Headline
Pemerintah utamakan menjaga kualitas pendidikan.
Kumpulan Berita DPR RI
PEMERINTAH Provinsi Sulawesi Tengah terus bekerja untuk menurunkan angka stunting. Seluruh kepala daerah di Sulteng itu diminta untuk fokus melakukan pencegahan dan penanggulangan stunting.
Gubernur Sulteng, Rusdy Mastura mengatakan, keseriusan dan komitmen seluruh kepala daerah menjadi penting untuk penurunan angka stunting. "Karena kalau kepala daerahnya tidak serius, pencegahan dan penanggulangan stunting di wilayahnya pasti tidak akan jalan dengan maksimal, sehingga stunting tidak akan hilang," terangnya, Senin (8/8).
Menurut politisi NasDem itu, kepala daerah yang ada di 12 kabupaten dan satu kota di Sulteng harus bersinergi dengan sejumlah pihak dan memanfaatkan segala potensi yang ada di daerahnya masing-masing. "Saya yakin kalau kita serius, kita fokus, penurunan angka stunting itu bisa terjadi," tegasnya.
Rusdy menjelaskan, hasil survei status gizi Indonesia 2019, prevalensi stunting di Sulteng sebesar 31,26 persen, di atas rata-rata nasional sebesar 27,67 persen. Sedangkan pada 2021, prevalensi stunting di Sulteng turun menjadi 29,7 persen, masih di bawah rata-rata nasional sebesar 24,4 persen.
"Sementara target RPJMN tahun 2024 sebesar 13,0 persen, dan untuk target RPJMD sampai dengan 2026 adalah sebesar 8 persen," ungkapnya.
Mantan Wali Kota Palu dua periode itu menyebutkan, target tersebut harus dicapai sehingga Sulteng kedepan bisa bebas dari stunting. "Meski bukan saya lagi gubernur mendatang, stunting harus bisa hilang di Sulteng," pintanya.
Rusdy menambahkan, Rembuk Stunting menjadi salah satu tahapan penting dalam rangkaian delapan aksi vonvergensi percepatan penurunan stunting, sekaligus membangun komitmen sesuai amanah Peraturan Presiden nomor 42 tahun 2013 tentang Percepatan Perbaikan Gizi. "Tentu saya menyambut baik kegiatan Rembuk Stunting yang belum lama ini digelar di Palu. Semoga target bisa kita penuhi," tandasnya. (OL-15)
Kenaikan angka ini, berdasarkan hasil evaluasi dan pencatatan pelaporan berbasis masyarakat (PPGM)
MESKI sudah puluhan tahun berusaha diatasi, persoalan malanutrisi hingga kini masih menjadi tantangan tersendiri.
PBB menyebut Gaza menghadapi krisis kelaparan terburuk dengan lebih dari 20 ribu anak alami gizi buruk.
KRISIS gizi di Jalur Gaza, Palestina, mencapai titik kritis dengan lonjakan kematian yang mencolok sepanjang Juli 2025. Hal itu diungkapkan WHO dalam laporan terbaru yang dirilis 27 Juli 2025.
Data juga menunjukkan 1,4 juta perempuan hamil dan menyusui mengalami malnutrisi.
Setiap 25 Januari, Hari Gizi Nasional diperingati untuk memberikan kesadaran pentingnya gizi seimbang bagi pertumbuhan dan perkembangan anak.
Persepsi ini lahir dari cara pandang lama yang mengabaikan prinsip gizi seimbang. Padahal ukuran kesehatan tidak bisa hanya dilihat dari tampilan fisik semata.
Paparan gawai pada fase krusial pertumbuhan (usia 5 hingga 15 tahun) berisiko memicu gangguan tumbuh kembang yang menetap hingga dewasa.
Skrining pendengaran pada anak sejak dini menjadi kunci vital dalam menjaga kualitas hidup dan fungsi komunikasi buah hati.
Fungsi pendengaran memiliki kaitan erat dengan kemampuan bicara anak.
Orangtua diimbau untuk tidak membawa anak ke tempat yang terlalu padat guna meminimalisir risiko infeksi.
Kunci utama keberhasilan aturan pembatasan gawai bukan hanya pada larangan, melainkan pada keteladanan orangtua sebagai role model.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved