Headline
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Kumpulan Berita DPR RI
KEPALA Badan Strategi Kebijakan Dalam Negeri (BSKDN) Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) Yusharto Huntoyungo menyampaikan rekapitulasi usulan topik kajian ke Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Usulan topik kajian tersebut dihimpun dari pemerintah daerah baik di tingkat provinsi, kabupaten, hingga kota. Melalui upaya tersebut, Yusharto berharap kebijakan yang diputuskan pemerintah nantinya dapat semakin berkualitas karena sesuai dengan data dan fakta di lapangan.
Yusharto mengatakan secara garis besar sejumlah topik permasalahan yang disampaikan ke BRIN meliputi kemiskinan, stunting, ekonomi, pertambangan, perkebunan, Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM), pendidikan, kesehatan, Sumber Daya Manusia (SDM), perikanan, bahan bakar alternatif, ketahanan pangan, pelayanan publik, penanggulangan bencana, transportasi, pariwisata, pertanian, pengelolaan sampah, telekomunikasi, infrastruktur, pengangguran, peternakan dan kebudayaan.
Baca juga : emotongan Hewan Kurban di Lingkungan Kemendagri Tingkatkan ASN BerAKHLAK
Yusharto berharap BRIN dapat memberi dukungan meliputi anggaran sekaligus dukungan SDM agar usulan topik kajian yang sudah terhimpun dapat segera terlaksana. Mengingat seluruh peneliti BSKDN telah berpindah ke BRIN sesuai dengan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 78 tahun 2021 yang menyatakan semua Aparatur Sipil Negara (ASN) Peneliti di Kementerian/Lembaga harus beralih menjadi ASN di BRIN.
"Jadi kita berharap ada dukungan dari BRIN apakah dengan alokasi yang sudah tertentu, atau dengan tujuan seperti yang ada di Deputi Bidang Pembangunan dan Kebijakan BRIN saat ini ataukah dengan hiba bersaing yang coba kita usulkan lewat operasi-operasi riset yang ada di BRIN," jelasnya dalam Sosialisasi Pengisian Usulan Kajian Kebijakan dan Survei Data Dasar pada Aplikasi Website Forum Komunikasi Riset dan Inovasi (FKRI) Tahun 2023, Senin (3/7).
Baca juga : BSKDN Kemendagri Salurkan Hewan Kurban kepada Masyarakat Sekitar PLBN Motaain
Kendati tidak lagi memiliki peneliti, Yusharto menegaskan pihaknya siap berkolaborasi bersama BRIN dan pemerintah daerah untuk mengawal terlaksananya kajian sesuai dengan topik yang telah dihimpun.
Dia menambahkan, BSKDN siap membantu memberikan informasi yang dibutuhkan oleh para peneliti. Tidak hanya itu, pihaknya juga mempersilakan peneliti maupun pemerintah daerah menggunakan fasilitas infrastruktur untuk bekerja.
"Kami siap untuk kolaborasi dalam memberikan informasi dan bisa menggunakan fasilitas, fasilitas bisa gratis, kalau dalam bentuk anggaran berikut personil BSKDN sudah tidak punya peneliti lagi," tambahnya.
Yusharto berharap kolaborasi pihaknya bersama BRIN dan pemerintah daerah dapat mendukung penyelenggaraan pemerintahan baik di tingkat nasional maupun daerah menjadi lebih baik.
"Sekali lagi sangat berharap dari hasil penelitian-penelitian yang ada di BRIN bisa menjadi input untuk menghasilkan kebijakan yang berkualitas," pungkasnya. (Z-5)
Di luar kendala administratif, tantangan terbesar bagi partai pendatang baru adalah segmentasi pemilih yang sudah terkunci pada partai-partai lama.
PRESIDEN Prabowo Subianto menambah dana riset pada 2026 hingga Rp12 triliun. Hal itu disampaikan saat pertemuan dengan 1.200 guru besar, dekan, dan rektor, presiden minta kerja sama dengan BRIN
Kerusakan padang lamun di pesisir Jawa dan sebagian Sumatra berpotensi menjadi salah satu sumber emisi karbon tersembunyi terbesar di Indonesia.
Kepala BRIN Arif Satria menyatakan kesiapan riset dan inovasi Giant Sea Wall untuk mengatasi banjir rob dan penurunan tanah di Pantura Jawa.
Kerja sama dengan BRIN disebut akan menghadirkan teknologi pemeliharaan beras hasil karya dalam negeri.
Proyeksi hingga 2040 menunjukkan Sumatera menjadi wilayah paling rawan terhadap cuaca ekstrem.
Alih-alih memicu inflasi pangan, program prioritas pemerintah MBG dinilai justru akan menjadi stimulus bagi peningkatan produktivitas nasional dan penguatan ekonomi kerakyatan.
PRAKTISI ekologi dari Forum Masyarakat Katolik Indonesia (FMKI), Maria Ratnaningsih menyoroti arah kebijakan pembangunan nasional yang dinilai semakin menjauh dari prinsip keberlanjutan.
BSKDN Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) meneguhkan peran sebagai policy hub yang menjadi pusat konsolidasi pengetahuan, analisis strategis, dan rekomendasi kebijakan berbasis bukti.
Ribut-ribut soal kebijakan, prosedur, atau perubahan iklim sering kali menutupi fakta bahwa pengambil kebijakan dan pelaku perusakan alam tetap luput dari pertanggungjawaban.
Di tengah turbulensi sosial, geopolitik, dan perkembangan teknologi, institusi publik perlu memperbarui pendekatan tata kelola.
Anggota Komisi X DPR RI Nilam Sari Lawira menegaskan pentingnya Sensus Ekonomi 2026 (SE2026) sebagai pijakan utama dalam menentukan arah kebijakan pembangunan nasional.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved