkan pembekalan terkait potensi dari nilai ekonomis kakao.
Koordinator kegiatan, Paris Tundun Mangku langit menjelaskan bahwa kegiatan pelatihan pengembangan bibit tanaman kakao merupakan bentuk perhatian khusus untuk pengembangan sektor pertanian. Pelatihan ini diharapkan dapat membawa dampak positif jangka panjang untuk perekonomian dan kesjahteraan petani kakao.
"Pelatihan dan pengembangan terkait tanaman kakao. Yang ikut ada petani kakao hingga pelaku UMKM. Tujuannya untuk mengembangkan produk-produk UMKM yang ada di desa kami," kata Paris di lokasi.
Baca juga : Pertanian Kakao Meluas, Nestle Perkuat Reboisasi Pantai Gading
Paris menekankan bahwa pelatihan tersebut mencakup berbagai aspek, melibatkan petani kakao hingga pelaku UMKM yang terlibat dalam pengolahan dan pemasaran produk olahan kakao.
Baca juga : Nilai Tukar Petani Naik Tipis, Didorong Kenaikan Harga Komoditas
Tanaman kakao, yang dikenal dengan biji coklatnya, menghasilkan produk olahan seperti coklat, bubuk kakao, mentega kakao, kue, dan sirup coklat.
Selain memberikan pelatihan, para sukarelawan juga berperan dalam memberikan bantuan bibit kakao kepada petani setempat. Langkah ini diambil untuk memperkuat sektor pertanian dan mendukung peningkatan produksi kakao di daerah tersebut.
Masyarakat setempat merespon positif kegiatan ini, menganggapnya sebagai langkah membantu meningkatkan produktivitas tanaman kakao di wilayah mereka. (Z-8)
Agenda utama pertemuan adalah pembahasan pengembangan, hilirisasi, serta potensi ekspor komoditas kakao Papua ke pasar global.
Pada 2025 (angka sementara) produksi kakao berada di kisaran 616 ribu ton, dan pada 2026 diproyeksikan naik menjadi 635 ribu ton dengan luas areal mencapai 1,38 juta hektare.
Agroforestry kakao merupakan pendekatan terpadu yang mampu merehabilitasi hutan, menjaga keanekaragaman hayati, sekaligus memberikan pendapatan berkelanjutan bagi petani.
Kakao bukan sekadar tanaman perkebunan biasa, melainkan sebuah sistem pertanian terintegrasi.
Di Lombok Utara, kelompok petani kakao di Desa Tegal Maja merupakan salah satu contoh komunitas UMKM yang sebenarnya memiliki prospek ekonomi menjanjikan.
BPDP Kementerian Keuangan fokus melaksanakan program peremajaan perkebunan kakao dengan target 5.000 hektare secara nasional pada 2026.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved