Headline
Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.
Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.
Kumpulan Berita DPR RI
SEORANG bocah, 11, siswa kelas 5 sekolah dasar (SD) di Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, menjadi korban bully atau perundungan yang dilakukan teman-temannya. Ia dipaksa untuk menyetubuhi seekor kucing, dan aksinya itu divideokan yang kemudian menjadi viral di media sosial.
Akibat peristiwa mengenaskan itu, korban mengalami depresi. Ia menjadi pemurung, tidak mau makan dan minum. Korban kemudian dibawa orangtuanya berobat ke rumah sakit, namun meninggal dalam perawatan di RS Singaparna Medika Citrautama (SMC) Kabupaten Tasikmalaya.
Psikolog yang juga dosen Universitas Muhammadiyah Tasikmalaya (UMT) Biro Psikologi Solusi dan Harapan Bunda Therapy Center, Rikha Surtika Dewi, menyayangkan kasus viralnya seorang bocah yang tewas akibat depresi setelah dipaksa teman-temannya menyetubuhi seekor kucing.
Menurut Rikha, peristiwa itu sangat miris. Penyebab awal terjadinya kasus tersebut, lanjut dia, lantaran si anak yang menjadi korban selalu dianggap sepele selama ini di masyarakat, baik di perkotaan maupun perkampungan, dengan istilah di-poyok atau diejek (di-bully).
"Kasus bullying semakin parah, bully memang tidak hanya fisik tetapi perkataan, psikologis, perilaku itu bisa. Dan fenomena sekarang ada pergeseran budaya dengan masifnya media sosial. Namun, sebenarnya bully sejak dulu sudah ada dengan istilah di-poyok (diejek) dan selalu dianggap sepele di lingkungannya," katanya saat dihubungi, Kamis (21/7).
Ia mengatakan, kasus perundungan yang terjadi sekarang telah bergeser dari kebiasaanya dan menjadi bahan keseharian terutama pergaulan anak di lingkungannya seperti halnya anak dengan anak, dewasa dengan anak dan malah banyak dicontohkan di konten viral media sosial.
Malah, menurut Rikha, yang membuat semakin miris budaya perundungan tersebut malah dibuat dengan sengaja untuk divideokan hingga disebarkan di medsos agar viral untuk mendapatkan uang atau dikomersialisasikan.
Baca juga: Hukuman bagi Bocah Perundung di Tasikmalaya Harus Berjalan
"Dengan cara mengejek, menjatuhkan orang lain, dan menganggap orang lain bodoh itu seolah dengan makna pergaulan anak yang biasa. Karena, sebetulnya anak-anak itu dicontohkan orang-orang dewasa di dekatnya. Juga anak sekarang sudah bebas di media sosial dan mencontoh orang dewasa yang selalu mengejek ke orang lain dicontoh juga oleh anak-anak," ujarnya.
Menurutnya, kasus yang dianggap sepele ini sangat berpengaruh terhadap kondisi anak seperti psikologis, kejiwaan para korban, atau orang yang menjadi korban bully. Namun, kondisi anak paling parah akan mengalami depresi, penurunan kepercayaan diri, hingga akhirnya bisa meninggal seperti kasus yang terjadi di Kabupaten Tasikmalaya.
"Kasus bully sekarang banyak contoh dan hit serta malah dikonsumsi sebagai entertaint buat konten bully dan terkadang kita sudah mendengar di kalangan anak-anak dan dewasa kalau tidak bully nggak best friend. Kasus yang terjadi terhadap anak dianggap sepele dan kadang di rumah sendiri itu terjadi seperti itu seperti orang dewasa, orangtua, atau orang yang ditemui di lingkungan dekatnya," katanya.
Rikha mengatakan, pihaknya pun banyak menemukan klien bully baik di sekolah, lingkungan sekitar, sampai di tempat anak-anak beraktivitas atau bermain dan seharusnya orang dewasa bisa mencontohkan mana batasan bully sampai mana batasan candaan serta tak hanya asal bicara tanpa mempertimbangkan perasaan yang diejek. Karena, selama ini ada banyak faktor terkait kejadian tersebut.
"Faktor yang telah terjadi memang banyak seperti bagaimana orangtua memberikan pengasuhan benar buruk di rumah, orangtua yang membesarkan kita. Jadi asal lihat dewasanya akan dicontoh atau bullying di sekitarnya sehingga anak akan berpikir bahwa oh hal itu sepele dari bibir orangtua terlontar bully dan anak akan menganggap kalau gitu tidak apa-apa dan tetap harus dicontohkan," pungkasnya. (OL-16)
Psikolog Michelle Brigitta membagikan tips mengatasi post holiday blues pada anak, mulai dari validasi emosi hingga mengatur ulang rutinitas harian.
Psikolog Sani B. Hermawan menyarankan anak di bawah 16 tahun berkolaborasi di akun orangtua guna mematuhi PP Tunas dan menjaga keamanan digital.
Psikolog UI Prof. Rose Mini dan Alva Paramitha menyarankan orangtua kreatif berikan alternatif kegiatan nyata untuk kurangi ketergantungan gawai anak.
Penggunaan gawai justru memutus kebutuhan stimulasi tersebut karena sifatnya yang searah. Anak cenderung hanya menjadi peniru pasif tanpa memahami makna di balik kata-kata yang didengar.
Jika orangtua melarang anak bermain ponsel namun mereka sendiri sibuk dengan perangkatnya, hal itu akan mengirimkan pesan yang bertentangan bagi anak.
Anak-anak adalah peniru ulung yang belajar dari apa yang mereka lihat sehari-hari.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melanjutkan program sekolah swasta gratis dengan menambah jumlahnya menjadi 103 sekolah pada tahun ajaran baru 2026/2027.
Guru kelas 1 UPTD SDN Sawah 01, Mulyani, mengungkapkan dirinya telah mengabdikan diri mengajar di sekolah tersebut selama lebih dari 30 tahun.
Wali kota memerintahkan adanya audit terhadap sistem pengawasan fisik maupun non-fisik guna memastikan tidak ada lagi celah bagi tindakan menyimpang di lingkungan sekolah.
WAKIL Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Fajar, mengajak anak-anak Indonesia untuk berempati dan peduli kepada masyarakat yang terdampak bencana Sumatra.
BADAN Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) memberikan 120 Buku Teks Utama (BTU) Pendidikan Pancasila kepada sekolah jenjang pendidikan Dasar dan Menengah di Kota Singkawang
Pelajar sekolah dasar (SD) di tiga desa yang berada di Morowali Utara yaitu Desa Bunta, Bungintimbe, dan Tanauge mendapatkan bantuan sepatu dan tas sekolah
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved