Headline
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Kumpulan Berita DPR RI
CAPAIAN imunisasi di Jawa Barat sudah berada di angka 107%. Hanya saja, ternyata masih ada kantong-kantong desa yang menolak diimunisasi.
Warga yang menolak tersebar di seluruh kota dan kabupaten di Jawa Barat.
Demikian dikatakan Kepala Bidang Penanggulangan dan Pencegahan Penyakit
(P2P) Dinas Kesehatan Jawa Barat, Rochady Hendra, seusai Gebyar Pekan
Imunisasi Dunia Jawa Barat di Gedung Bio Farma, Bandung, akhir pekan
lalu.
"Memang capaian sudah mencapai 100%, tetapi juga merata. Ketika
kita breakdown, ternyata ada kantong-katong yang menyebabkan KLB," ujar
Rochady.
Adannya penolakan warga, lanjutnya, lebih pada pengetahuan dan
sosialisasi yang belum sampai kepada mereka. Begitu pula masalah
kepercayaan yang membuat mereka tidak mau diimunisasi.
"Masih ada warga yang meyakini vaksin tidak halal, dan hoax yang
menyebar. Untuk itulah, perlu kerja lintas sektoral untuk memberikan pemahaman dan sosialisasi," kata Rochady.
Tahap dua
Dia menambahkan Pekan Imunisasi Dunia ini menjadi momentum bagi
sosialisasi kepada warga tentang pentingnya imunisasi. Termasuk
imunisasi polio yang akan diaksanakan tahap dua pada Juni mendatang.
Rochady mengatakan, imunisasi polio di Jawa Barat akan kembali
dilaksanakan secara serentak di kota/kabupaten. Sasaran penerima
imunisasi masih seperti tahap pertama sekitar 4 juta anak-anak balita.
"Kemarin kita sudah menerima. Kita sudah sebarkan informasi imunisasi
polio, termasuk tim kita juga menyasar mereka yang belum mendapatkan
imunisasi," ungkapnya.
Menurut WHO, lanjut Rochady, capaian imunisasi sudah cukup 90%, tetapi
Kementerian Kesehatan RI mematok target mencapai 95%. Jika daerah yang sudah mencapai 100% akan memulai lagi putaran kedua vaksin polio.
"Pada 15 Mei ini, daerah yang 100% sudah bisa memasuki putaran
kedua. Untuk daerah yang masih 90% kita akan mulai pada 22 Mei
mendatang, sekaligus mendapat waktu untuk melakukan penyisiran," tandasnya. (N-2)
Vaksin seperti RSV, hepatitis A, hepatitis B, dengue, serta meningokokus diberikan berdasarkan risiko tertentu.
Difteri masih berbahaya dan bisa muncul diam-diam. Kenali gejala awal, cara penularan, dan risiko fatal penyakit yang sebenarnya dapat dicegah ini.
Pemerintah memperluas imunisasi heksavalen melalui penguatan Program Imunisasi Nasional. Imunisasi terbukti efektif melindungi anak dari penyakit menular berbahaya.
Para orangtua diingatkan untuk mewaspadai penyakit umum selama masa liburan dengan melengkapi imunisasi, terutama penyakit respiratori.
Imunisasi dengan Palivizumab direkomendasikan oleh IDAI untuk mencegah bayi yang lahir prematur mengalami penurunan kesehatan karena infeksi RSV.
IDAI juga menekankan bahwa Imunisasi adalah salah satu intervensi kesehatan yang paling ‘cost-effective’ dan telah menyelamatkan jutaan nyawa anak.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved