Headline
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Kumpulan Berita DPR RI
KEBAKARAN hutan dan lahan (karhutla) terjadi di bukit pegunungan kawasan Desa Baet, Kecamatan Suka Makmur, Kabupaten Aceh Besar, Provinsi Aceh, sejak Minggu hingga Senin (12/6), belum juga padam. Titik api menjalar persis di lereng bukit terjal, sehingga sangat sulit terjangkau petugas pemadam kebakaran.
Sulitnya akses jalan menuju titik api menjadi kendala utama. Petugas penanggulangan bencana harus berjalan kaki dan mendaki gunung untuk sampai ke lokasi
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Aceh Besar, Ridwan Jamil, Senin (12/6), mengatakan, pihaknya harus jalan kaki untuk melakukan pemadaman secara manual. Puluhan pesonel BPBD dikerahkan untuk menjangkau lokasi. Hapannya musibah itu segera dapat dihentikan.
Baca juga: Januari-Juni 2023 Luas Karhutla 16.637 Hektare, KLHK : Turun Dibanding Tahun 2022
"Sulit menjangkau lokasi walau berjalan kaki. Karena itu sulit diperkirakan luasan yang terbakar itu" tutur Ridwan Kamil.
Sebelumnya kebakaran lahan melanda kawasan perbukitan Gle Ceurih, Kecamatan Delima, Kabupaten Pidie, Provinsi Aceh, sejak dua hari terakhir, Sabtu-Minggu (11/6). Tidak diketahui dari mana sumber api itu. Apakah ada unsur kesengajaan atau akibat percikan api dari puntung rokok.
Baca juga: Hadapi Karhutla 2023, Ini Strategi Pemerintah
Arbi, 50, seorang pemilik lahan yang beternak dan berkebun di kawasan setempat, kepada Media Indonesia, menuturkan tidak mengetahui asal muasal sumber api. Dia baru tahu hari ini ketika sijago merah telah merembes ke kebun miliknya.
"Saya baru tau tadi ketika melihat asap dari kejauhan. Begitu mengetahui langsung mencari air untuk pemadaman. Itu pun hampir merembes ke rumah dan kandang saya yang ada di kebun itu' kata Arbi.
Lebih parah lagi kebakaran tersebut juga merembes lahan kubururan umum milik Desa Lhee Meunasah. Ada puluhan makam dilokasi tersebut. (Z-3)
Menjelang 12 hari memasuki Bulan Suci ramadan 1457 H, kondisi warga penyintas banjir besar di Aceh Tengah masih sangat memprihatinkan.
Ini merupakan bentuk kepedulian USK terhadap mahasiswa terdampak sekaligus upaya meringankan beban ekonomi mereka.
Mahasiswa diingatkan agar sebaik mungkin menghindari hal-hal yang merugikan.
Untuk menutupi kebutuhan pupuk tanaman padi, mereka harus beralih ke pupuk nonsubsidi.
Sebanyak 20 sumur bor berteknologi RO dibangun di wilayah terdampak banjir Aceh untuk menyediakan air bersih dan mendukung pemulihan warga.
Dampak dari kondisi cuaca ini, kata dia, juga berpotensi terjadi gelombang tinggi yang berkisar antara 1,5 meter hingga 2,5 meter di perairan wilayah Aceh bagian barat dan selatan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved