Headline
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Kumpulan Berita DPR RI
BADAN Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memetakan wilayah yang berpotensi mengalami kekeringan dan kebakaran hutan di Bali agar bisa diantisipasi masyarakat dan pemerintah daerah memasuki puncak musim kemarau yang diperkirakan Juli-Agustus 2023.
"Kami sepuluh hari sekali memberikan peringatan dini kepada Pemprov Bali," kata Koordinator Bidang Data dan Informasi BMKG Wilayah III Denpasar I Nyoman Gede Wiryajaya seperti dilansir dari Antara, Kamis (8/6).
Sedangkan diseminasi informasi cuaca dan iklim, pihaknya rutin memberikannya kepada pemerintah daerah dan instansi terkait setiap hari. Berdasarkan pemetaan BMKG, peringatan dini kekeringan di Bali berpotensi terjadi di Kabupaten Bangli, Buleleng, Jembrana dan Karangasem.
Namun, daerah yang perlu menerapkan kewaspadaan ekstra mengingat berpotensi besar terjadi kekeringan yakni di daerah pesisir Bali bagian utara karena tidak turun hujan lima hingga 25 hari berdasarkan pengamatan per 31 Mei.
Baca juga: BMKG: Sumatra Selatan Bakal Terdampak Kekeringan, Antisipasi Lebih Dini
Lalu, daerah di Pulau Dewata yang diperkirakan mengalami curah hujan rendah di bawah 50 milimeter per 10 hari atau dasarian terjadi di seluruh wilayah yakni di Kabupaten Badung, Bangli, Buleleng, Gianyar, Jembrana, Karangasem, Klungkung, Denpasar, dan Tabanan.
Ia menambahkan curah hujan di hampir seluruh wilayah di Bali berkategori rendah dengan sifat hujan di bawah normal. "Ini dapat dipengaruhi oleh kondisi El Nino yang diprediksi mulai akhir Juli namun secara normal Juli-Agustus kecenderungan sebagian besar wilayah Bali sedang kondisi puncak musim kemarau," ucapnya.
Sementara itu, BMKG juga memetakan potensi kebakaran hutan di Bali yang diperkirakan dapat terjadi di antaranya di kawasan hutan Taman Nasional Bali Barat (TNBB) di Kabupaten Buleleng dan Kabupaten Jembrana dengan kategori sangat mudah terbakar berdasarkan pemetaan per 4 Juni.
"Kami perkirakan di Bali Barat yang memiliki potensi kebakaran hutan saat kemarau," imbuhnya. Berdasarkan Data Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup Provinsi Bali yang dikumpulkan Badan Pusat Statistik (BPS) Bali, total luas hutan di Bali pada 2022 mencapai 136.827,05 hektare.
Baca juga: Jatim Terjunkan Ratusan Petugas Cegah Karhutla di Jatim
Cakupan jenis hutan itu paling banyak hutan lindung mencapai 97.407,95 hektare atau 71,19% dari total luas keseluruhan, hutan konservasi mencapai 30.570,53 hektare atau 22,34%. Hutan konservasi itu paling banyak taman nasional mencapai 23.143,86 hektare atau 16,91%.
Berdasarkan data BPS Bali, jumlah kebakaran hutan dalam tiga tahun terakhir dari hasil statistik tahun 2018 terjadi di 11 lokasi yakni satu lokasi di Kabupaten Bangli, Karangasem (4), dan Buleleng (6). (Z-6)
Ia menjelaskan bahwa gempabumi tektonik tersebut terjadi pada 22 Januari 2026 pukul 19.42 WIB berdasarkan hasil analisis parameter terkini.
Adapun di Jakarta Timur, genangan tercatat di 16 RT yang berada di Kelurahan Rawa Terate, Bidara Cina, Kampung Melayu, Cawang, dan Cililitan.
BMKG memberikan peringatan dini cuaca berupa potensi cuaca ekstrem hingga akhir Januari 2026 mendatang. Dalam prakiraan cuaca BMKG dijabarkan analisis mengenai pemicu cuaca ekstrem.
Berbagai pengalaman menghadapi bencana alam yang telah terjadi harus menjadi pembelajaran bagi kita agar mampu memitigasi sejumlah potensi bencana di tanah air.
BMKG mengeluarkan peringatan dini status "Siaga" untuk wilayah pantura Jawa Tengah. Status ini merupakan level tertinggi yang berlaku mulai 21 hingga 31 Januari 2026.
BMKG mengeluarkan peringatan dini terkait potensi cuaca ekstrem yang diprediksi akan berlangsung selama sepekan ke depan, mulai 22 hingga 28 Januari 2026.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved