Kamis 10 November 2022, 16:03 WIB

Peringati Hari Pahlawan, LaNyalla Ingatkan Semboyan Merdeka atau Mati

mediaindonesia.com | Nusantara
Peringati Hari Pahlawan, LaNyalla Ingatkan Semboyan Merdeka atau Mati

Ist
Ketua DPD RI AA LaNyalla M Mattalitti berbicara saat peringatan Hari Pahlawan di Surabaya, Jawa Timur, Kamis (10/11).

 

PERINGATAN Hari Pahlawan 10 November harus dimaknai dengan mengingat kembali pilihan kata yang diucapkan para pejuang kemerdekaan, yaitu 'merdeka atau mati'. Demikian dikatakan Ketua Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI) AA LaNyalla Mahmud Mattalitti di Surabaya, Jawa Timur, Kamis (10/11).
 
Semboyan merdeka atau mati, lanjut LaNyalla, mungkin terasa absurd bagi generasi muda saat ini. Padahal, slogan itu merupakan wujud kerelaan para pejuang demi kemerdekaan. Demi kecintaan mereka kepada Tanah Air. Dan demi satu harapan mulia, yakni agar tumbuh generasi yang lebih baik.
 
"Tetapi apa yang tumbuh hari ini? Yang tumbuh subur adalah oligarki ekonomi yang menyatu dengan oligarki politik, yang menyandera kekuasaan agar berpihak kepada kepentingan mereka," tandas LaNyalla.
 
Karena itu, tambah Senator asal Jatim ini, dirinya terus meresonansikan pentingnya kesadaran kolektif berbangsa kepada seluruh elemen bangsa ini. Bahwa kedaulatan rakyat harus kita rebut kembali. Karena rakyat adalah pemilik sah negara yang dipenuhi darah para pejuang ini.


Baca juga: Pemuda Papua Harus Meneladani Nilai-nilai Perjuangan Ramses Ohee


"Dan kedaulatan hakiki serta kesejahteraan rakyat, hanya dapat diraih melalui sistem demokrasi dan sistem ekonomi Pancasila. Yang telah kita tinggalkan demi demokrasi liberal yang tidak sesuai dengan DNA dan watak dasar bangsa ini," tukasnya.
 
Karena itu, mantan Ketua Umum PSSI itu mengajak semua generasi muda, untuk membaca kembali pikiran-pikiran para pendiri bangsa. Serta kembali menyelami suasana kebatinan para patriot bangsa itu.
 
"Jauh sebelum Indonesia merdeka, Ki Hajar Dewantoro sudah mengingatkan, jika anak didik tidak kita ajar dengan kebangsaan dan nasionalisme, maka di masa depan, sangat mungkin mereka akan menjadi lawan kita," katanya.
 
Karena penghancuran ingatan kolektif suatu bangsa dapat dilakukan dengan metode non-agresi militer. Namun dengan memecah belah persatuan, menguasai dan mengendalikan pikiran warga bangsa, agar tidak memiliki kesadaran, kewaspadaan, dan jati diri.
 
"Dan sekarang kita menjadi bangsa yang terpolarisasi. Bangsa yang terbelah. Dan tidak mempunyai karakter serta jati diri. Karena bangsa ini dipenuhi buzzer yang menggunakan narasi kebencian dan penghinaan kepada sesama anak bangsa," pungkasnya. (RO/OL-16)
 
 

Baca Juga

Dok. Pertamina

Menteri Erick Thohir Apresiasi Gerak Cepat BUMN Kompak Bantu Korban Gempa Cianjur

👤Mediaindonesia.com 🕔Sabtu 26 November 2022, 15:14 WIB
Erick menambahkan, dengan hadirnya BUMN, diharapkan bisa membantu meringankan duka yang dialami para korban penyintas...
ANTARA

Tim SAR Temukan Lagi 4 Jenazah Korban Gempa di Cijedil

👤Mediaindonesia.com 🕔Sabtu 26 November 2022, 15:00 WIB
Tim SAR Resimen II Pasukan Pelopor Korps Brimob Polri menurunkan 26 personel ke Kampung Cugenang, Desa...
ANTARA FOTO/RAISAN AL FARISI

Hari Keenam Pencarian, Tim SAR Temukan 4 Jenazah di Desa Cijedil Cianjur

👤mediaindonesia.com 🕔Sabtu 26 November 2022, 14:07 WIB
Penemuan jenazah di wilayah RT 03 RW 01 Kampung Cugenang, Desa Cijedil di hari keenam pencarian setelah gempa magnitudo...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya