Headline
Ada kelompok yang nyaman dengan kelakuan lama, ingin intervensi meski tak lagi berkuasa.
Ada kelompok yang nyaman dengan kelakuan lama, ingin intervensi meski tak lagi berkuasa.
Kumpulan Berita DPR RI
PROVINSI Kalimantan Selatan (Kalsel) merupakan salah satu wilayah zona merah bencana hidrometeorologi seperti banjir, tanah longsor, angin kencang dan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla). Setiap tahun Kalsel dikepung bencana.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana (BPBD) Kalsel, Mujiyat, Selasa (26/4), mengatakan sepanjang Januari-April 2022 terjadi 133 kali bencana di Kalsel. "Bencana terjadi di 13 kabupaten/kota yang didominasi bencana hidrometeorologi berupa banjir, tanah longsor, angin kencang dan karhutla," ungkapnya.
BPBD Kalsel juga mencatat sepanjang Januari-April 2022 terjadi 153 kali bencana terdiri dari 55 kali peristiwa angin kencang, 53 kali bencana banjir dan 10 kejadian tanah longsor. Sedangkan memasuki musim kemarau tahun ini tercatat 15 kali karhutla dengan luas lahan terbakar
memcapai puluhan hektar.
Ratusan kejadian bencana ini menyebabkan 23.480 warga terdampak bencana, dan 3 orang meninggal dunia. Sebanyak 13.657 rumah terendam banjir, 243 buah rumah rusak serta 44 fasilitas umum sekolah, perkantoran dan tempat ibadah juga mengalami kerusakan ringan hingga berat.
Direktur Eksekutif Walhi Kalsel, Kisworo Dwi Cahyono, menyebut bencana itu adalah dampak dari perubahan iklim atau pemanasan global yang merupakan akumulasi dari kerusakan lingkungan seperti eksploitasi pertambangan, kebakaran hutan dan lahan, pembakaran bahan bakar fosil, PLTU
Batubara, perkebunan monokultur skala besar, dan bentuk eksploitasi alam lainnya.
"Pembukaan lahan tambang batubara merombak tata air alami dan merusak kualitas air dan menjadi salah satu penyebab utama banjir," ungkap Kisworo.
Isu aktivitas tambang dan kerusakan lingkungan ini juga menjadi agenda yang disuarakan Walhi Kalsel bersama sejumlah organisasi lingkungan dan sosial lain di Kalsel pada peringatan Hari Bumi 22 April 2022, kemarin.
Menurut catatan Walhi Kalsel, bencana banjir pada awal 2021 lalu menyebabkan 24 orang meninggal, dan lebih dari 113.000 orang terpaksa mengungsi. Kerugian akibat bencana sangat besar. (OL-13)
Baca Juga: Hingga H-7, KAI Berangkatkan 291 Ribu Pemudik
Perubahan iklim global kini menjadi realitas ilmiah yang tidak terbantahkan dan berdampak langsung pada meningkatnya risiko bencana di berbagai wilayah, termasuk Sumatra.
GERAKAN Pemuda (GP) Ansor kembali mendistribusikan bantuan terhadap korban terdampak bencana banjir di Kabupaten Pekalongan.
Grup UT akan terus memantau perkembangan situasi di wilayah terdampak serta memperkuat sinergi dan koordinasi dengan berbagai pemangku kepentingan, termasuk pemerintah daerah
Peninjauan banjir Pekalongan dilakukan untuk memastikan keselamatan warga terdampak sekaligus mengecek kesiapan penanganan banjir secara berlapis.
Berdasarkan penelusuran Media Indonesia, Sabtu (17/1) di Kabupaten Aceh Tamiang, Provinsi Aceh misalnya, ratusan ribu penyintas banjir masih krisis kebutuhan dasar.
BNPB bersama kementerian/lembaga, pemerintah daerah, unsur TNI/Polri, serta mitra swasta terus mempercepat pembangunan hunian sementara (huntara) di Aceh Tamiang.
Pada awal 2026, Indonesia masih merasakan pengaruh fenomena La Nina.
Intensitas hujan tinggi yang terjadi di berbagai daerah harus diwaspadai bersama dan masyarakat tetap selalu meningkatkan kesiapsiagaan hingga kewaspadaan.
BPBD juga mengingatkan warga untuk mengantisipasi potensi kekeringan serta kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
BMKG mengimbau warga di sembilan kabupaten/kota di Sulawesi Utara mewaspadai potensi bencana hidrometeorologi hingga 12 Agustus 2025.
Ravidho Ramadhan menempuh program Doktoral di Program Studi Fisika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) UGM itu menjadi doktor termuda
BRIN melalui Pusat Riset Geoinformatika bersama PT. Urban Spasial Indonesia mengembangkan pemanfaatan teknologi Light Decection and Ranging (LiDAR) untuk pemetaan kebencanaan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved