Headline
Pelanggaran terhadap pembatasan operasional truk memperparah kemacetan.
Pelanggaran terhadap pembatasan operasional truk memperparah kemacetan.
Kumpulan Berita DPR RI
HAMPIR setiap masjid yang ada di Indonesia memiliki tradisi yang menjadi warisan turun-temurun kala Ramadan tiba. Di Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah, ada Peca, kebiasaan yang hingga saat ini masih terus dilestarikan di Masjid Raya Donggala.
Peca sebenarnya adalah penyebutan bagi beras yang dimasak bersama santan menjadi bubur santan dan ditambahkan garam sebagai penyedap rasanya. Dinikmati bersama sambal terasi, sambal ikan, atau palumara hidangan khas Sulawesi Tengah saat berbuka puasa.
"Peca ini sudah ada sejak puluhan tahun lalu, bahkan sejak saya belum
lahir," kata Sekretaris Panitia buka puasa Yayasan Masjid Raya Donggala, Safrudin.
Safrudin yang menjabat sebagai ketua bidang komunikasi dan informasi
dalam struktur kepengurusan masjid Raya Donggala menyebutkan, tradisi
menikmati Peca dipercaya untuk kebaikan pencernaan berdasarkan cerita
imam masjid Raya terdahulu.
Sekitar 1960-an silam, Peca dimasak dengan tungku kayu di halaman
samping masjid raya. Seiring waktu berjalan, lokasi memasak Peca telah
berpindah-pindah sebanyak empat kali. Nanti setelah masak barulah dibawa ke masjid, ditakar dan disajikan.
"Ini kebiasaan kita di masjid Raya Donggala sejak dari tahun 60-an ini
Peca sudah ada di Donggala sampai masa berganti masa, sampai sekarang
itu tetap dilestarikan ini Peca ini," ujar Yusuf H Wahab, pengurus
masjid Raya Donggala yang setiap tahunnya mendapat tugas untuk mengisi
Peca ke mangkuk.
Selalu cukup
Tugas itu menjadi amanat bagi Yusuf, karena kebiasaan menyendok Peca
juga diwarisi dari kakaknya. "Dulu sejak masih kecil sudah ikut
bantu-bantu untuk menyendok Peca dan sampai sekarang masih
dipercaya," tutur Yusuf.
Setelah ditakar dan diatur berjejer di lantai, Peca disantap sebagai
pembuka saat beduk masjid telah dipukul sebanyak tiga kali.
Saat ini, di bawah kepemimpinan H Umar Hamid sebagai Ketua Umum Yayasan
Masjid Raya Donggala, suasana buka puasa bersama hingga ratusan orang
akan selalu dijumpai di setiap Ramadan. Selain menggunakan dana
operasional masjid, berbagai kebutuhan seperti beras, gula, kopi, susu,
termasuk air minum, juga menjadi pemberian sukarela dari warga.
Berbuka puasa dari takjil yang diberikan jamaah masjid Raya sesuai
jadwal Ramadan, bahkan pemberian warga di luar jadwal serta menyajikan
dan menikmati Peca telah dijumpai sedari awal puasa hingga berakhirnya
puasa di bulan Ramadan.
Setiap hari pengurus yayasan masjid Raya Donggala menyiapkan 16 Kilogram beras untuk dimasak menjadi Peca, termasuk kelapa untuk diolah menjadi santan, garam, serta bahan dan bumbu-bumbu lainnya untuk dijadikan sambal.
Uniknya, berapa pun orang yang datang berbuka puasa di masjid Raya
Donggala, termasuk warga sekitar yang membawa kemasan masing-masing
untuk mengambil Peca di masjid dan berbuka puasa di rumah, tapi Peca
yang disiapkan selalu mencukupi.
Peca juga sering dijumpai di rumah-rumah warga sebagai menu sajian
berbuka puasa meskipun tidak rutin. Namun Peca dipastikan ada di
Donggala pada setiap Ramadan, karena sudah menjadi makanan favorit untuk berbuka puasa. (N-2)
Konsumsi makanan dengan kadar gula maupun garam tinggi dapat menyebabkan kulit kehilangan hidrasi dan menjadi lebih kering.
Inisiatif ini hadir sebagai solusi nyata bagi para pekerja kebun dan masyarakat sekitar dalam menghadapi lonjakan harga kebutuhan pokok yang biasanya terjadi selama bulan suci.
Suasana lingkungan yang kondusif hanya bisa tercipta jika terdapat hubungan harmonis antar pemeluk agama.
Namun, di tengah kemajuan tersebut, optimalisasi zakat nasional belum menunjukkan lompatan yang sepadan.
Rasa lapar saat puasa berkaitan erat dengan komposisi menu sahur.
Saat berbuka adalah puncak kebahagiaan setelah seharian menahan lapar dan haus.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved